13 || Gabung kelas?

14 6 0
                                    

Cerita pertama gan, maaf ya kalo ada typo. kalau ada kesamaan tokoh ataupun alur, baca dulu sampai abis baru nyimpulin ya, thank you manis

***

Pagi di hari rabu yang langsung dimulai dengan Matematika perminatan sangat meresahkan bukan? Padahal gak ada yang minat loh, kok bisa gitu ya namanya matek perminatan.

Anara dengan perasaan dongkolnya memasuki kelas. Moodnya sedang jelek karena motor kesayangannya kembali bermasalah dengan aki. Padahal masih bagus kok, tapi kayanya bermasalah mulu gitu ya.

Saat Ia baru saja duduk dikursinya, Ia tersentak kaget saat sebuah tangan memukul mejanya. Tidak terlalu keras, tapi ya cukup untuk mengejutkan seseorang.

"Lo ngapain sih?"

"Gue duduk disini."

"Hah?"

"Kelas gua digabungin sama kelas lo."

"Kok bisa?"

"Sebagian guru lagi ikut pertukaran ke Bogor, Jadi dari pada jamkos trus ribut, malah di gabungin." Jelasnya panjang lebar.

"Tapi itu kursinya Sara." Ujarnya yang sebenarnya menolak.

"Sara duduk sama Vio di belakang lo." Jawabnya enteng. Semuanya sudah Ia urus dari awal saat kabar gembira itu terdengar di telinganya.

"Ish terserah deh!"

Al yang merasa keanehan terjadi pada gadis disebelahnya ini hanya bersabar dalam hati. Kodratnya cowok itu selalu salah. Jadi tabah adalah jalan keluar paling pas.

"Lo kenapa deh Nar?" Tanya Al yang masih mencoba mengorek informasi.

"Aki gue, bermasalah mulu!" Sentaknya kesal.

"Aelah, itumah gampang. Bawa aja ke markas Bragos, nanti diurus disana." Sarannya. Anak motor tidak tau memperbaiki motor? Tidak mungkin brodi! Sebagian anak Bragos itu kerja paruh waktu di bengkel, jadi masalah itu pasti sangat mudah diatasi.

"Beneran?" Wajah Anara berubah sumrigah seperti baru saja menemukan harta karun. Al yang melihat itu hanya terkekeh kemudian mengacak rambut Anara pelan.

Anara yang ingin protes menahan mulutnya agar tidak ceplas ceplos. Ia tidak mau penawaran bengkel gratis dari ketua Bragos itu sendiri hangus. Sedangkan siswa-siwi yang berada di dalam kelas itu hanya mengedus iri.

ingat kata mimin lambesmabun
'Jangan iri, jangan dengki!'
kalo kata Raka beda lagi, 'Mana sempat, keburu makan ati!'
Kadang Al sempat berpikir admin lambesmabun itu sahabatnya sendiri, tapi ada kemungkinan enggak mungkinnya juga. Ah sudahlah.

Bunyi bel masuk menggema dipenjuru sekolah. Para murid pun segera duduk di tempatnya masing-masing. Pak Tomi, si guru matematika dengan kumis tebal kebanggaannya itu mulai masuk kedalan kelas.

"Selamat pagi anak-anak."

"Pagi pak!" Seru siswa-siswi kelas itu serempak.

"Pagi ini, bapak ingin mengetes kemampuan nalar pikir kalian. Jadi dua orang dari kalian harus membuat soal tentang pertidaksamaan linear dua variabel, kemudian keduanya mengerjakan soal yang lainnya. Jadi misalnya Stava buat 1+1, Rani buat 2+2, nantinya Rani mengerjakan milik Stava, dan Stava mengerjakan milik Rani. Paham?" Jelas Pak Tomi panjang lebar.

"Paham pak." Sahut Murid sekelas itu serempak kembali.

"Siapa yang mau menjadi perwakilan?" Tanya pak Tomi saat selesai memberikan sedikit penjabaran tentang materi yang akan beliau ajar kali ini.

"Anara sama Al aja pak!" Itu suara Raka. Anak itu memang suka cari mati. Untung otak Anara dan Al tidak usah diragukan lagi, kalau tidak? Sampai jumpa lagi dunia.

"Baik, Al dan Anara silahkan maju." Panggil Pak Tomi menanggil kedua murid kebanggan sekolah tapi pembawa catatan merah terbanyak juga, gimana ya sebutnya, Gitu intinya.

Soal yang dibuat Anara dan Al rupanya mirip. Hal itu mempermudah keduanya dalam mengerjakan soal tersebut.

"Baik Anara, kerjakan soal Al. Dan Al, kerjakan soal Anara." Jelas pak Tomi memperhatikan kedua muridnya mengerjakan masing masing soal.

Al yang mengerjakan soal pemberian Anara lebih dahulu selesai. Matematika memang basicnya. Membaca soalnya tanpa berpikirpun Ia sudah tau jawabannya. Katanya sih dia ada turunan Albert Einsten.

2(8i - 5u) < 3(5i + (-2u))
16i - 15i < 10u - 6u
i < 4u

Hasil kerja Al dari soal yang diberikan Anara. Senyumnya merekah sedari tadi saat mengerjakan soal tersebut. Bahkan kalau kelas sangat hening, mungkin semua orang didalam kelas itu dapat mendengar detak jantungnya.

Kondisi Anara juga tidak jauh berbeda dengan Al. Pipi gadis itu bersemu merah. Bahkan tangannya dingin menahan dirinya untuk tidak salah tingkah.

6x + 8i < 6(x + 4u)
6x + 8i < 6x + 24u
8/8i < 24/8u
i < 3u

"HALAH TOKEK ORANG BELAJAR BUKAN GOMBAL!" Gerutu Raka yang jiwa jomblonya meronta ronta. Perasaannya sudah tidak enak sejak membaca soal yang dibuat Al dan Anara. Dan hasilnya benar bukan?

"Heh Raka, ucapan kamu!" Tegur pak Tomi saat Raka mulai mengeluarkan kata kata mutiaranya.

Anara dan Al yang sudah duduk dikursi masing masing hanya saling tatap memperhatikan hasil kerja mereka. i for u dari Anara untuk Al, dan i love u dari Al untuk Anara.

"Al?"

"Ya?" Jawab Al tanpa menoleh. Ia masih terfokus pada dua soal dan jawaban di papan tulis.

"138, tapi pake 'H'"

"H or L?"

"H, Al."

"Sure? Hate or Love, hm?"

"Pikir sendiri!"

****

jangan lupa vote nya brodi! see u next part yaw!

HATE OR LOVETempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang