32 || Anaranya Alfikra

4 2 0
                                    

Cerita pertama gan, maaf ya kalo ada typo. kalau ada kesamaan tokoh ataupun alur, baca dulu sampai abis baru nyimpulin ya, thank you manis.

*****

You and I
We're like fireworks and symphonies explonding in the sky
With you, I'm alive
Like all the missing pisces of my heart, they finally collide.
So stop, time right here in the moonlight
'cause i don't ever wanna close my eyes.

Without you, I feel broke
Like I'm half of a whole
Without you, I've got no hand to hold
Without you, I feel torn
Like a sail in a storm
Without you, I'm just a sad song
I'm just a sad song

---- Dari Al, untuk Anara

*****

Satu minggu berlalu sejak latihan bersama, tidak ada satupun anggota Bragos yang berniat melanjutkan latihan tahap dua. Menyiksa batin, hati, perasaan, otak, mata hati sampai mata kaki.

Bahkan Al sendiri pun enggan melanjutnya sekalipun Anara yang akan menjadi pelatihnya.

"Anara,"

"Nar."

"Anaraaa."

"Anaranya Alfikra." Wajah gadis itu memanas. Mendengar Al yang memanggilnya seperti itu sangat tidak baik untuk kinerja jantungnya.

"Cie salting."

"Enggak ya!"

"Iyakan?"

"Enggak Al."

"Iya."

"Gak. Inget ya Al. Cewek itu selalu benar."

"Tapi cewek akan salah didepan guru, right?"

"Ih beda konsepnya itu!"

"Sama, sayang. Nih dengerin."

1. Cewek selalu benar
2. Guru lebih benar dari cewek
3. Bunda lebih benar dari anak cewek
4. Cowok selalu salah

"Gitukan?"

"AL ITU SALAH, CUMA DUA HUKUM."

1. Cewek selalu benar
2. Kalau cewek salah, kembali ke nomor satu.

"Gitu yang bener."

"Ya udah coba kamu debat sama pak Tomi, siapa yang menang."

"Kalau aku menang gimana?"

"Palingan nilai kamu dipotong sama pak Tomi."

"AL!"

*****

Setelah perdebatan tentang siapa yang selalu benar, Anara memutuskan untuk mengisi perutnya di kantin yang tentunya ditemani Al.

Selama satu minggu ini, Sara selalu masuk kelas namun memilih pindah tempat duduk. Saat berpas-pasan pun keduanya tidak saling menyapa. Semuanya terasa asing sejak saat itu. Sara juga dengan tegas dikeluarkan dari Stamrat dan tidak dianggap lagi dalam persahabatannya bersama Vio dan Anara.

Sejauh ini, tidak ada yang mau bergaul dengannya. Sara masuk kelas unggulan itu karena dekat dengan Anara. Namanya bisa terkenal seangkatan dan bahkan kakak kelas dan adik kelasnya pun mengenalnya karna Anara. Namun semenjak Ia berhenti bergaul dengan Anara, satu sekolahpun rasanya enggan berteman dengannya.

Segitu besarnya evek seorang Anara.

Baik dan ramahnya, pintar, berprestasi, dan cantik adalah point utama yang membuat gadis itu disegani semua orang. Namun anehnya, bisa-bisanya seorang Sara yang notabennya sahabatnya sendiri berhianat.

"Pagi kak Nara."

"Pagi dek." Balas Anara sembari tersenyum. Kasih baik dibalas baik. Begitu bukan?

Anara yang sudah duduk dikursi kantin hanya perlu menunggu makanannya datang. Al tidak mau Anara mengantri karena banyak cowok modus yang akan menyentuh gadisnya entah sengaja atau tidak. Anara dengan senang hati mengiyakan karena ia pun malas berdesak-desakan.

"Satu porsi batagor dan es jeruknya tuan puteri." Al datang dengan makanan ditangannya, kemudian mengambil posisi disamping Anara.

"Kamu gak makan?"

"Enggak, nanti aja."

"Kenapa?"

"Abis ini mau main basket, mau nonton?"

"Mau!!" Jawab Anara antusias. Dulu mungkin Ia malas menonton latihan-latihan seperti itu karena rasa ingin bergabung itu terus muncul, sedangkan diluar anggota dilarang bergabung. Tapi kalau sudah punya orang dalam kaya gini, apa sih yang enggak?

"Habisin dulu makanannya, abis itu kita langsung ke lapangan." Ujar Al menginterupsi. Ia tau Anara sangat ingin bermain basket bersama tim sekolah, namun tidak diijinkan sedari dulu, dan kali ini Ia akan mengijinkannya.

Setelah menghabiskan satu porsi batagor dan segelas es jeruk itu, Anara langsung mengajak Al pergi kelapangan indor Smabun untuk bermain basket. Tangannya sudah gatal untuk memantul mantulkan bola orange kemudian memasukannya kedalam keranjangnya.

"Soal bela diri lawan kamu aku bisa kalah, tapi untuk basket boleh di coba." Pede Al merasa bangga. Menurutnya basket itu sudah terlalu melekat pada dirinya. Tapi boleh lah kita coba pada gadis multitalenta didepannya.

"Soal pede boleh kalah, soal skil mari kita coba." Balas Anara tidak mau kalah. Gini-gini Ia pernah latihan basket beberapa kali, jadi tidak mungkin kemampuannya dalam bermain basket tidak ada.

Al hanya tersenyum sekilas membalas perkataan Anara, berhubung ini hari jumat, jadi mereka tidak perlu ganti baju lagi.

Al mulai menggiring bola, Anara menghadangnya. Al melempar bolanya keatas, kemudian berlari melewati Anara dan menangkap bolanya kembali. Melangkah tiga kali kemudian melakukan lay up, satu point berhasil diberikan Al.

Anara memanyunkan bibirnya kedepan. Ia tidak terima Al menang begitu saja. Anara kembali berlari berusaha mengambil bola yang berada ditangan Al. Dan kali ini berhasil. Anara menggiring bola dengan cepat menuju kesisi lapangan yang satunya. Ia berusaha melakukan tembakan tiga point, dan berhasil!!

Sudah Anara bilang bukan, skilnya bisa dicoba.

Al melongo ditempat. seorang cewek bisa melakukan tembakan tiga point semudah itu?

"Al, temen kamu udah dateng semua, aku mau ke kantin beli minum dulu. Nanti balik lagi."

"Kalo ada yang modusin kamu di kantin kasih tau aku."

"Siap pak bos!"

Sepergian Anara meninggalkan lapangan basket indor, suara seseorang menghentikan langkah Al.

"Alfikra, gue mau bicara sama lo."

"Mau lo apa?"

*****

see u next part!! jan lupa vote nya yaw

HATE OR LOVETempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang