18 || Darah!!

14 4 0
                                    

Cerita pertama gan, maaf ya kalo ada typo. kalau ada kesamaan tokoh ataupun alur, baca dulu sampai abis baru nyimpulin ya, thank you manis.

****

"H-2." Gumam Anara saat melihat tanggal diponselnya. Moodnya sangat tidak bagus pagi ini. Dengan keterpaksaan yang sangat dipaksakan, Anara melangkahkan kakinya menuju motor kesayangannya kemudian menjalankannya menuju sekolah. Toh, penyamarannya sebagai queen sudah ketahuan.

Sebenarnya Al sudah berjanji akan menjemputnya, tapi moodnya sangat tidak bisa dikondisikan. Bawaannya pengen bunuh orang tapi dosa.

Tak butuh waktu lama Anara sudah sampai di sekolah. Seluruh siswa siswi yang berada diparkiran menatap Anara. Ada yang kagum namun ada juga yang mencibirnya. Caperlah dan sebagainya.

'Gila cewek loh padahal.'

'Gak ada obat lah! Udah cantik, pinter, mandiri, calon istri idaman!'

'Ew caper kaya gitu?'

'Gitu doang juga banyak yang bisa kali'

"Oh ya? Kalo lo bisa ayo balapan." Ujar Anara menantang. Enak saja mau meremehkan seorang Anara? Oh tidak bisa.

Siswi yang tadi mencibir Anara gelagapan. Bawa motor matic saja tidak bisa apa lagi motor segede itu? Abis riwayatnya.

"Apa? gak bisa kan? Makanya hidup lo benerin dulu. Atau hidup lo udah gak bener dan terlalu susah buat dibenerin jadi mau ngurus hidup orang lain aja?" Sudah di bilang, mood Anara itu sedang sangat tidak bagus. Mampuskan kena semprot!

Melihat tidak ada pergerakan dari lawan bicara, Anara melanjutkan langkahnya menuju kelasnya. Hatinya mulai sedikit tentram karena sudah mengeluarkan sedikit emosinya pada siswi diparkiran tadi. Walaupun meresahkan, tapi gak papa deh.

Anara menumpukan kedua tangannya diatas meja kemudian menelungkupkan kepalanya. Perutnya mulai nyeri. Dan sepertinya Anara tau gejala ini. Sialnya Ia lupa memakai pembalut.

Al berlari sepanjang koridor mencari Anara. Kesal karena gadis itu tidak mau menunggunya. Padahal kemarin yang mengajaknya berangkat bersama itu Anara, bukan Al.

Saat Al membuka pintu kelas sebelas, Ia menyipitkan matanya saat melihat seorang gadis tengah memegang perutnya sambil menelengkupkan kepalanya diatas meja. Langkah kakinya mengarah pada tempat duduk gadis itu kemudian mengambil posisi di sampingnya.

"Nar, lo kenapa?"

"Al, beliin gue a-anu dong."

"Anu?"

"I-itu."

"Apa?"

"Pembalut sama kiranti." Jawab Anara malu-malu. Ia merutuki dirinya sendiri karena lupa hal sepenting ini.

"Njir? Lo dapet di sekolah?"

"I-iya."

"Yaudah bentar." Al mendeguskan nafasnya kasar. Sama bundanya aja dia gak gini, dan untuk pertama kalinya Ia melakukannya untuk mantan musuhnya sendiri. Atau masih musuh? sepertinya tidak, belakangan ini mereka sudah akur-akur saja.

Al melangkahkan kakinya menuju warung yang letaknya dibelakang sekolah, salah satu tempat bolos anak-anak Bragos. Dengan otak yang terus saja mengingat pesanan Anara. Pembalut dan apa tadi? kinanti? kianti? kirnanti? Ah sudahlah.

Sesampainya di warung belakang sekolahnya itu, Al meneguk ludahnya kasar. Sebagian besar anggota Bragos yang bersekolah di Smabun sedang membolos bersama. Bahkan kelima sahabatnya pun ada disana.

'Jatuh harga diri gua bangsat.' Umpat Al dalam hati. Ia sedang memikirkan bagaimana caranya mendapatkan Pembalut dan 'kirnanti' secepat mungkin untuk Anara.

"Woi, Na!" Panggil Al pada salah satu anggotanya. Gengsi bos kalo beli langsung.

"Nape bang?" Jawab siswa yang dipanggil Al tadi. Entah kenapa perasaan tidak enak tiba-tiba menyebar dihatinya.

"Sini lo."

"Iya bang?"

"Lo ambil nih duit, beli pembalut sama kirnanti satu." Suruh Al dengan suara sepelan mungkin agar yang lain tidak dapat mendengarnya.

"Njir bang? Gak ah sumpah, malu gue bang." Tolaknya langsung. Tidak mau menjatuhkan harga dirinya demi sebuah pembalut dan minuman jamu kunyit asam itu.

Al yang juga merasakan hal yang sama, gengsi. Pusing tujuh keliling. Dengan langkah pelan dan ragu, Ia berjalan masuk kedalam warung, tak lupa membalas beberapa anggota Bragos yang menyapanya.

Al masuk kedalam warung tersebut kemudian membisikan pesanannya kepada Bujar, alias Bu Jarni. Kening Bujar mengerut. 'Ngapain ya cowok beli pembalut? masa iya ganti gender?' Tanyanya dalam hati. tidak berani ngomong langsung. Siapa yang berani dengan ketua Bragos? Ya walaupun sudah punya aib sekarang yang bisa dipakai untuk bahan ejekan.

"Bentar ya den." Bujar mulai memasukan dua bungkus pembalut berwarna hitam dan sebotol kiranti kemudian membungkusnya dengan tothbag berwarn hitam sesuai dengan permintaan Al. Kalo bisa dibungkus supaya tidak ketahuan, kenapa enggak?

Al langsung memberikan selembar uang kertas berwarna merah kemudian langsung berlari meninggalkan warung belakang sekolah yang biasanya disingkat Wabes itu.

Berlari melewati koridor dan tak mempedulilan tatapan memuja dari para pengagumnya. Bahkan ada yang terang-terangan memvideokan dirinya, tapi masa bodo.

Sesampainya dikelas Anara, Gadis itu masih dengan kondisi yang sama. Bedanya kelasnya semakin ramai. Guru-guru sedang rapat jadi dipastikan jamkos di mata pelajaran pertama.

"Nih, harga diri gua dipertaruhkan demi semua barang yang ada didalam itu." Protes Al pada Anara. Walaupun iklas tapi rasa malu itu tetap membekas dalam egonya sebagai pria.

Anara pun tidak dapat memprotes balik. Ia tau gengsi cowok itu gede. Apa lagi kalau membalikan posisinya, Anara yang disuruh membeli kondo--- mo. nah iya, kodomo maksudnya.

Anara yang sudah mendapatkan apa yang Ia perlukan langsung melangkah keluar kelas. Tujuannya kamar mandi untuk menggunakan apa yang tadi sudah Al beli. Al yang masih ngos-ngosan hanya menelungkupkan wajahnya pada kedua tangan yang bertumpu pada meja.

"AL WOI, ANARA BOCOR!" Al tersentak kaget saat ada yang meneriakinya. Otaknya berkerja sangat lamban kala mendengar 'Anara bocor' Konsepnya gimana dumang? Memilih untuk langsung melihat kondisi Anara, Matanya melotot saat terlihat darah menembus rok sekolah milik Anara. Dengan langkah tergesahnya Al langsung melepaskan jaket kembanggannya dan melingkarinya dipinggang ramping milik Anara.

"Lo ngapain sih?" Tanya Anara yang rupanya belum sadar kondisi.

Al yang tidak tau akan menjawab apa memilih menyelipkan tangannya diantara lipatan lutut Anara kemudian mengangkatnya. Anara yang diangkat langsung seperti itu langsung mengalungkan tangannya pada leher Al untuk berpegangan.

"Ini kenapa sih?"

Al mendekatkan kepalanya pada wajah Anara, Jarak wajah keduanya begitu dekat. Bahkan hidung mereka bersentuhan. Al menatap lekat mata kecoklatan milik Anara yang begitu indah. Bentuknya seperti kristal bunga menurutnya.

"Lo bocor."

****

contoh Matanya Anara nih

contoh Matanya Anara nih

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Jan lupa votenya gan. see u next part!

HATE OR LOVETempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang