31 || I love u, Anara!

8 3 0
                                    

Cerita pertama gan, maaf ya kalo ada typo. kalau ada kesamaan tokoh ataupun alur, baca dulu sampai abis baru nyimpulin ya, thank you manis.

*****

Selesai latihan yang menguras begitu banyak energi, Al mengajak Anara pergi ke cafe didekat markas Stamrat. Cacing-cacingnya sudah memberontak meminta asupan kasih sayang. Eh maksudnya asupan makanan.

Sesampainya disana, Al memilih duduk diujung cafe. Anara hanya ikut-ikut saja. Yang penting makan.

"Permisi mbak, mas. Mau pesan apa?" Tanya salah satu pramusaji disana ramah.

"Nasi goreng kejunya dua, sama milk shakenya juga dua ya mbak." Pesan Al pada pramusaji tersebut.

"Baik, 10 menit lagi siap ya mas, saya permisi." Pamitnya meninggalkan Al dan Anara yang hanya menganggukan kepala.

"Al."

"Ya, sayang?"

"Kalau sewaktu-waktu aku mati buat kamu gimana?"

"Kok kamu ngomong gitu?"

"Kan kalau Al."

"Dengerin aku. Gak dapet kabar dari kamu aja aku stres seharian Anara. Apa lagi bayangin kamu pergi dari aku?" Ujar Al lirih. Perasaannya sudah Ia berikan sepenuhnya untuk Anara. Bahkan kalau Tuhan memperbolehkan, Ia ingin dirinya meninggal lebih dulu sebelum Anara meninggalkannya.

"Tapi suatu saat kalau aku ninggalin kamu, kamu harus bahagia ya?"

"Kamu gak boleh tinggalin aku."

"Cari senyum dan kebahagiaan kamu di orang lain."

"Bahagia aku cuma di kamu, Anara."

"Tapi jangan pernah lupain aku."

"Gak akan pernah."

"Dan kalau suatu hari nanti kamu udah temuin bahagia kamu selain aku, kasih tau aku, ya?"

"Stop pembahasan ini. Aku gak suka kamu ngomong kaya gini, Anara."

"Maaf." Anara menundukan kepalanya. Perasaannya kembali tidak enak. Seperti akan ada yang terjadi di masa depan, masih cukup lama. Tapi Ia tidak tahu apa.

"I Love you, Anara."

*****

Sedangkan di markas Stamrat, para inti Bragos yang lain mengumpat kesal karena ketuanya dengan mudah boleh keluar jalan-jalan, sedangkan mereka semua terus-terusan berlatih. Memang sih mereka latihan untuk diri mereka sendiri juga, tapi ini terlalu sulit.

Untungnya mereka semua sudah menyelesaikan latihan tahap satu. Kurang dua tahap lagi sampai latihan itu selesai.

Latihan kedua, mata mereka akan ditutup. Kemudian mereka akan melawan anggota stamrat yang ditugaskan. Walaupun anggota stamrat hanya akan menyerang dengan serangan ringan, tetapi kegesitan dan kelincahan mereka dalam seni bela diri terlalu sulit di taklukan.

Mengandalkan pendengaran untuk menyerang dan menghindar adalah salah satu latihan dasar terberat. Kuda-kuda yang harus tepat, bermain insting dan juga mengandalkan perasaan yang tersinkron dengan otak. Karena kalau tidak, saat kita mendengar serangan dari kanan, bisa saja musuh berada dikiri. Apa lagi kalau dalam posisi lawan lebih banyak dari pada kawan.

Terlihat mudah memang kalau dilihat, tapi tidak untuk dipraktekkan.

Dua anggota Stamrat memberikan contoh pada seluruh inti Bragos yang fokus memperhatikan. Dimulai dengan satu lawan satu, Mencari bunyi angin dan gerakan lawan dari indra pendengar, kemudian menggunakan insting membayangkan dimana titik lemah lawan berada, kemudian memberikan tendangan sebagai pembuka, pengalih fokus memukul dengan tangan kiri namun langsung memukul dengan tangan kanan, mencari dimana lutut lawan berada untuk menjatuhkan kuda-kuda lawan, dan sebagainya.

Bolehlah Anara berbangga diri? Ini semua hasil kerja keras yang Ia bangun sejak dulu. Bukankah sangat menakjubkan dapat melawan belasan orang, berakhir menang tanpa satupun lecet pada tubuh?

Namun menurut Anara, kepuasan hanya untuk orang yang siap untuk kalah di masa depan.

Karena orang yang siap menang di masa depan tidak mengenal kata puas dan akan terus berusaha. Berusaha menjadi yang terbaik diantara yang terbaik.

'You can lose in this game, but not in other games.'

"Rak."

"What?"

"Kapan siksaan ini berakhir?"

"Gue aja lagi berharap."

"Berharap apa?"

"Lo cepet mati."

"ANJING!"

*****

Selesai menghabiskan makanannya, Anara dan Al kembali kemarkas Stamrat. Anara penasaran dengan wajah-wajah yang biasanya sok sangar di sekolah berubah menjadi wajah penuh harapan agar semuanya cepat selesai.

Benar bukan, sesampainya disana, bukan wajah ceria dan bahagia yang menyambut mereka, hanya ada wajah orang-orang yang sudah mulai putus Asa.

Anara menahan tawanya saat melihat Raka memukul angin didepannya, padahal lawannya berada dibelakangnya.

"Rak, lo mukul angin?"

"NAR SUMPAH, INI MAH LATIHAN AKMIL JUGA SUSAHAN INI!"

Anara meledakan tawanya. Ia menyuruh seluruh anggotanya melepaskan peralatan yang mereka gunakan, kemudian Anara naik kedalam salah satu petak dan menggunakan seluruh peralatan yang tadi inti Bragos gunakan.

"Ja, pilih level sesuka lo." Ujar Anara yang sudah mengambil kuda-kuda. Matanya tertutup rapat dengan kain hitam.

Eja yang mendengar itupun langsung menghampiri tombol yang berada diujung petak yang Anara masuki. Memilih kecepatan lima, hard level. Anara yang mendengar peringatan bersiap langsung mengambil ancang-ancang.

Satu persatu bantal tinju itu menyerangnya dari berbagai arah dengan kecepatan yang sangat memusingkan kepala. Serangan dari depan tertangkis oleh tangan kanannya, dari belakang oleh kakinya. Bahkan tendangan memutar dan serangan sikutpun dengan gesit Anara hindari dan balas.

Raka yang melihat itu melototkan matanya. Itu kalau dirinya, pasti sudah babak belur.

"Saka."

"Apa?"

"Kalo bosen idup, lo bisa dateng kesini."

*****

Jan lupa votenya gan, see u next part!

HATE OR LOVETempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang