Cerita pertama gan, maaf ya kalo ada typo. kalau ada kesamaan tokoh ataupun alur, baca dulu sampai abis baru nyimpulin ya, thank you manis.
****
Semenjak Al menyatakan perasaannya pada Anara, Gadis itu terus saja tersenyum sepanjang malam. Bahkan hampir saja Ia tidak tidur kalau Al tidak menyuruhnya tidur.
Pagi ini, Al datang menjemput Anara karena bundanya tersayang terus saja mendesaknya untuk membawa 'calon menantu-nya' kerumah. Bahkan ayahnya juga melakukan hal yang sama.
"Ayo, Al." Panggil Anara yang sudah siap dengan setelan casualnya. Terlihat sederhana menang, namun tidak mengurangi kadar kecantikannya.
Al langsung berdiri dan berjalan mendahuli Anara kemotornya. Saat keduanya sudah berada diatas motor, Anara bingung sendiri kenapa Al tidak menjalankan motornya. Berbeda dengan Al yang mendegus karena ketidakpekaan Anara. Tangannya langsung mengambil kedua tangan anara yang ditumpukan pada kedua lutut gadis itu, kemudian melingkarkannya pada perutnya.
Kedua pipi Anara memanas saat merasakan ada kotak-kotak diujung jarinya. Sedangkan Al yang merasakan reaksi Anara saat memegang perutnya hanya terkekeh geli akan tingkah pacarnya.
"Kalo mau pegang, tunggu di rumah aku aja ya." Goda Al kemudian menjalankan motornya membelah kepadatan ibu kota yang tampaknya akan macet sebentar lagi.
"AL MESUM!!!" Teriak Anara namun tetap mempertahankan pelukannya. Rasanya nyaman, aman, tentram dan bersahaja. Eh salah server.
Al hanya terkekeh melihat tingkah konyol gadisnya, matanya sesekali melirik spion motor memperhatikan wajah Anara yang manis dengan pipi chubby dan bibir pink merah mu--- Pagi ini sepertinya Al perlu tobat dulu kepenghulu. Eh maksudnya ke apa namanya? lupa.
Setelah sampai dirumah keluarga, Anara langsung berlari masuk mencari keberadaan bunda Aluna. Kalau ditanya kenapa tidak tunggu Al terlebih dahulu, kata bunda Al, 'Kalo mau dateng, langsung masuk aja ya. Anggap aja rumah sendiri.' Jadi Ia hanya melaksanakan permintaan bundanya itu.
Aluna yang sedang berbicara dengan suaminya itu langsung tersenyum bahagia saat mengetahui siapa yang datang. Berbeda dengan Andre yang bingung siapa gadis manis yang baru masuk ini? Namun sebelun bertanya sepertinya Ia langsung menemukan jawabannya saat melihat putra tunggalnya menyusul masuk dari luar.
"Kamu Anara ya?" Pertanyaan Andre langsung mengalihkan fokus Anara. Gadis itu berdehem singkat kemudian tersenyum kearah Ayahnya Al itu.
"Iya om." Jawab Anara sopan.
"Kok om sih? Ayah dong." Protes Andre mencairkan suasana. Anara yang berpikir kalau Ayahnya Al itu tipe cowok yang over protective dalam melihat orang pun tersenyum.
"Siap Ayah." Jawabnya yang langsung disambut senyum hangat oleh Andre.
"Katanya Al, kamu pinter ya?" Tanya Andre yang sepertinya kepo dengan seorang Anara.
"Enggak juga yah. Masih pinteran Albert Einsten soalnya." Balas Anara bercanda.
Aluna yang melihat interaksi suaminya dengan 'Calon menantunya' Tersenyum senang. Artinya Anara sudah mendapat lampu hijau dari suaminya itu untuk menjalin hubungan dengan putra tunggal mereka.
"Ada-ada aja kamu." Jawab Andre yang terkekeh dengan jawaban Anara. Gadis itu rupanya sangat cepat mengambil perhatian kedua orang tuanya seorang Alfikra.
"Al." Panggil Andre yang merubah nada suaranya menjadi serius.
"Iya Yah." Al mematikan ponselnya kemudian menatap Ayahnya yang sepertinya ingin berbicara serius dengannya.
"Ayah mau nantangin kamu."
Aluna mengerutkan keningnya bingung dengan maksud ucapan suaminya.
"Apa, Yah?" Tanya Al yang sepertinya tertarik dengan tantangan Ayahnya.
"Kalo kamu bisa naikin target perusahaan ayah 20% dari nilai target utama, uang jajan kamu naik." Tantangnya. Hal menarik menurut Al. Matanya menatap Anara kemudian tersenyum.
"Ayah yakin cuma 20%?" Tanya Al meremehkan Ayahnya.
"Bahkan bisa naik 2% saja ayah ragu sama kamu." Ucap Andre yang sepertinya mencoba memamcing emosi anaknya. Toh kalo bisa lebih dia yang untung.
"Oke, liat aja nanti." Jawab Al yang langsung mengalihkan pandangannya pada Anara kemudian tersenyum sinis. Hal ini terlalu mudah menurutnya. Tangan kanannya ada Anara, tangan kirinya ada Torik. perlu apa lagi?
"Deadline kapan?" Tanya Al yang sepertinya sudah siap memulai misinya bersama Anara.
"Satu minggu."
"Deal, satu minggu."
Al langsung menarik tangan Anara dan membawa gadis itu menuju kamarnya. Anara yang dibawa secara tiba-tiba itu hanya ikut saja. Sekalipun Al punya niat buruk suaranya bisa melebihi toa sekolah. Eh maksudnya suara merdunya bisa merusak gendang telinga.
Saat memasuki kamar dengan nuansa soft dark itu, Anara menatap sekelilingnya dengan saksama. Ia pikir kamar cowok itu super berantakan. Namun pemikirannya salah. Ini itu aesthetic!! Kalau bisa jadi tempat foto, mungkin Anara akan membukanya untuk umum, perorang lima ribu.
Aroma maskulin milik Al sangat khas dikamar ini. Menenangkan dan juga memberi kesan nyaman untuk penggunanya.
"Orang tuh terpesona sama orangnya, bukan kamarnya." Ujar Al yang sedang berbaring ditempat tidurnya. Matanya terpejam namun tidak berniat tidur.
"Dih, suka suka Anara lah." Balas Anara sinis. Langkah kakinya menuju kesetumpuk buku yang ada dimeja belajar Al. Namun saat melewati kasur, tangannya ditarik lembut, dan berakhir Ia terjatuh dengan posisi melentang pada kasur empuk berukuran kingsize milik Al.
Berhubung keusilannya berhasil, Al langsung membalikan tubuhnya sehingga posisinya Anara berada dibawah Al. Jantung keduanya berdegub kencang, bahkan lagi-lagi pipi Anara bersemu merah.
Al mulai menundukan kepalanya, wajahnya perlahan mendekat kearah Anara. Saat hidung keduanya mulai bersentuhan, Anara memejamkan matanya kuat. Bahkan sampai menahan nafas dan tak sengaja menggigit bibir dalamnya.
"Berharap gua cium ya? Atau udah siap punya Al junior?"
"AL! KAMU MESUMNYA BISA DIKURANGIN GAK SIH!"
*****
jan lupa vote gan, see u next pat

KAMU SEDANG MEMBACA
HATE OR LOVE
Teen Fiction"Gue benci deh sama lo." "Iya, gue tau lo cinta sama gue." "HALU NAJIS!" Sepaket kisah penuh teka teki, takdir yang mempertemukan untuk sebuah perpisahan? atau takdir perpisahan dengan awal sebuah pertemuan yang indah? Kisah yang indah namun rumit...