"Jadi untuk sponsor udah di urus semua kan? Tinggal kita ngajuin proposal persetujuan aja" Ucap Jeno lantang.
"Udah Jen, ini gue udah buat proposalnya juga" Ucap Haldis seraya menyerahkan map yang berisi proposal yang kemarin sudah ia buat dan diterima dengan baik oleh Jeno.
Saat ini, anggota BEM dan panitia acara ulang tahun Neo University sedang mengadakan rapat tahap 2 untuk rencana kegiatan beberapa minggu nanti.
"Okey berarti semua udah lengkap kan? Ada yang ditanyakan lagi?" Ucap Jeno.
Nara dengan sedikit ragu mengangkat tangannya.
"Ya Nara mau tanya apa?" Ucap Jeno.
"I-itu buat kamera nanti pake punya kita atau gimana kak?" Ucapnya gugup. Ia tidak biasa ikut kegiatan dengan banyak orang seperti ini, apalagi semua orang memperhatikannya yang sedang bertanya sekarang.
"Udah tanya Galen?"
"B-belum kak, maunya tanya sekarang tapi kak Galen gk dateng" Jawabnya pelan.
"Yaudah, Re kita masih punya kamera kan? Ada berapa yang bagus?" Jeno beralih bertanya pada Reiga.
"Ada 3 kak, 1 lagi rusak"
"Pake itu aja Na, ntar biar gue bilang sama Galen" Jeno berujar dengan senyum tipis saat melihat Nara yang mengangguk cepat dengan pipi mengembung karena gugup.
Lucu - Batinnya tanpa sadar.
Namun dengan cepat Jeno menggeleng dan menoleh pada Reiga yang masih fokus menghitung anggaran untuk acara nanti.
Reiga juga lucu - Batinnya lagi.
"Kalo gitu udah beres kan semua? Tinggal rapat akhir nanti setelah proposal di acc. Dan buat lomba, pensi, sama stand udah di urus sama Ezra. Jadi rapat bisa kita akhiri, terima kasih" Ujar Jeno menutup rapat tersebut.
Satu persatu orang mulai keluar dari ruang rapat dan menyisakan 5 orang disana termasuk Nara.
"Lo ada kelas Na?" Ucap Reiga seraya menghampiri sang sahabat yang masih membereskan beberapa barangnya.
"Udah kelar gue, lo gimana?"
"Masih ada 1 lagi heung~" Jawab Reiga lemas.
"Yaudah gue tinggal deh ntar kalo gak ada temen nebeng lo telpon gue aja biar gue jemput" Ucap Nara.
"Na lo sendiri kan? Nebeng lagi dong" Pinta Haldis yang tiba-tiba sudah ikut di obrolan mereka itu.
"No no no ~ lo gak bisa diem kalo di bonceng kak" Tanpa sadar Nara bertingkah imut dengan menggeleng cepat serta menggerakkan telunjuknya ke kiri dan ke kanan.
"Pelit lo ah gue kan cuma exited naik motor, kalo pulang kan gue biasanya naik mobil bareng Ezra"
"Nah yaudah bareng kak Ezra aja"
"Iya kak, lagian gak biasanya lo pulang gak bareng kak Ezra" Ucap Reiga menimpali.
Perdebatan mereka terus berlanjut tanpa menghiraukan 2 orang dominan yang masih memperhatikan mereka.
Jeno yang bingung saat ia malah sangat gemas dengan Nara dan sama sekali tidak bisa fokus pada Reiga.
Gak beres nih gue - Batinnya.
Sementara Ezra hanya menghela nafas mendengar perdebatan mereka. Ia tau Haldis masih canggung karena kejadian kemarin.
"Ajak aja Na, gue masih ada kelas dia udah beres tuh" Ucap Ezra yang pada akhirnya bisa menghentikan perdebatan ketiga pemuda manis itu.
KAMU SEDANG MEMBACA
Destiny
FanfictionNara dan Reiga itu sahabat dekat, mereka punya banyak banget kesamaan sampe suka pun sama orang yang sama. Tapi, takdir mereka tetaplah berbeda
