#38# Endless (Part 1)

803 72 22
                                        


....

....

Semenjak pertemuannya dengan Hinata kemarin Sasuke sering menyibukan dirinya dengan pekerjaan kantor. Berharap risau dalam dadanya dapat teralihkan. Memang cukup berhasil tapi nyatanya itu justru memancingnya dirinya dalam situsi yang selalu emosional. Misalnya saja, dirinya tidak segan untuk membentak atau memarahi bawahannya yang memberikan laporan pekerjaan yang tidak memuaskan.

"Kupikir kau ingin membuat ruangan Divisi planning jadi rumah angker."

Sasuke menatap kakak kembarannya yang berdiri menyender pada pintu ruangan kerjanya tajam. Sasuke mendecih kesal sebelum kembali mengalihkan perhatiannya pada layar monitor.

"Kau yang menempatkan pada posisi ini. Kau harus tahu konsekuensinya jika menempatkanku di sini, baka Aniki!" jawab Sasuke dingin.

"General Manajer bukanlah pekerjaan yang akan terlalu merepotkan untukmu. Ah...atau kau ingin bertukar posisi denganku?" tawar Sai setelah mendudukan dirinya di sofa dengan santai.

"Cih. Aku tidak tertarik menjadi budak Itachi."

"Sembarangan. Aku bukan budaknya, aku hanya menjalankan tugas perusahaan dan kebetulan Itachi yang melegalkan Dokumen perusahaan. Lain dari itu aku mengatur gajimu, Sasuke. Jadi hati-hatilah kalau mengatai kakakmu."

"Cih. Lakukan saja, aku tidak terlalu dirugikan. Nyatanya kau yang membutuhkanku."

Sasuke dan keangkuhannya sudah mendarah daging. Jadi peringatan seperti apapun jelas tidak berlaku. Tapi memang hasil perkerjaan Sasuke sangat memuaskannya, otak encer adik kesayangannya memang menguntungkan perusahaan.

"Ngomong-ngomong kemarin kau bertemu Hinata ya."

Sasuke yang sibuk mengetik menghentikan gerakan jarinya, tapi tidak memalingkan sedikit pun dari layar monitornya.

"Bagaimana keadaannya?"

"Kenapa kau tidak menemuinya sendiri dan melihat keadaannya?" jawab Sasuke dingin memfokuskan kembali pada pekerjaannya yang sempat terhenti.

"Kenapa? Kau yang pertama sudah terlebih dulu bertemu dengannya, Sasuke."

"...."

Sai menatap Sasuke intens mempertingkan beberapa hipotesa yang yang muncul di pikirannya. Sasuke menjadi pribadi yang lebih menyebalkan hari ini, kemungkinan besar ini ada hubungannya dengan pertemuannya dengan Hinata kemarin.

"Apa telah terjadi sesuatu kemarin, Sasuke? Kalian membicarakan sesuatu yang tidak kuketahui, iya kan?" tanya Sai tepat sasaran. Sasuke kembali terdiam, dan ingatannya tentang ucapan Sasori dan Hinata berdengung di kepalanya.

"......"

Seringai Sai terbit saat kobaran api kemarahan kembali terlihat di mata arang adik kembarannya itu tapi, Sai tidak memperdulikan suasana hati sang adik dan lebih memilih menggoda Sasuke yang sensi itu.

"hal apa yang membuat adik tsundereku begitu kesal? Tidak. Memang hari ini segalanya terasa mengesalkan untukmu, ya."

"Urusai. Pergilah Sai!" teriak Sasuke kesal.

Sai menatap Sasuke datar. Sesuatu memang telah terjadi kemarin, tapi Sasuke enggan untuk mengatakan padanya. Mau bagaimana lagi, jika sudah seperti ini Sai memang harus bersikap sedikit hati dalam bicara agar memancing Sasuke sedikit lebih terbuka.

"Apa ini karena Hinata, Sasuke?"

Deg.

Pang!

You're MineCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang