Masih dengan balutan pakaian khas pasien, Valen yang dituntun oleh Fira melangkah lurus kearah ruang inap Gariel. Ya walau belum sadarkan diri, namun cowok itu sudah dipindahkan keruang inap VVIP yang dipesan oleh mama Gariel lengkap dengan alat-alat medis yang diperlukan didalamnya.
Walau selang infusnya sudah dilepas, namun Valen masih belum diperbolehkan pulang oleh dokter dengan alasan bahwa tekanan darahnya belum stabil. Valen menurut saja, toh ia juga merasa bahwa kondisi fisiknya belum pulih total. Tensi darah yang rendah beberapa hari belakangan membuatnya kerap kali merasa pusing dan terkadang juga muntah. Bahkan Valen sempat demam tinggi kemarin malam, namun sudah reda pada pagi harinya.
Guru wali kelas juga teman-teman sekelasnya datang menjenguk tadi pagi, sekalian menjenguk Gariel. Fira tidak kembali lagi ke sekolah, cewek itu ingin menemaninya di rumah sakit, dan untungnya diizinkan oleh guru wali kelas mereka.
Langkah kaki keduanya terhenti disebuah pintu kayu berwarna cokelat tua. Pandangan Valen jatuh pada gagang pintu yang terbuat dari besi dihadapannya, ia menarik pelan gagang tersebut. Sebuah ruangan luas yang didominasi warna putih dengan sedikit aksen biru muda di dinding bagian atas brankar menyambut Valen juga Fira saat keduanya sedikit melangkah kedalam ruangan.
"Assalamualaikum."
"Waalaikum salam. Eh ada Valen, sama siapa sayang?" Mama Gariel yang awalnya sibuk merapikan beberapa majalah juga koran yang tergeletak diatas meja kecil didepan sofa tersenyum sangat lembut saat melihat Valen juga seorang gadis yang tak kalah cantik yang menggandeng tangannya.
Valen balas tersenyum, begitu pula Fira yang tersenyum kikuk. "Sahabat Valen, tante. Kenalin namanya Fira."
"Fira, tante," ucap Fira memperkenalkan diri seadanya.
Seragam sekolah yang masih melekat dibaju Fira membuat Annisa bersuara, "Satu sekolah sama Gariel sama Valen juga?"
"Satu kelas malah," jawab Valen mewakili, sedang Fira hanya masih tersenyum kikuk. Mungkin karena pembawaan Annisa yang sangat berwibawa membuat Fira kikuk saat pertama kali bertemu, berbeda denga Valen yang kini sudah sangat akrab dengan wanita yang tak lagi muda itu. Selama empat hari belakangan ini Annisa yang selalu menjaga Gariel dirumah sakit, hingga Valen yang tiap hari berkunjung selalu bertemu dengan wanita itu hingga akhirnya sudah akrab. Valen dan Annisa merasa banyak kecocokan diantara keduanya saat berbincang, makanya mereka langsung dekat, bahkan sekarang Annisa selalu memanggil Valen dengan iming-iming 'sayang' diujungnya.
Sosok Annisa yang keibuan membuat Valen merasa nyaman saat berbicara, seperti ia sedang berbincang dengan bundanya. Sedangkan sosok Valen yang ramah, sopan juga dewasa membuat Annisa sangat menyukainya.
"Oh jadi kalian sekelas?" Senyum tipis tak pernah lepas dari wajah yang walau sudah tak muda lagi namun masih terlihat sangat cantik tanpa keriput yang berarti yang menganggu milik mama Gariel.
"Iya, tante." Fira yang menjawab kali ini.
"Bunda kamu kemana sayang?"
"Bunda lagi pulang sebentar, mau ngambil baju ganti sekalian mandi katanya."
"Ya udah kamu sama Fira disini aja dulu sama tante, sekalian nunggu bunda balik. Mau kan Fira?"
Fira mengangguk, toh memang itu tujuan dirinya dan Valen pergi ke ruangan ini selain memang untuk menemani Valen melihat keadaan Gariel.
"Iya, tante."
Valen dan Fira ikut duduk, disebuah sofa panjang berwarna biru yang sedari tadi diduduki Annisa, yang menghadap langsung kearah Gariel terbaring. Perban putih dengan bercak darah bercampur antiseptik melilit ketat disepanjang kepala cowok yang terlihat sangat pucat itu. Ditambah alat bantu pernapasan yang bertengger di hidung mancungnya mendramatisir luka cowok itu.
KAMU SEDANG MEMBACA
GALEN (SELESAI)
Fiksi Remaja"Jadiin gue pacar lo!" Valen membeku dalam keterkejutannya. Menunduk dalam. "Maksud kamu?!" "Jadiin gue pacar lo, kalau itu bisa menebus rasa bersalah," jawab Gariel enteng. --------------- Ini adalah kisah tentang mereka yang sama-sama tak menyadar...
