Gelar baru Valenia

114 10 0
                                        

"Thanks, bro!"

"Untuk?" tanya Dika atas ucapan terima kasih Gariel yang tiba-tiba saat ia baru mendaratkan bokongnya pada kasur tempat sang sahabat terbaring dengan kaki digips tersebut.

"Untuk nganterin cewek gue ke rumah sakit tadi, mungkin." Gariel sendiri tak yakin atas ucapannya hingga ia terkekeh sendiri.

"Cewek lo? Valen?"

"Emang udah nembak? Gercep banget," lanjut Dika.

"Bukan nembak, lebih tepatnya ngasih penawaran buat dia," jelas Gariel sambil tersenyum misterius. Posisinya yang bersender pada kepala ranjang memudahkan untuk melihat ekspresi Dika yang duduk tepat diujung kakinya.

"Dan itu mengatasnamakan rasa bersalah dia?" tebak Dika tepat pada sasaran. Susah memang jika sudah bersahabat lama, kita jadi bisa menebak isi pikiran seseorang hanya dengan melihat wajahnya. Dan Dika melakukan itu sekarang.

Sedang Gariel hanya tersenyum tanpa menjawab satu katapun. Membuat Dika geram dan ingin saja menabok wajah tampan sahabatnya itu jika saja tak ingat jika cowok itu sedang sakit saat ini.

"Hati-hati, cewek lo suka sama gue," pancing Dika.

Gariel kembali tersenyum. "Dan terimakasih lagi, karena lo udah nolak dia."

"Tapi sayangnya dia masih suka tuh. Apa gue bilang aja kalo sekarang dia boleh suka. Bilang aja gue berubah pikiran, gitu." Dika gencar memanas-manasi Gariel yang kini tak bisa tersenyum lagi.

"Lo gak suka sama dia," jawab Gariel mantap karena memang itu kondisi yang sebenarnya. Dika tak menyukai Valen. Bukan artinya Dika membenci cewek itu, dia hanya tak mencintai cewek itu sebenarnya.

"Emang lo suka?"

Bummmm. Gariel terdiam hanya karena satu pertanyaan Dika yang bahkan dilontarkan dengan senyum jail oleh cowok itu.

Gariel menggaruk tengkuknya sendiri.

"Iya. Enggak. Mungkin. Entahlah." Bahkan ia sampai menjawab dengan beberapa jawaban yang mendeskripsikan bahwa ia tak yakin akan perasaannya sendiri.

Entahlah. Gariel rasa ia belum sampai pada tahap itu. Ia hanya punya alasan mengapa ia harus berada di samping cewek itu. Alasan yang cukup sederhana tapi bermakna dalam.

"Hati-hati kalo lo sampai memasukkan hati dalam rencana sendiri. Bukannya gak boleh, tapi menurut gue, lo harus fokus sama alasan utama mendekati Valen. Jangan sampai kehilangan alasan utama itu. Kalo nantinya kalian sama-sama punya hati, anggap itu bonus atas usaha lo." Dan Dika cukup bijak untuk memberi petuah saat ini.

"Gue ngerti." Gariel mengangguk dalam.

Berselang lima menit, Dika bangkit dari duduknya. Ia berjalan dengan malas menuju pintu, hendak ke dapur untuk mengobrak-abrik isi kulkas guna mengganjal perutnya yang minta diisi.

Belum mencapai pintu, Gariel sudah lebih dahulu bersuara. "Mau kemana, Dik?"

"Sejak kapan lo jadi posesif gini sama gue? Berasa jadi cewek lo. Atau, lo kangen dan gak mau jauh-jauh dari gue?" Dika berbalik badan dan masih berdiri didepan pintu. Tangannya sudah meraih kenop pintu tapi belum membukanya.

Gariel berdecak dan Dika malah tertawa renyah atas hal itu. "Males banget," jawab Gariel dengan muka ingin muntahnya.

"Gue mau ke dapur, cari makan."

Dan siapa sangka bahwa wajah Gariel berubah sumringah saat ini. Dengan wajah meringis yang dibuat seakan nyata, cowok itu berkata, "Buatin nasi goreng, dong. Gue laper."

"Enak aja nyuruh-nyuruh. Lo kira gue babu. Lagian kan yang sakit itu kaki, bukan tangan."

"Dika ganteng, Dika baik, Dika soleh, buatin gue nasi goreng dong. Sahabat lo yang cakep ini membutuhkan asupan makanan." Gariel mulai melancarkan jurusnya untuk merayu Dika. Merayu untuk dibuatkan masakan tentunya, bukan merayu lain.

Dika memutar bola matanya jengah. Sahabatnya kembali gila. Ia pikir setelah kecelakaan, otak Gariel akan sedikit membaik, namun justru sepertinya otak sahabatnya itu semakin geblek. Apa otak itu akan membaik kalau ditabrakkan sekali lagi? Ingatkan Dika untuk mencobanya suatu hari.

Kalau boleh jujur ia mulai bertanya-tanya apa hal yang bisa membuatnya betah menjalin persahabatan lama dengan cowok yang terkenal tak kalah dingin dari dirinya itu. Karena sifatnya? Kebaikannya? Kegilaannya? Persamaan sifat antara keduanya? Atau karena dimata Dika, Gariel adalah sosok seorang yang akan selalu menepati janjinya, kepada siapapun.

Entahlah. Mungkin karena gabungan semua itu.

Gariel adalah sosok sahabat juga merangkap saudaranya dalam suatu waktu, walau kadang dia juga bisa bersikap menjijikkan seperti sekarang. Namun itu yang membuat Dika betah bersama cowok itu, mempunyai sahabat yang mengerti keluh kesahmu bahkan saat keluargamu sendiri tak begitu peduli akan rasa mu.

"Jijik goblok!" Biarkan Dika untuk memaki cowok yang terbaring itu untuk saat ini, dalam konteks candaan tentu saja.

"Gue sakit, ogeb. Lagian kan biasanya lo yang nyuruh-nyuruh gue buat masakin makanan kalo lagi mager pas main PS. Masa lo tega sekarang membiarkan gue kelaperan di apartement sendiri, padahal gue punya antek setia."

"Gue bikinin pop mie, titik." Final Dika. Cowok itu mendesah pasrah saat harus mengikuti perintah Gariel. Meski kesal dikatai sebagai antek, namun tak digubrisnya hal itu karena tau Gariel hanya bercanda.

"Elah, lo sengaja mau bikin gue makin sakit? Segala lo kasih makanan begituan?!" pancing Gariel yang sebenarnya ia sangat tau bahwa Dika tidak berani menghidupkan kompor makanya berkata akan membuatkannya makanan kemasan yang hanya membutuhkan air panas itu. Air panas yang memang selalu ada di dispenser apartemen ini.

"Kalo gak mau yaudah buat sendiri aja sono,"

"Ckckck, monyet," decak Gariel nyaris tanpa suara.

"Ngaca!"

Dan setelah mengatakan itu Dika langsung keluar dari kamar Gariel. Disusul teriakan Gariel yang meraung berkata ia lapar kepada Dika, yang masih bisa cowok itu dengar.

***

Jika pagi sebelumnya Valen bangun dengan wajah fresh kebanggaannya, maka beda cerita dengan pagi hari ini, dimana cewek berpiyama pink itu terbangun dengan mata panda juga rambut kusut yang mendramatisir.

Valen duduk bersandar pada sandaran ranjang, mengusap dengan kasar wajahnya sendiri. Merutuki kebodohannya dihari kemarin yang menyebabkan ia bangun dengan gelar 'pacar Gariel' dibahunya pada hari ini.

Tepat sekali tebakan kalian. Valenia Putri Hartanto kini resmi menjadi kekasih seorang Gariel Navalthan Yudha yang diidamkan seantero sekolah itu.

Kilasan memori saat kemarin sore Gariel bertanya akan jawabannya kembali terlintas. Bagaimana tatapan penuh intimidasi yang cowok itu keluarkan, seakan menyuruh Valen untuk mengangguk tanpa ada kalimat penolakan sedikit pun. Dan Valen melakukannya. Entah dorongan dari mana, namun Valen hanya mengangguk saat itu. Tanpa kata. Tanpa suara. Dan itu adalah bentuk kata 'iya' yang tersampaikan lewat gerak.

Bukannya menyesali, Valen hanya tak tahu harus menggambarkan perasaannya seperti apa saat ini. Di satu sisi ia masih sangat menyukai Dika, namun disisi lain ada Gariel yang mulai sekarang harus ia jaga hatinya. Valen jadi terjebak diantara dua hati. Menjaga hati orang lain juga hatinya disaat yang bersamaan. Tanpa mau menyakiti salah satu hati.

Sedang ia juga mulai berpikir, lewat Gariel mungkin Tuhan ingin ia segera melupakan perasaan kagum yang sempat dan masih ia sematkan pada Dika, dan mulai menjalani hari sebagai pacar dari sahabat orang yang ia kagumi itu. Valen ingin berusaha untuk mulai menyukai Gariel, bukan karena rasa bersalah dan tanggung jawab seperti yang ia lakukan saat ini, namun karena memang ia ingin menyukai personal seorang Gariel. Seorang cowok tampan yang menjadi idaman, juga pahlawan yang telah menyelamatkan hidupnya.

Yah, Valen akan berusaha sepenuh hati untuk menjadi pacar yang baik bagi Gariel.

Cewek itu kemudian beranjak dari kasur, melangkah kekamar mandi dengan gusar. Ia sempat melirik bagaimana kacau kondisinya dari pantulan cermin yang tertempel dikamar mandi.

Valen merapikan rambutnya yang berantakan, menyisirnya menggunakan jari lalu tersenyum kepada dirinya yang terjebak dalam cermin.

"Selamat pagi pacarnya most wanted sekolah. Selamat menjalani hari baru sebagai kekasih seorang Gariel Navalthan Yudha. Semangat!" ucapnya pada diri sendiri, menyemangati meski dalam hati ia ragu apa status yang ia dapat didasari dari hati atau hanya karena alasan lain.

***

GALEN (SELESAI)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang