Mencoba membantu

94 11 0
                                        

Dua bulan sudah hubungan Gariel dan Valen kini terjalin. Dua bulan sudah setiap paginya Valen selalu bertugas membantu Gariel turun dari mobil yang mengantarnya. Dua bulan sudah Gariel selalu menjemput dan mengantar Valen tiap pergi dan pulang sekolah. Intinya sudah dua bulan. Dan kini hubungan mereka jadi semakin hangat. Bahkan seluruh penjuru sekolah sudah mengetahui hubungan keduanya, hingga Gariel tak canggung lagi untuk menggoda pacarnya di lingkungan sekolah.

Dan satu hal yang sangat berubah menurut Valen, Gariel ternyata adalah sosok yang sangat jail kepada dirinya, melebihi sifat jail-nya kepada Dino. Setiap ada kesempatan, Gariel pasti akan selalu menjaili atau menggoda dirinya. Membuat Valen jadi seperti cacing kepanasan. Bahkan kadang Valen jadi ingin menghabisi nyawa cowok itu jika sudah terlalu jail mengganggu aktivitasnya.

Pernah suatu hari Valen menangis sejadi-jadinya karena buku pr kimia-nya disembunyikan oleh Gariel, padahal pr tersebut harus dikumpulkan hari itu. Valen hampir saja dikeluarkan dari kelas karena tidak membuat pr, namun ternyata buku pr-nya sudah dikumpulkan oleh cowok itu.

Valen merajuk, hingga Gariel kelimpungan membujuknya. Mulai dari memberi bunga hingga cokelat, tak mampu meluluhkan Valen saat itu. Namun karena kesungguhannya Valen akhirnya jadi tak tega dan memaafkan, apalagi karena kondisi Gariel yang masih menggunakan kruk membuat cowok itu kesulitan menghadapi Valen dan mencari cara untuk membujuknya.

Dan kejadian lainnya yang membuat Valen kesal. Namun sekesal-kesalnya ia pada Gariel, ia mengakui bahwa cowok itu sangat gentleman karena akan selalu meminta maaf dan mengakui kesalahannya. Gariel selalu jujur akan perbuatannya. Seringkali juga Gariel menggodanya hingga membuat pipinya memerah tomat.

Dua bulan rasa nano-nano untuk Valen dan Gariel.

"Besok temenin gue ke rumah sakit ya."

"Ngapain?" tanya Valen pada Gariel yang duduk disampingnya. Kursi Fira ditarik oleh cowok itu untuk semakin dekat dengan Valen yang duduk tenang menunggu guru pelajaran pertama untuk masuk kelas.

Bukannya menjawab, Gariel malah menarik salah satu buku tulis Valen yang berada diatas meja lalu membukanya di lembar paling terakhir. Cowok itu mencoret-coret disana dengan pulpen yang ia ambil dari atas meja Fira.

Valen yang merasa diabaikan langsung menarik kembali buku tulisnya. Ia langsung naik pitam saat melihat coretan yang dibuat oleh cowok itu. Lembar terakhir buku Valen ternyata sudah penuh dengan nama Gariel, hasil karya cowok itu yang menulis namanya sendiri.

"Gariel!"

"Maaf." Gariel menunjukkan senyum paling manis yang ia punya, membuat Valen jadi harus mengelus dada menghadapi sikap jail cowoknya itu.

"Besok gue mau terapi. Lo ikut ya. Besok juga mungkin gue gak butuh dua tongkat lagi," ujar Gariel yang terdengar seperti perintah.

"Kok cepet banget?

Gariel kembali serius, "Kata dokternya, pemulihannya lumayan cepat jadi kaki gue udah gak apa-apa lagi. Walaupun belum bisa lepas gips."

"Alhamdulillah." Valen ikut senang mendengarnya.

Gariel mengelus lembut rambut Valen, membuat cewek seisi kelas yang merupakan penggemar beratnya jadi menahan napas. Sedang cewek itu sendiri jadi terdiam.

"Mama Annisa ikut gak besok?"

"Mama lagi ke Spanyol," sahut Gariel.

Valen bengong, perasaan tiga hari yang lalu ia bertemu dengan Annisa, jadi kapan wanita itu pergi ke Spanyol?

"Kapan?"

"Hari senin,"

Senin? Itu artinya dua hari yang lalu.

GALEN (SELESAI)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang