Jika pelangi datang setelah hujan, maka kau datang setelah air mata.
---
"Gue gak berani, Fir!" Kalimat yang sama yang dikeluarkan Valen sejak 15 menit yang lalu. Entah sudah berapa kali ia mengulangnya, namun belum bosan sama sekali. Valen menggigit bibir bawahnya karena gugup yang mendominasi. Tangannya mengerat pada botol-botol minuman jeruk kemasan dengan bulir-bulir yang menggoda dikedua tangannya. Matanya lurus kedepan, lalu berpaling kearah Fira disampingnya. Valen menggeleng sambil mengulang kalimat yang sama dengan kalimatnya yang tadi.
"Harus berani. Ini saatnya lo harus mencoba. Ayo, semangat, Valen!" Kalimat yang sama juga terus keluar dari bibir Fira sesaat setelah kalimat mengulang Valen terdengar. Fira menganggukkan kepalanya, lagi.
Valen menggeleng, namun lagi-lagi Fira mengangguk. Begitu seterusnya, hingga Fira mendorong Valen untuk keluar dari persembunnyian mereka, yakni dibalik pintu kantin yang terbuka lebar.
Valen hanya berdiri mematung ditengah-tengah pintu kantin. Tadi hampir saja ia harus menahan malu karena hampir terjatuh karena dorongan Fira. Fyiuhh, untung tidak. Valen menatap kesal sahabatnya yang hanya memasang cengiran lebar tanpa bersalah itu. Cewek itu segera menyingkir dari tengah-tengah pintu karena sadar badannya menghalangi siswa lain yang hendak masuk ke kantin.Valen menatap Fira sekali lagi dengan wajah memelas bahkan sampai memasang puppy eyes-nya.
Fira menghiraukan tatapan memelas Valen dan kembali mengangguk meyakinkan.
Valen hendak mundur namun rasanya itu tak mungkin, karena ibarat kata, Valen kini sudah basah, ya sekalian nyemplung saja ke air. Valen mengangguk untuk meyakinkan diri sendiri. Ditatapnya minuman jeruk kemasan yang masih setia berada dalam genggamannya. Gadis itu akhirnya memilih melangkah maju. Menjalankan ide Fira yang awalnya ditolaknya mentah-mentah.
"Bismillah," ucap Valen pada dirinya sendiri.
Valen berhenti tepat dihadapan dua cowok tampan yang sibuk dengan ponselnya masing-masing itu. Rasa gugup atau mungkin takut kembali menyerangnya. Cewek itu berbalik untuk kembali memelas pada Fira yang masih berada dibalik pintu, namun Fira malah terlihat juga sibuk dengan ponsel digenggamannya.
"Ngapain?"
Deg, itu suara Dika.
Valen mematung. Ia bahkan lupa bagaimana caranya bernapas. Bibir bawahnya semakin keras ia gigit, hingga matanya ikut terpejam. Valen berbalik. Dihadapannya terlihat Dika dan Gariel yang sedang memandang datar kearahnya. Nyali Valen seketika menciut akibat tatapan dua cowok tampan itu sekaligus. Aura dingin dari keduanya kembali terasa sangat menusuk bagi Valen.
Sadar bukan saatnya melamun atau terpukau akan ketampanan dua pemuda dihadapannya, Valen berdehem untuk menetralkan suaranya agar tidak terdengar bergetar. Cewek itu meletakkan botol jeruk dari tangan kananya dihadapan Gariel dan botol ditangan kirinya dihadapan Dika.
Gariel dan Dika masih dalam mode datar. Keduanya hanya diam melihat kelakuan cewek yang sangat jelas terlihat gugup itu.
"Ini sebagai tanda terima kasih gue karena udah mau nebengin gue hari itu," Valen menjelaskan kearah Gariel terlebih dahulu. Cowok itu tak bereaksi apa-apa. Hanya diam, memandang botol plastik itu lalu kembali tepat pada manik Valen.
Valen terus menunduk, tak berani menatap salah satu dari keduanya. Walau tak melihat, Valen jelas dapat merasakan bahwa pandangan dua cowok itu terarah padanya. Valen bergidik sendiri membayangkan tatapan tajam cowok itu.
"Dan ini," Valen beralih pada botol yang sama dihadapan Dika. Arghh, Valen rasanya ingin ditelan bumi saja saat ini. Kakinya bahkan sampai lemas tak berdaya.
KAMU SEDANG MEMBACA
GALEN (SELESAI)
Teen Fiction"Jadiin gue pacar lo!" Valen membeku dalam keterkejutannya. Menunduk dalam. "Maksud kamu?!" "Jadiin gue pacar lo, kalau itu bisa menebus rasa bersalah," jawab Gariel enteng. --------------- Ini adalah kisah tentang mereka yang sama-sama tak menyadar...
