Pada awalnya, Bae Yujin mengira kalau Jimin benar-benar akan membebaskannya dan membiarkan dia hidup tenang bersama sang nenek. Tapi ternyata, itu hanya sekedar khayalan belaka.
Sungguh, Yujin pikir, terkurung dalam penjara terasa jauh lebih baik da...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Esoknya..
Tepat jam tujuh pagi, Yujin bangun dari istirahat panjangnya.
Pandangannya sedikit buram, namun perlahan netranya mulai menyesuaikan ruangan tempat ia berada.
"Sudah bangun?"
Yujin terkesiap ketika melihat sosok laki-laki sedang berdiri di depan cermin, dia sibuk mengancingi kemeja hitamnya.
"Kenapa aku di sini?" Suaranya hampir tak terdengar.
Yujin baru menyadari kalau ada jarum infus tertanam di punggung tangan kirinya. Dia bangkit dari posisi tidurnya susah payah. Tubuhnya masih terlalu lemas untuk diajak bergerak.
Dia mendongak untuk melihat sisa cairan infusnya, dan ternyata sudah hampir habis.
"Jimin-ssi.." panggilnya pelan. Si pemilik nama tidak meresponnya.
"Tentu," sahutnya. Lalu ia tersenyum tipis sebelum berjalan menghampiri Yujin.
"K-kau sungguh mengerti caranya??" Dia jadi sedikit gugup.
"Mm. Jangan takut. Percaya padaku."
"Kumohon pelan-pel- AARGH!!" Yujin memegangi punggung tangannya yang sakit dan ngilu. Jimin menariknya jauh dari kata pelan-pelan. Dia mencabut jarum itu tanpa peduli seberapa sakit yang Yujin rasakan.
Gadis itu menggigit bibir bawahnya menahan sakit. Matanya berkaca-kaca, tak bisa bohong dari rasa sakit.
"Ada lagi yang bisa kubantu?" ejek Jimin disusul tawa iblisnya.
Tok tok tok
Ketukan pintu kamar seketika menghentikan tawa mengerikan itu.
"Tuan, kau kedatangan tamu," ucap salah satu bodyguard-nya dari luar.
"Siapa?"
"Ini aku." Suara yang tak asing baginya. Jimin berjalan untuk membukakan pintu.
"Untuk apa datang ke rumahku sepagi ini??" Begitulah ia cara menyapa 'tamunya'.
Yujin tidak peduli apa yang terjadi. Dia masih fokus melihat tangannya yang mengeluarkan darah karena jarum yang ditarik paksa tadi.
"Aku ingin melepas infusnya dan melihat keadaannya."
"Aku sudah melepas jarumnya." Dia tersenyum miring.
"Mwo? Kau tahu caranya?" Seokjin terkejut dengan jawaban santai Jimin.
Jimin memberi jalan untuk Seokjin melihatnya sendiri.
"Boleh kulihat tanganmu?" Yujin kebingungan saat tangannya tiba-tiba diraih oleh seorang pria.
"Ya Park Jimin! Sekuat apa kau melepas jarumnya?!" Tatapan Seokjin terlihat sangat marah.
Namun dengan santainya Jimin hanya menampakan smirk untuk membalas omelan dokter pribadinya. Seperti manusia batu yang tidak punya perasaan, dia justru pergi keluar kamar untuk sarapan.