The Real Imposibility

778 134 86
                                        

Keadaan di luar kantor polisi semakin ramai saat Park Jimin turun dari mobil

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Keadaan di luar kantor polisi semakin ramai saat Park Jimin turun dari mobil. Para awak media langsung berkerumun menghampiri satu-satunya alasan mereka datang ke sini.

"Park Jimin-ssi, apa benar kau akan menjadi saksi atas kasus ini?"

"Apa kau memiliki hubungan dengan wanita yang kemarin kau tolong?"

"Bagaimana keadaan wanita itu sekarang? Kami tidak diizinkan masuk ke rumah sakit untuk mencari informasi karena dokter mengatakan kondisinya kritis."

"Lalu apakah kau akan menuntut pelaku yang menabraknya?"

Pertanyaan-pertanyaan tersebut tak terhindarkan oleh Jimin. Dia belum bisa menjawab apa pun. Terlebih alasannya datang ke kantor polisi adalah untuk menjadi saksi atas kecelakaan yang menimpa Yujin, sekaligus ingin bertemu langsung dengan orang yang dianggap sebagai pelaku.

"Mohon maaf, aku belum bisa menjawab pertanyaan kalian. Aku harus segera masuk ke dalam." Sejurus kemudian, Jimin yang didampingi Pak Han melangkahkan kaki ke dalam kantor polisi.

Saat masuk, Jimin disambut oleh salah seorang polisi lalu diantar ke ruangan khusus untuk dimintai keterangan lebih lanjut. Sejujurnya, pria itu sedikit merasakan hal yang tidak nyaman begitu dirinya dipersilakan duduk. Ia mendadak ingat kejadian satu tahun lalu. Waktu dimana ia juga dimintai kesaksian atas kasus pembunuhan calon istrinya, Kang Gaeun.

"Sebelumnya terima kasih atas waktumu untuk datang ke sini guna memberi kesaksian pada kami," ucap polisi di depannya.

Jimin tersenyum singkat. "Kurasa ini memang sudah kewajibanku," tanggapnya.

"Baik, bisa kita mulai sekarang?"

"Silakan.."

●°•♡•°●

Derap langkah kaki yang terdengar tergesa-gesa mencuri perhatian Nenek Hyejin dan Jungkook. Seorang dokter laki-laki dan suster wanita datang ke arah mereka kemudian langsung masuk ke dalam ruangan Yujin.

"Halmeoni..! Kau tidak apa-apa??" Jungkook reflek menahan tubuh Nenek Hyejin yang lemas.

Pemuda itu membantunya duduk di kursi tunggu. Dia berusaha semampunya untuk menenangkan nenek. Namun apa daya, tak banyak yang bisa dilakukan Jungkook. Nenek Hyejin tetap menangis dan berkali-kali menyebut nama cucunya.

"Halmeoni... apa sebaiknya-"

"Cucuku akan baik-baik saja, kan? Yujin tidak akan meninggalkanku, kan??"

Jungkook terdiam sejenak. Tidak tahu harus menjawab apa. Sebab dia sendiri tidak tahu keadaan Yujin seperti apa di dalam sana.

"Aku tidak mau kehilangan cucuku!" teriak nenek dibarengi tangisnya.

"Halmeoni.. tolong dengarkan aku," ucap Jungkook lembut seraya menggenggam tangan nenek, "dokter sedang menyelamatkan Yujin di dalam. Tidak ada yang bisa kita lakukan selain berdoa. Kumohon tenangkan dirimu, lebih baik sekarang kita berdoa untuk keselamatan Yujin, hm?"

Regret [Ongoing]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang