Pada awalnya, Bae Yujin mengira kalau Jimin benar-benar akan membebaskannya dan membiarkan dia hidup tenang bersama sang nenek. Tapi ternyata, itu hanya sekedar khayalan belaka.
Sungguh, Yujin pikir, terkurung dalam penjara terasa jauh lebih baik da...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Esoknya..
Seseorang mulai tersadar dari tidur panjangnya. Kelopak mata yang tadinya tertutup rapat, perlahan mulai terbuka. Sebelum ia bangkit dari posisinya, satu tarikan napas panjang ia hirup untuk mengumpulkan tenaga.
"Aakkh-" pekiknya sembari memegang kepala.
"Ssshh.. sakit sekali," rintih Jimin sambil mencoba duduk.
Pandangannya berkeliling memperhatikan kamarnya yang terang karena sinar matahari yang menembus masuk dari jendela besar. Dahinya mengernyit, ia mencoba mengingat apa yang terjadi semalam, alasan di balik kenapa kepalanya terasa sakit.
"Yujin."
Satu nama keluar dari bibirnya. Bahkan ia tidak menyalahkan whiskey yang justru penyebab utama ia mabuk berat dan berujung pingsan tadi malam.
Dia bangkit dari kasur empuknya dan segera keluar dari kamar.
Bibi Nam yang sedang menyiapkan sarapan tentu langsung menyambut Tuannya yang baru turun.
"Selamat pagi, Tuan. Sarapannya sudah-"
"Dimana Yujin?" potongnya tak acuh. Bibi sedikit tercekat mendengar pertanyaan itu. Dia takut kalau Jimin akan marah besar jika tahu Yujin tidur di kamar tamu tanpa seizinnya.
"J-joesonghamnida..."
"Dimana Yujin?!" Rahangnya mengeras.
"Di-dia.. dia... ada di kamar tamu, Tuan. M-maaf, semalam aku-" Jimin pergi sebelum Bibi Nam selesai bicara.
●°•♡•°●
Ceklek!
Pintu kamar terbuka dengan mudah karena tidak dikunci.
"Ya Yujin-ah!! Bangun!"
Sungguh tidak ada kata sopan santun di kamus Jimin untuk gadis yang tengah tertidur lelap itu. Dia membangunkan Yujin dengan bentakan kasar yang tentu membuatnya terlonjak kaget.
"Jimin-ssi.." lirihnya seraya mengucek mata.
"Siapa yang menyuruhmu tidur di sini, huh?!"
"Aku tidak-"
Tunggu! Kalau Yujin bilang bahwa ahjumma yang menyuruhnya tidur di sini, apa Jimin akan memarahinya?
"M-maaf... aku tidak tahu harus tidur dimana semalam. Dan akhirnya aku putuskan untuk tidur di sini. Maaf karena aku tidak meminta izin padamu sebelumnya." Ia terpaksa berbohong supaya Bibi tidak kena imbasnya. Dia tidak ingin Bibi Nam dimarahi atau diperlakukan kasar seperti dirinya.