Without You

1K 176 126
                                        

Suasana hening mendominasi ruangan beraroma obat-obatan yang khas

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Suasana hening mendominasi ruangan beraroma obat-obatan yang khas. Tampak satu orang laki-laki di sana sedang tertidur pulas di kursi kerjanya. Dengan setelan casual dan rambut yang sedikit berantakan, ia terlihat seperti pengunjung rumah sakit yang tersasar masuk ke ruangan dokter.

Kim Seokjin, pria itu tampak sangat kelelahan. Tidak peduli dengan posisi tidurnya yang kurang nyaman, ia memaksakan diri untuk beristirahat agar bisa kembali fokus memeriksa keadaan Yujin nanti.

Drrrtt... drrrtt...

Drrrrtt... drrrtt...

Suara getaran ponsel di atas meja berhasil membangunkan pemuda itu. Seokjin kepayahan membuka matanya yang terasa berat. Diraihnya ponsel itu dan kemudian alarm tersebut berhenti berdering. Tak heran jika Seokjin masih sulit membuka mata, sebab ia hanya tidur kurang dari dua jam. Itu pun tidak benar-benar tenang. Beberapa kali ia terbangun karena terlalu khawatir dengan Yujin.

Satu tangannya sibuk mengucek mata dan mengusap wajahnya sedikit kasar. Kali ini dia bisa melihat jelas jam digital yang tertera di layar ponselnya. Pukul empat pagi.

Ia menarik napas panjang sebelum berdiri dan bergegas ke kamar kecil guna membilas wajahnya dengan air. Setelah dirasa sudah benar-benar sadar, ia segera memakai pakaian khusus berwarna hijau tua. Juga tak lupa kain penutup kepala yang berwarna senada. Itu semua adalah perlengkapan wajib bagi dokter, perawat atau pengunjung yang akan memasuki ruangan pasien dengan perawatan khusus, demi menjaga ruangan tetap steril. Terlebih, Bae Yujin baru selesai dioperasi dan masih berada di UGD.

Sebenarnya Seokjin tidak perlu mengecek keadaan Yujin, karena sudah ada petugas yang selalu siap siaga mengawasi keadaan pasien setiap satu atau dua jam sekali. Namun dokter sekaligus kekasih dari Bae Yujin ini tidak mungkin bisa tenang jika belum memastikan keadaan gadisnya sendiri.

Berjalan di koridor menuju ruangan dimana Yujin berada. Sesekali ia memperhatikan keadaan sekitar. Lumayan sepi dan hanya ada beberapa perawat tengah berjaga di meja receptionist.

Seokjin memperlambat langkahnya tepat di depan ruangan Yujin. Ia memicingkan mata beberapa saat. Dan benar, terlihat sosok Park Jimin tengah tertidur dengan posisi bersandar di kursi tunggu. Ia tak sendiri, Pak Han pun masih di sana.

'Mereka belum pulang?' Alis Seokjin mengerut.

Enggan berlama-lama, Seokjin pun segera masuk untuk mengecek keadaan Yujin.

Suara mesin EKG (Elektrokardiogram) langsung menyapa rungu dokter tampan itu. Netra Seokjin tertuju pada layar benda tersebut. Mengecek kondisi Yujin lewat grafik detak jantungnya. Ia terdiam. Kemudian helaan napas lega berhembus pelan. Kondisi Yujin baik-baik saja sampai saat ini.

Seokjin menarik sebuah kursi kecil lalu duduk tepat di sisi ranjang. Terpaku menatap wajah kekasihnya yang tak kunjung membuka mata.

Tangan kirinya meraih jemari tangan kiri sang jelita. Sedangkan tangan satunya mengusap lembut kening dan juga rambut cokelat tua milik Yujin.

Regret [Ongoing]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang