Pada awalnya, Bae Yujin mengira kalau Jimin benar-benar akan membebaskannya dan membiarkan dia hidup tenang bersama sang nenek. Tapi ternyata, itu hanya sekedar khayalan belaka.
Sungguh, Yujin pikir, terkurung dalam penjara terasa jauh lebih baik da...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Selama di perjalanan menuju rumah Jimin, Yujin sama sekali tidak bisa duduk tenang di dalam mobil mewah ini. Tangannya jadi salah tingkah. Tidak tahu harus bagaimana supaya gemetar di tangannya berkurang.
Berkali-kali gadis itu berharap semoga lampu merah bisa lebih lama dari biasanya. Dia tidak ingin segera sampai di sana. Atau lebih tepatnya.. dia tidak ingin ke rumah itu.
"Ahjussi.."
"Ya, Nona?" sahutnya singkat tanpa menoleh sedikit pun- fokus menyetir.
"Apa dia sering seperti ini?"
"Tuan Jimin maksudmu? Ah.. bisa dibilang, dia sering hilang kendali sejak kepergian mendiang nona Gaeun. Aku sudah bekerja cukup lama dengannya. Dan memang terasa sekali kalau ada yang berubah darinya."
"Maksudmu.. dulu dia tidak seperti ini?"
Pak Han mengangguk dua kali. "Dia pria yang baik. Tuan Jimin sangat menyayangi nona Gaeun. Sikapnya yang hangat dan manis, membuat kami para pekerja di rumahnya pun dengan senang hati melaksanakan perintah darinya."
"Begitukah..? Tapi kenapa dia setega ini padaku?"
Bip biiipp~
Pak Han menekan kelakson memberi kode untuk dibukakan gerbang.
'Kita sudah sampai?? Kenapa cepat sekali?!'
Yujin meremas tali seatbealt yang melintang di depan dadanya. Pikirannya sudah kalut. Tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi di dalam sana.
"Yujin-ssi, cepat turun." Pak Han kelewat baik, ia sampai membukakan pintu mobil untuknya.
"Ahjussi.. aku takut.." lirih Yujin.
"Bicaralah baik-baik dengannya. Jangan buat kesalahan sedikit pun yang bisa memancing emosinya." Yujin hanya bisa mendengarkan saran Pak Han yang dirasa akan sia-sia.
Mereka berdua masuk ke dalam. Bibi Nam lantas menghampiri Yujin dengan gelagat panik.
"Nona.. k-kau.. sudah ditunggu di kamarnya." Begitulah kalimat sambutan dari ahjumma.
"Berikan tasmu. Aku akan simpan di kamar tamu." Bibi meraih tas berisi pakaian Yujin yang ia bawa tadi.
"Kamsahamnida." Tidak ada senyum dari bibir itu.
Gadis itu berjalan menaiki tangga menuju kamar si tuan rumah. Meninggalkan Pak Han dan Bibi Nam yang hanya bisa memperhatikan langkah ragu gadis malang itu.
Ketika dirinya sudah berada di depan pintu kamar bernuansa putih dengan kenop pintu berwarna gold, ia tak langsung mengetuknya. Seakan masih banyak doa-doa yang ingin ia ucapkan sebelum dirinya masuk ke ruangan tersebut.
Perlahan tangan kanannya mulai terulur ke atas guna mengetuk pintu. Dia mengepalkan tangan seraya memejamkan mata.