Pada awalnya, Bae Yujin mengira kalau Jimin benar-benar akan membebaskannya dan membiarkan dia hidup tenang bersama sang nenek. Tapi ternyata, itu hanya sekedar khayalan belaka.
Sungguh, Yujin pikir, terkurung dalam penjara terasa jauh lebih baik da...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Dua insan masih bersembunyi tenang di balik selimut mereka. Detak jarum jam menjadi satu-satunya suara yang memenuhi ruangan.
Sang jelita mulai bergerak ringan- mendusal hidungnya di permukaan yang hangat. Menghirup ringan aroma maskulin yang asing, namun ia menyukainya.
Tak lama kedua manik indahnya terbuka.
"Good morning.." sapa Jimin dengan mata terpejam.
Ia menatap bingung pria di depannya. Jimin tersenyum lalu membuka matanya. Mempertemukan tatapan yang sama seperti tadi malam.
Plak!
"Awh!-"
Satu pukulan mendarat di lengan Jimin.
"Ya! Kenapa kau memukulku??"
"Bukankah kau bilang 'boleh' semalam?" ucapnya santai dengan suara serak khas bangun tidur.
"Ah, kau ingat rupanya." Jimin berbaring terlentang menatap langit-langit kamar. "O?! Apa kita bisa membahasnya sekarang??" Tubuhnya kembali menghadap Yujin.
"Bahas apa?"
"Uhmm..." Sorot matanya melirik bibir si gadis. "Aak-!!" Kali ini bantal guling yang melayang tepat di wajahnya.
"Dasar mesum!"
"Tapi kau bisa tidur nyenyak karena aku, kan?" bangganya. "Bahkan beberapa menit lalu kau mendusal seperti anak bayi di dadaku."
"Mwo??"
"Aah.. seharusnya aku pasang cctv di kamar ini."
"Yak!" Dia melototi si tuan rumah. "Sekarang keluarlah.. kembali ke kamarmu," ucapnya seraya bangkit dari posisi berbaringnya.
"Aku lebih suka kau yang semalam," celetuk Jimin, "wajahmu terlalu manis untuk jadi wanita galak. Tidak cocok. Aku tidak suka."
"Baguslah kalau kau tidak suka."
"Yaak!!"
Drrtt.. drrrtt..
Ponsel Yujin bergetar di atas nakas. Dan sialnya, Jimin yang lebih dulu mengambilnya, karena posisinya lebih dekat dari meja itu.
"Dokter oppa?" Ia membaca nama panggilan yang tertera di layar.
"Berikan ponselnya!" pinta Yujin.
"Yeoboseyo..?"
"Hey!" Yujin mencoba merebut ponsel pemberian Jimin tersebut, namun tak berhasil.
"Jimin?" Suara dokter Kim di ujung sana.
"Ada apa pagi-pagi menelepon?"
"Dimana Yujin? Berikan ponselnya, aku ingin bicara.."
"Bicara saja, nanti aku sampaikan."
Ini masih pagi, tapi Jimin berhasil memancing emosi Bae Yujin.
"Apa dia sedang mandi? Lalu kau tidak sengaja masuk ke kamarnya?"