Pada awalnya, Bae Yujin mengira kalau Jimin benar-benar akan membebaskannya dan membiarkan dia hidup tenang bersama sang nenek. Tapi ternyata, itu hanya sekedar khayalan belaka.
Sungguh, Yujin pikir, terkurung dalam penjara terasa jauh lebih baik da...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Kau akan diantar Pak Han," ucap Jimin datar.
"Tidak. Aku akan pulang sendiri."
"Kau punya uang?" tanya Jimin seraya menatapnya jengah. Yujin terdiam, lupa kalau ia tidak punya apa-apa selain pakaian yang ia kenakan.
"Atau mau aku yang antar?"
Wanita itu mematung. Entah mengapa Yujin merasa itu bukan sebuah tawaran, melainkan ancaman baru. Dia tidak ingin pria kejam ini menemui neneknya. Apalagi kalau sampai Jimin menjadikan nenek Hyejin sebagai target untuk mengancamnya di lain waktu.
Dia menghela napas pelan. "Baik, aku akan diantar Pak Han." Dengan terpaksa ia menuruti perintah Jimin.
Ada senyum tersungging di bibir tebal Tuan Park. "Lusa kau akan dijemput lagi. Tidak peduli jika nenekmu masih ingin kau di sana, kau tetap harus kembali ke sini. Mengerti?" Yujin mengangguk samar.
"Cepat habiskan makananmu. Pak Han akan menunggu di mobil." Jimin berjalan meninggalkan Yujin di meja makan.
"Jimin-ssi.."
Jimin berhenti, namun tidak menjawab atau pun menoleh.
"Terima kasih," ucap Yujin tulus. Gadis itu tersenyum di balik punggung Jimin, lalu menyantap roti buatan Seokjin tadi dengan lahap.
●°•♡•°●
Sedari tadi Pak Han memperhatikan Yujin diam-diam. Dia tahu kalau anak itu sangat merindukan neneknya. Seharusnya dia merasa senang karena diberi kesempatan untuk bertemu sang nenek. Tapi nyatanya, Yujin terlihat tak bergairah. Dia terus memandangi jalanan di balik jendela mobil, tanpa senyum seperti saat dia dibebaskan dari penjara hari itu.
"Nona," Yujin menoleh ke arah pria yang sedang menyetir di sampingnya, "apa kau tidak senang bisa kembali ke rumah nenekmu? Bukankah ini yang kau inginkan sejak awal?"
Yujin kembali menatap lurus ke depan, dia menarik napas dalam dan menghembuskannya perlahan.
"Aku hanya diberi waktu dua hari untuk bertemu nenek. Setelah itu.. aku tidak tahu apa yang akan terjadi padaku nanti saat kembali ke rumah pria sadis itu. Aku tidak tahu harus mengatakan apa supaya nenek tidak mengkhawatirkanku. Membiarkannya sendirian saja sudah membuatku merasa bersalah. Lalu- apa aku harus berbohong juga pada nenek??"
Yujin menatap Pak Han. "Bukankah aku cucu yang jahat, Ahjussi..?" Matanya berkaca-kaca, dan Pak Han juga bisa melihat bibir Yujin bergetar menahan tangis.
"Kalau kau menyayangi nenekmu, seharusnya kau tidak-" Pak Han berhenti bicara karena melihat perubahan ekspresi pada raut wajah Yujin.
"Ahjussi juga percaya kalau aku yang membunuh kekasihnya?" tanya Yujin tanpa ada rasa terkejut lagi. Dia sudah terbiasa dihakimi dengan kata-kata pahit seperti ini.