Pada awalnya, Bae Yujin mengira kalau Jimin benar-benar akan membebaskannya dan membiarkan dia hidup tenang bersama sang nenek. Tapi ternyata, itu hanya sekedar khayalan belaka.
Sungguh, Yujin pikir, terkurung dalam penjara terasa jauh lebih baik da...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Tanpa terasa, satu minggu berlalu. Yujin semakin terbiasa dengan rumah mewah yang ia tinggali, begitu juga dengan si tuan rumah yang tampak nyaman dengan hadirnya sosok Bae Yujin. Seolah memang sudah seharusnya Yujin berada di sana, jadi setiap Yujin hilang dari pandangannya, pria Park itu langsung bertanya pada Bibi Nam, Pak Han atau beberapa pekerja yang lain di rumahnya untuk mencari keberadaan wanita itu.
Tak jarang, akhir-akhir ini Yujin jadi sering membantu Bibi Nam memasak. Bahkan dua hari terakhir, Jimin justru sengaja menyuruh Bibi Nam melakukan pekerjaan lain supaya Yujin memasak sendiri makanan untuknya.
Dia sedang melatih Yujin menjadi istrinya atau apa?
Padahal Yujin sudah bilang dia pun masih belajar dan tidak tahu banyak soal memasak. Dan lagi, Jimin tidak peduli. Dia bahkan rela hanya makan nasi dengan telur mata sapi saja, karena saat itu Yujin sedang malas berurusan dengan alat dapur. Yujin pikir, dengan begitu Jimin tidak akan menyuruhnya masak lagi. Namun diluar dugaan, Jimin justru melahap telur goreng yang hanya dibumbui sedikit garam dan merica dengan senyum yang tak luntur.
Tidak berhenti sampai di situ, sejak Jimin menyatakan perasaan cintanya pada Yujin, sikapnya jadi lebih posesif. Dia benar-benar menyuruh Yujin stay di rumah. Kalau Yujin ingin keluar atau pergi ke rumah neneknya, tentu harus diantar Pak Han.
Apa dia sungguh tipe suami yang menyebal- ehh maksudnya suami yang overprotective kelak?
Dan lagi! Di hari pengecekan kesehatan Jimin empat hari lalu, dia pergi ke rumah sakit sendiri. Ia tidak ingin Yujin ikut atau sekedar menemaninya. Meski Yujin sudah memohon dan berjanji tidak akan ikut masuk untuk menemui Dokter Kim, namun laki-laki itu tetap melarangnya. Menyebalkan, bukan?
"Aku berangkat ke kantor, ya," pamit Jimin setelah beranjak dari meja makan.
"Jimin-ssi,"
"Lagi?? Harus berapa kali aku bilang, jangan panggil aku seperti itu!" omelnya pada Yujin.
"Tuan Jimin?" ledeknya datar.
"Ck! Panggil aku oppa. Ooooo- ppa. Mudah, bukan? Anak bayi saja bisa."
Yujin mendengus. "Bayi ajaib mana yang bisa bicara?"
"Sudahlah aku pergi." Jimin berjalan ke arah pintu.
"Yaa.. tunggu! Jimin-ssi!" Sosok yang dipanggil tetap menghiraukan panggilannya.
"OPPA!" teriak Yujin lantang.
Jimin tersenyum lebar di balik punggungnya. Kemudian dengan santainya ia membalikkan badan. "Ada apa?"
Yujin menghampirinya. "Nanti siang aku ingin pergi-"