Pada awalnya, Bae Yujin mengira kalau Jimin benar-benar akan membebaskannya dan membiarkan dia hidup tenang bersama sang nenek. Tapi ternyata, itu hanya sekedar khayalan belaka.
Sungguh, Yujin pikir, terkurung dalam penjara terasa jauh lebih baik da...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Seokjin menghentikan mobilnya tak jauh dari posisi pintu gerbang rumahnya. Dia kembali melihat kaca spion dan mendecih sekilas. Seokjin pun keluar dari mobil. Menatap lurus ke arah seseorang yang masih berdiam diri di kursi kemudinya.
"Masih mau di sana?" Jimin merasa terpancing dengan ucapan Seokjin barusan. Kemudian ia keluar dari mobilnya dengan emosi yang tertahan.
"Kau ingin bertamu di rumahku?" tanya Seokjin dengan senyum palsu.
"Aku tidak butuh basa-basimu. Lebih baik kita selesaikan semuanya sekarang," tekan Jimin serius.
Seokjin mendecak dan tersenyum. "Apa kau mengalami amnesia lagi, Jimin-ssi?"
"Berhenti main-main. Cepat katakan dimana Yujin." Nada bicaranya terdengar dingin.
"Dengan perginya Yujin dari rumahmu, itu sudah sangat jelas bahwa semuanya sudah selesai. Apa kau masih tidak paham?"
"Itu karena kau yang menghasutnya supaya pergi dariku! Sekarang katakan dimana Yujin!"
"Ya Park Jimin, berkacalah sebelum bicara. Jika bukan karena sopirmu, mungkin Yujin sudah mati di tanganmu, Berengsek!"
Tangan Jimin mengepal kuat setelah mendengar perkataan Seokjin yang tak ingin dia dengar lagi.
"Kenapa? Apa aku salah? Kau sendiri yang menginginkan Yujin mati. Lalu sekarang, kau membutuhkannya untuk bertahan hidup?"
Jimin tak dapat menahan emosinya lagi. Dia menghampiri Seokjin yang berjarak beberapa langkah darinya. Menarik kerah kemeja Seokjin dengan kasar lalu beradu tatap.
"Jangan pernah bahas itu lagi di depanku! Aku tidak bermaksud untuk membunuhnya!-"
Seokjin melepas cengkeraman Jimin tak kalah kasar dan mendorong dadanya sampai Jimin mundur selangkah. "Lalu apa sebutan yang pantas atas tindakanmu itu?! Menggertaknya? Memberi pelajaran? Balas dendam?"
"DIA SUDAH MEMBUNUH CALON ISTRIKU! DIA MEMBUNUH WANITA YANG KUCINTAI! DIA-"
Bughh!!
Jimin jatuh tersungkur setelah mendapat pukulan mentah dari Seokjin.
"Jika kau begitu mencintai Gaeun, kenapa tidak kau saja yang mati?! Temui dia di sana. Dan biarkan Yujin hidup bahagia bersamaku."
"Aku akui bahwa Yujin adalah gadis bodoh. Bodoh karena sudah memberikan kesempatan hidup untuk orang yang ingin menghabisi nyawanya." Seokjin terus mengeluarkan isi hatinya yang selama ini dia pendam.
Jimin perlahan bangkit dari posisinya dan kembali berdiri di hadapan Seokjin.
"Ah~ aku baru ingat," Seokjin tiba-tiba membuka pintu mobilnya dan mengambil sesuatu, "ambil ini!" Dia menyerahkan sebuah amplop putih di tangan Jimin.