The Biggest Mistake

948 199 108
                                        

Di sebuah cafe, seorang laki-laki tengah duduk sendirian di sudut ruangan bernuansa hangat

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Di sebuah cafe, seorang laki-laki tengah duduk sendirian di sudut ruangan bernuansa hangat. Ditemani secangkir cappucino yang sudah diminum setengahnya.

Seokjin tampak sibuk membaca pesan yang dikirim oleh Yujin di ponselnya. Tak lama kemudian, sebuah panggilan telepon dari eomma-nya membuyarkan atensinya.

"Nee, eomma.. ada apa?"

"Tidak ada. Eomma hanya.. ingin menghubungimu saja. Kau sedang apa?"

"Ada apa ini? Apa eomma merindukanku?" canda Seokjin sembari menyeruput cappucino-nya.

"Tentu saja eomma merindukanmu. Akhir-akhir ini kau lebih sering tinggal di apartemenmu. Omong-omong kau sedang dimana? Bising sekali.."

"Aku sedang di cafe."

"Omo! Apa sekarang kau sedang berkencan dengan kekasihmu?? Maaf kalau eomma mengganggu kalian."

"Tidak eomma, aku sedang sendirian di sini."

"Dimana gadis yang pernah kau ceritakan waktu itu? Bukankah kau bilang akan segera mengenalkannya pada kami?"

Bip bip-
Bip bip-

Seokjin melihat layar ponselnya sekilas. Ternyata ada panggilan lain masuk di tengah-tengah percakapan mereka.

"Eomma, maaf, ada panggilan masuk dari rekan kerjaku, aku matikan dulu ya. Aku akan pulang ke rumah nanti. Sampai ketemu." Kemudian ia langsung menerima panggilan keduanya.

"Ada apa?" tanyanya tanpa basa-basi.

"Kau dimana? Cepat ke rumah sakit sekarang!" titah seseorang di sana.

"Kenapa? Apa ada sesuatu yang-"

"Wanita yang pernah kau temani waktu itu, baru saja kecelakaan. Lukanya sangat parah. Aku tidak tahu bagaimana-- ahh sudahlah! Cepat kau datang ke sini!"

"Kau jangan bercanda! Yujin ada di apartemenku, dia tidak mungkin-"

"Ya Dokter Kim, aku juga seorang dokter. Bercanda dengan nyawa seseorang sama sekali tidak lucu, bukan?"

"Ya!! Dokter Jung!" Seokjin tanpa sadar berteriak ketika panggilan tersebut dimatikan sepihak oleh rekannya.

Seokjin langsung beralih mencari nama Yujin di daftar panggilan. Berharap kalau Yujin segera mengangkat teleponnya. Dalam waktu beberapa detik, hanya terdengar nada sambung. Tidak ada tanda-tanda kalau Yujin akan menjawabnya.

Tak ingin membuang waktu sedetik pun, Seokjin segera keluar cafe dan berlari menuju mobilnya yang terparkir di depan.

Raut wajahnya benar-benar panik dan bingung. Meskipun dia masih tidak percaya dengan kabar buruk tersebut, Seokjin tetap pergi ke rumah sakit untuk memastikan keadaan Yujin.

Regret [Ongoing]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang