She Really Needs Water

1.4K 367 65
                                        

Perut Yujin mulai terasa sakit

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Perut Yujin mulai terasa sakit. Lambungnya perih seperti dicubit. Berkali-kali dia merintih pelan sambil memegangi perutnya. Entah sudah berapa lama ia menunggu seseorang untuk membukakan pintu gudang ini. Berharap ada yang mengantarkan makanan supaya dia bisa bertahan di sini sampai Jimin membebaskannya.

Mungkin sudah tiga jam?
Atau.. empat jam?

'Apa dia benar-benar ingin aku mati kelaparan??' batin Yujin menerka.
 

Tok tok

Yujin mengetuk pintu dari dalam dengan hati-hati.

"Ahjussi.. aku tahu kau di luar. Kau sedang berjaga di depan pintu ini, kan?" Yujin diam, menunggu jawaban dari salah satu bodyguard suruhan Jimin, tapi percuma, tidak ada respon apa-apa.

"Ahjussi.. aku hanya ingin bertanya, jam berapa sekarang? Tidak bisakah kau beri tahuku? Di sini aku tidak bisa melihat apa-apa, terlalu gelap."

"Jam lima sore." Yujin terkejut karena akhirnya dijawab.

Aah.. pantas saja perutnya terasa perih. Sekarang sudah jam lima sore. Dia melewatkan makan siang.

Apa mungkin Jimin baru akan memberinya makan nanti malam?

"Ahjussi, terima kasih karena sudah menjawab. Dan terima kasih karena kau sudah menjagaku dari luar. Aku jadi tidak terlalu takut."

Yujin menempelkan telinganya ke pintu, pria itu tidak menjawab lagi.

"Tak apa jika kau tidak menjawabku. Aku tetap berterima kasih."
  

Dua jam kemudian..

Waktunya makan malam. Jimin sudah duduk manis di depan meja makan. Berbagai jenis lauk sudah disiapkan oleh ahjumma. Tentu saja makanannya terlihat sangat lezat.

Ahjumma yang bekerja di rumah ini biasa dipanggil Bibi Nam. Dia sudah lima tahun bekerja di sini. Sejak Jimin berusia dua puluh satu tahun. Ya, sekarang majikan tampannya itu berusia dua puluh enam tahun. Selisih dua tahun lebih tua dari Bae Yujin.

"M-maaf, Tuan, apa aku boleh bertanya sedikit?" ucap Bibi Nam setelah menuangkan air ke gelas Jimin.

"Apa? Tanyakan saja," sahut Jimin santai.

"Gadis yang kau bawa tadi.. siapa? Lalu, kenapa dia harus dijaga oleh beberapa orang berbadan besar itu?" Ahjumma melirik ke arah salah seorang bodyguard yang berdiri di dekat pintu.

"Maaf karena membuatmu terkejut dan bingung. Gadis itu adalah orang yang telah membunuh Gaeun, calon istriku," terang Jimin blak-blakan.

Bibi Nam tak bisa berkata apa-apa. Dia sangat terkejut sampai menutup mulutnya yang terbuka.

"K-kau yakin dia orang yang membunuh Nona Gaeun?"

"Tentu." Keyakinan Jimin tidak goyah sama sekali.

"Tapi sepertinya..."

Regret [Ongoing]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang