Pada awalnya, Bae Yujin mengira kalau Jimin benar-benar akan membebaskannya dan membiarkan dia hidup tenang bersama sang nenek. Tapi ternyata, itu hanya sekedar khayalan belaka.
Sungguh, Yujin pikir, terkurung dalam penjara terasa jauh lebih baik da...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Dokter laki-laki yang tengah memeriksa Yujin seketika menoleh ke arah pintu, begitu juga dengan suster di sampingnya.
“Bagaimana keadaannya?” tanya Seokjin begitu dirinya berdiri di sisi Yujin.
“Syukurlah dia tertolong. Pasien ini mengalami shock dan pingsan karena kekurangan oksigen. Nadinya sempat melemah, tapi sekarang sudah kembali normal. Untung saja pria paruh baya itu membawanya tepat waktu,” tutur rekan dokternya, “apa kau mengenalnya?” sambungnya penasaran.
Seokjin mengangguk dengan sorot mata yang sama sekali tidak berpaling dari Yujin.
“Bagaimana dia bisa mengalami ini? Apa pelakunya sudah dilaporkan ke polisi?”
“Aku akan melaporkannya segera. Dia harus membayar perbuatan kejinya ini,” tegas Seokjin menahan amarahnya.
“Baiklah. Sekarang hanya tinggal menunggu dia sadar.”
“Kamsahamnida,” ucap Seokjin sebelum dokter tersebut beranjak dari sana.
“Heey.. kau sungguh terlihat seperti walinya,” gurau sang dokter sembari tertawa kecil.
Setelah menepuk pundak Seokjin dua kali, rekannya tersebut akhirnya keluar ruangan bersama suster yang tadi membantunya.
Di luar, tepat saat pintu terbuka, Pak Han segera bangkit dari kursi dan menghampiri laki-laki berjas putih dengan stetoskop di sakunya.
“Bagaimana keadaannya, Dok?? Dia selamat, kan??”
Dokter itu tersenyum. “Jangan khawatir, pasien baik-baik saja. Terima kasih karena kau segera membawanya ke sini. Kaulah yang menyelamatkannya.”
Kedua netranya berkaca-kaca. Pak Han mengelus dada- lega.
“Terima kasih, Dok.”
“Kami juga berterima kasih, karena kau sudah melakukan hal yang benar.”
“Apa Yujin masih belum sadar?”
Dokter mengangguk dan berkata, “kau boleh masuk jika ingin melihatnya.”
“Tapi di dalam masih ada Dokter Kim, kan?”
“Ya. Sepertinya dia juga shock melihat temannya menjadi korban kekerasan. Apa aku harus menyuruhnya keluar supaya kau bisa-“
“T-tidak perlu. Biarkan saja dia di dalam. Aku sudah cukup lega mendengar bahwa Yujin baik-baik saja.”
“Ah.. baiklah. Kalau begitu, kami permisi dulu. Selamat malam.” Dokter dan suster membungkuk singkat, begitu juga Pak Han. Dia mengucapkan terima kasih sekali lagi.
●°•♡•°●
Di sisi lain, suasana mencekam masih menyelimuti kamar Park Jimin. Sejak dirinya ditinggalkan seorang diri di sana, Jimin masih belum pindah dari posisinya yang terduduk di lantai. Dia bersandar pada tiang tempat tidurnya. Rambutnya sangat berantakan. Mungkin dia sempat mengacak atau bahkan menjambak rambutnya sendiri tadi. Kemeja yang ia kenakan tampak kusut sana-sini.