Pada awalnya, Bae Yujin mengira kalau Jimin benar-benar akan membebaskannya dan membiarkan dia hidup tenang bersama sang nenek. Tapi ternyata, itu hanya sekedar khayalan belaka.
Sungguh, Yujin pikir, terkurung dalam penjara terasa jauh lebih baik da...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Ahjumma," panggil Jimin dari ruang tamu.
Butuh beberapa detik untuk Bibi Nam berjalan dari dapur menuju posisi majikannya. "Ya, Tuan?"
"Panggil Yujin untuk makan malam. Sudah hampir satu jam dia belum keluar dari kamar."
"Baik, Tuan."
Ini sudah jam delapan, namun Yujin belum juga keluar dari kamarnya. Jimin sempat berpikir, apa mungkin dia marah karena sudah diperlakukan sekasar tadi?
'Untuk apa juga aku memikirkan wanita itu?' Egonya kembali berbisik.
Di sisi lain, Bibi Nam mengetuk pintu kamar Yujin beberapa kali, tapi belum ada jawaban.
"Nona.. Tuan memanggilmu untuk makan malam. Cepat keluarlah.."
"Non-"
Pintu kamar akhirnya terbuka, menampakkan diri Yujin yang sudah mengenakan piyama.
"Maaf, Bi, sepertinya aku tidak ingin makan," sahutnya lemah.
"Tapi-"
"Sampaikan saja padanya, aku ingin istirahat, hm?" lirih Yujin di ambang pintu.
"Ah, tidak. Aku baik-baik saja. Mungkin hanya butuh istirahat."
"Ada baiknya kau makan dulu. Atau mau kuambilkan makanannya?"
"Tidak. Itu akan merepotkanmu. Sungguh, aku hanya ingin istirahat." Wajah lesunya tak bisa disembunyikan lagi.
"B-baiklah. Selamat istirahat. Panggil aku jika kau butuh sesuatu," pesan Bibi Nam penuh perhatian.
"Kamsahamnida.." Yujin tersenyum sebelum menutup rapat pintu kamarnya.
Ahjumma kembali ke ruang tamu untuk menemui majikannya. Namun sayang, sosok yang ia cari sudah tidak ada di sana.
'Mungkinkah dia sudah kembali ke kamarnya? Atau.. dia pergi ke ruang kerjanya?' terkanya dalam hati.
Setelah berpikir singkat, wanita paruh baya tersebut memutuskan untuk tidak menghampiri Jimin hanya untuk memberi tahu bahwa Yujin menolak makan malam. Nanti yang ada.. Jimin kembali memarahi gadis itu karena tidak menurut. Sudah cukup melihat Yujin disiksa dua kali dalam sehari. Melihatnya tercebur di kolam renang dan diseret keluar saat hujan deras, sudah cukup membuat Bibi Nam ikut miris merasakan penderitaan Yujin.
●°•♡•°●
Pukul setengah sepuluh malam, Jimin keluar dari ruang kerjanya. Kebetulan ia melihat Bibi Nam yang sedang merapikan ruang tamu dan akan segera menuju kamarnya.