Boyfriend?

1.1K 343 110
                                        

Jujurly aku kangen banget sama kalian yang suka komen di cerita ini.

Ayo banyak-banyak komen lagi di sini. Aku jadi semangat nulis kalau rame 🔥

Sumpah aku tuh kangen banget!
Sampe baca-bacain komenan yang di chapter-chapter sebelumnya.

Berasa kaya udah temenan sama kalian 😢

Love you!
Sayang banget sama kalian! Asli! 😫

Happy reading kesayangan aku~

Di tengah-tengah ciuman lembut yang diberikan oleh Jimin, tanpa sadar air mata Yujin meleleh begitu saja di kedua pipinya

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Di tengah-tengah ciuman lembut yang diberikan oleh Jimin, tanpa sadar air mata Yujin meleleh begitu saja di kedua pipinya. Jimin yang menyadari hal itu perlahan menyudahi kegiatan manis mereka.

Ditatapnya kedua mata indah itu dari jarak dekat.

"Ada apa?" tanyanya lembut. "M-maaf.. aku sudah lancang. Jangan menangis lagi, ya.." Ia mengusap pipi mochi Yujin dengan ibu jarinya.

'Kau sudah gila Yujin-ah. Gaeun pasti kecewa dan sedih melihat kekasihnya bermesraan dengan wanita lain. Dan bodohnya lagi, wanita jahat itu adalah kau, Bae Yujin!' rutuknya dalam hati.

Bulir bening dari matanya bukanlah air mata haru karena Jimin bersikap manis padanya, melainkan rasa kecewa serta amarah pada diri sendiri yang tidak bisa ia lampiaskan di depan Jimin sekarang.

Yujin marah- membenci dirinya yang telah bersenang-senang dengan Jimin hari ini. Melupakan kejadian yang meninggalkan trauma dan depresi di dalam diri mereka masing-masing.

Yujin tidak tahu apa yang diinginkan hatinya sendiri. Di satu sisi dia senang melihat Jimin tertawa lepas tanpa ada beban yang selama ini menyiksanya. Memperlakukannya bak ratu di negeri dongeng. Namun ada fakta yang mustahil dihindari. Ia tidak tahu kapan semuanya akan berakhir.

Saat ini Yujin merasa bahwa ia sedang bermimpi dalam tidur panjangnya. Mimpi indah yang membuatnya lupa bahwa Jimin pernah memenjarakannya dan menyiksanya tanpa ampun di istana megahnya itu.

Air matanya tak kunjung berhenti. Jimin semakin dibuat bingung dengan tingkah Yujin yang tiba-tiba menangis.

"Hey... ada apa??" Wajahnya mendekat, memerhatikan setiap inci wajah Yujin.

"Baiklah, aku mengerti," ucap Jimin tiba-tiba.

Dalam satu kedipan mata, dirinya sudah berada dalam dekapan hangat Park Jimin. Pria itu memeluknya sangat erat. Melingkarkan kedua tangannya di balik punggung mungil si jelita.

Yujin kembali memejamkan mata. Membiarkan rasa hangat dan nyaman memeluknya untuk sesaat. Mungkin esok atau lusa, bisa jadi Jimin sudah mengingat semuanya. Dan ia akan melupakan semua yang terjadi hari ini. Membuang semua tawa-canda yang sempat mereka ukir tanpa ada yang terluka. Melupakan bahwa mereka pernah menulis cerita indah seperti saat ini.

Regret [Ongoing]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang