BAB 16 - Aku Bukan Bayangan

863 140 31
                                        

"Karin pulang!" teriak Karina begitu kakinya menjejak ambang pintu.

Nada cerianya, memantul di dinding rumah megah itu. Namun tak ada yang menjawab. Sepatu sneakers-nya beradu dengan lantai marmer, meninggalkan jejak langkah yang terdengar begitu jelas di ruang tamu yang sunyi.

Karina langsung menuju dapur. Tenggorokannya kering. Ia membuka kulkas, menarik botol air, lalu meneguknya cepat-cepat. Suara aliran air yang jatuh ke dalam gelas menenangkan. Setidaknya sampai langkah berat seseorang terdengar dari arah ruang kerja.

Sret. Ayahnya muncul dengan wajah tegang dengan selembar kertas di tangan.

"Karin, apa ini?" suaranya berat, datar, tapi tajam. "Kenapa nilai kamu malah gak karuan akhir-akhir ini?!"

Karina terdiam, gelas di tangannya bergetar sedikit. Ia tahu momen ini akan datang. Ia menarik napas panjang, mencoba menyiapkan diri.

"Kamu udah Papa ijinin buat ambil les tambahan, sampai les privat juga. Masa begini hasilnya? Buang-buang duit aja!"

Nada suara itu meninggi, memantul di ruang dapur yang putih bersih. Karina menunduk. Pandangannya jatuh pada ubin dingin di bawah kakinya. Sudah biasa. Setiap kali nilainya menurun sedikit saja, seisi rumah seperti ikut menilainya gagal.

Tangannya menggenggam erat sisi meja, menahan diri agar tidak meneteskan air mata. Ayahnya seperti lupa bahwa anaknya juga manusia, bukan mesin pencetak angka sempurna.

"Pa, nilai Karin itu baru turun sekarang! Udah jangan diomelin mulu anaknya!" Suara lembut ibunya terdengar dari arah lorong. Wanita itu berjalan keluar dari kamar, wajahnya masih lelah, tapi matanya memancarkan keprihatinan. "Kasihan dia, baru juga pulang."

Namun sang ayah tak bergeming. "Kalau dibiarkan, makin keterusan! Lagian pake segala pacaran. Kalau gini mana bisa kamu ngalahin Liana? Lihat dia, tanpa les aja bisa kok jadi juara. Kenapa kamu gak bisa?!"

Nama itu. Liana. Lagi-lagi menjadi pembanding yang selalu menjadi senjata ayahnya untuk menyerang egonya. Dada Karina langsung menegang. Ia menunduk makin dalam, jemarinya kini meremas rok seragamnya hingga berkerut.

Liana lagi. Selalu Liana. Seakan-akan hanya ada satu anak berharga di dunia ini, dan itu bukan dirinya.

"AKU SAMA LIANA BEDA, PA! HARUSNYA PAPA SADAR ITU!"

Suara Karina pecah di udara. Matanya memerah, air mata menahan di sudut, tapi gengsinya menolak untuk jatuh.

Keheningan tiba-tiba menelan rumah itu. Ayahnya terpaku beberapa detik, sementara ibunya melangkah perlahan ke arah Karina, hendak merengkuhnya. Tapi gadis itu sudah berbalik, melangkah cepat ke kamarnya.

Pintu kamar dibanting keras. Suara itu bergema, seperti dentuman kecil dari hati yang hancur lagi. Karina menjatuhkan tubuhnya di lantai, bersandar pada dinding. Pandangannya kosong. Di luar sana, ayahnya masih bicara dengan nada tinggi—namun semua terdengar seperti dengung samar di telinganya.

Ia menutup mata. Selalu seperti ini. Selalu dibandingkan, selalu dikejar bayangan Liana yang tampak sempurna di mata semua orang. Padahal Liana adalah sahabatnya. Sejak SMP, mereka selalu bersama—tertawa, belajar, saling bantu. Tapi sejak ayahnya mulai menjadikan Liana sebagai tolak ukur hidupnya, hubungan itu perlahan retak.

Dulu Karina tidak peduli. Tapi lama-kelamaan, setiap kata pujian untuk Liana terdengar seperti hinaan untuknya. Liana itu rajin banget, ya. Liana pinter banget, ya. Liana cantik banget, ya. Dan di balik setiap pujian itu, Karina selalu mendengar gema tak kasat mata: Kenapa kamu gak kayak dia, Karina?

Padahal Karina bukan anak bodoh. Ia hanya tidak seperti Liana—yang seolah punya bakat alami untuk segala hal. Liana belajar sebentar, langsung paham. Karina harus bergadang semalam suntuk hanya untuk sekadar setara. Beda. Tapi kenapa semua orang menolak mengakui itu?

HEARTBREAKER  [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang