Musim UAS semester satu untuk angkatan Seokjin telah usai. Tinggal menunggu hasil saja sambil menikmati libur semester. Setelah berjuang hampir 2 minggu penuh untuk belajar, kebanyakan mereka memilih untuk pergi berlibur atau sekedar kembali ke kampung halaman.
Berbeda dengan yang dilakukan Seokjin, dia mulai mendaftar organisasi di jurusannya. Ia ingin menyibukkan diri. Mengalihkan pikirannya dan memilih untuk ikut organisasi sebagai opsi paling baik dalam waktu dekat. Ia menolak ajakan Appanya untuk berlibur. Karena ia yakin, itu bukan murni liburan, pasti ia akan bertemu dengan teman bisnis Appanya dan harus cukup siap untuk lebih sering memikirkan perusahaannya.
Seperti sekarang ini, dua orang telah bermalas-malasan disebuah ranjang berukuran king size dan memiliki sprey berwarna dusty pink. "Jin, lo yakin mau daftar organisasi univ juga?" tanya Jimin yang masih tidak melepaskan matanya dari handphone ditangannya yang menampilkan laman webtoon favoritnya.
"Hm" Seokjin masih fokus menonton drama dari handphonenya dengan posisi tengkurap disamping Jimin yang bersandar pada sandaran tempat tidur.
"Lo nanti kedepannya emang bisa bagi waktu sama ngerjain tugas?" Jimin meletakkan handphonenya dan mengalihkan atensinya penuh pada Seokjin.
"Iya," jawabnya masih tidak bergeming dari layar handphonenya.
"Lo juga harus ketemu sama temen bisnis Appa lo tai!" Jimin mengambil paksa handphonenya.
Seokjin sontak langsung duduk dan melotot pada Jimin, "Tai tadi mau ciuman!" ia menyambar handphonenya lagi dari genggaman Jimin.
Seokjin mendengus kesal. Menatap Jimin sesaat lalu memfokuskan atensinya pada jam dinding yang menggantung di atas jendela besar didepannya. "Gue butuh pengalih pikiran, Jim."
"Lo kan punya Taehyung,"
"Terus gue mesti 24/7 sama dia gitu?" Seokjin menatap Jimin kesal.
"Lo lagian kalau nggak cinta-cinta amat ngapain ngajak pacaran sih?! Itu namanya lo nyulut api lo sendiri, lama-kelamaan lo yang kebakar ya, Njir!" Jimin menoyor kepala Seokjin dengan sebal karena merasa keputusan yang dibuat sahabatanya itu salah dan terlalu jauh. Tidak mempertimbangkan kemungkinan-kemungkinan buruk lainnya yang bisa terjadi diantara dia dan Taehyung.
"Seenggaknya gue nyaman sama Taehyung, Jim," sanggahnya dengan mempoutkan bibirnya. Cara satu-satunya yang terpikir olehnya adalah mencari obat untuk perasaan terluka yang ia alami. Meskipun ia harus memanfaatkan kehadiran Taehyung.
"Dih! Lo nggak mikirin perasaan dia apa?!"
"Terus gue putusin dia?!" bantah Seokjin dengan cepat dan napas memburu. Ia merasa kesal sekali karena disudutkan dan disalahkan atas keputusannya yang terbilang cukup terburu-buru.
"Jin, lo harus tau kalau yang lo lakuin sekarang bakal ngancurin Taehyung," Jimin mengatakannya dengan sorot mata kesedihan. Ia tidak bisa membayangkan betapa sakitnya nanti ketika mengetahui bahwa hanya dijadikan pelampiasan saja. Tetapi sepertinya tidak semua orang memulai hubungan dengan perasaan yang tulus. Ada beberapa pasangan yang terpaksa menerima orang lain karena berbagai macam alasan karena masing-masing memiliki situasinya sendiri.
"Dia kayaknya tau, Jim. Tapi.." Seokjin memainkan kuku-kuku jarinya. Ia mengakui bahwa apa yang ia lakukan salah dan dia bahkan tidak bisa menjanjikan untuk memberikan hatinya.
"Tapi?" Jimin menunggu dengan perasaan kesal sekaligus gemas sendiri. Bagaimana bisa Seokjin melakukan hal seperti itu kepada orang lain.
"Tapi dia menerima." Seokjin mengangkat wajahnya dan menatap Jimin dengan perasaan bersalah.
Hening beberapa saat memakan keduanya. Jimin yang diam berusaha memikirkan solusi terbaik untuk sahabatnya itu, dan Seokjin yang diam menyelami isi kepalanya sendiri. Sebenarnya apa yang ia inginkan?
KAMU SEDANG MEMBACA
Never Meet Again
RomansaMungkin dulu kalo gue setuju sama Appa buat ngga tinggal di kostan, gue ngga bakal ketemu sama dia. Kim Seokjin, mahasiswa baru yang bertemu dengan Jeon Jungkook mahasiswa seni rupa tahun ketiga yang menempati kamar disebelahnya. Jeon Jungkook yang...
