Jungkook duduk ditepi ranjang masih diruangan hotel itu. Dimana perlahan ia merasakan tubuhnya meremang karena merasakan hembusan angin dingin dari sisi kiri tubuhnya. Kedua matanya menelisik seluruh ruangan. Jika diperhatikan dengan lebih teliti, ia tidak mendapati pemanas ruangan sama sekali. Pantas saja ia merasakan suhu semakin rendah diruangan ini. Karena ia terburu-buru, setelah sampai dan mengetahui nama hotel tempat Seokjin menginap, ia hanya memilih asal kamar yang paling cepat ia dapatkan. Mendorong masuk begitu saja kopernya dan berganti pakaian dengan cepat.
Ia bangun dari duduknya. Berjalan mendekati jendela kaca yang begitu lebar di sisi kirinya. Ia merasakan hembusan angin dari lubang dimana ia melempar ponsel Seokjin tadi. Bahkan udara yang masuk dari lubang itu terasa semakin dingin. Ia mencondongkan tubuhnya merapat ke jendela melihat apakah ponsel Seokjin masih disana. Akhirnya, setelah keningnya benar-benar menempel pada kaca bening itu, ia melihat ponsel Seokjin yang terus bergetar dan menampilkan sebuah nama. Jungkook bermaksud untuk mengetahui siapa yang melakukan panggilan, namun ponsel di saku jasnya bergetar.
Dilihatnya ada panggilan dari Eommanya. Sebelum ia menggeser icon berwarna hijau dilayar ponselnya, ia menghela napas pelan. Bersiap diri untuk mendengar omelan dari eommanya.
"Yeoboseo, Eom–"
"Jungkook, kau sudah menemukan Seokjin?" terdengar suara yang begitu khawatir.
Jungkook merapatkan bibirnya dengan gelisah, "Hm,"
"Syukurlah. Sekarang kalian harus berada ditempat yang aman ya. Badai benar-benar akan terjadi di Jeju," terdengar helaan napas lega dari bibir Eommanya diseberang panggilan itu.
"Tapi, Eomma..." Jungkook menggigit bibir bawahnya ragu. Ia menolehkan kepala kearah pintu yang tertutup rapat. Dimana beberapa saat yang lalu Seokjin keluar dan membanting pintu itu. Meninggalkannya disini dan menyusul Taehyung di bandara, menurutnya.
Diseberang sana, Ji Hyun menahan napasya. Ia merasa sesuatu yang buruk akan benar-benar terjadi, "Seokjin pergi ke bandara, baru aja.." Jungkook selama beberapa saat menunggu jawaban diseberang sambungan teleponnya. Ia bahkan sempat menurunkan ponsel itu dari telinganya. Namun panggilan masih tersambung.
"Eom..ma?"
"Jungkook, mungkin kau belum pernah mendengar hal ini. Alasan kenapa semua orang khawatir dengan Seokjin..."
Jungkook meremat ponselnya. Firasat buruk dihatinya terasa hingga membuat suhu tubuhnyan naik karena gugup. Udara dingin yang berhembus di ruangan itu bahkan sudah tidak terasa sama sekali. Dahinya berkeringat, "Seokjin pernah hipotermia hingga dia kritis di rumah sakit, Kook. Dia tidak tahan suhu rendah."
Ponselnya terjatuh menghantam lantai. Pikirannya kosong. Potongan-potongan ingatannya beberapa saat yang lalu menamparnya. Ia memang merasa aneh dengan tubuh Seokjin yang menggigil di ruangan ini beberapa saat yang lalu, sebelum Seokjin memutuskan untuk meninggalkan ruangan itu. Kulitnya memang putih, namun yang tadi harusnya bisa dikatakan pucat. Harusnya ia menyadari hal itu.
Harusnya ia sadar ketika Seokjin mulai menautkan kedua telapak tangannya hingga menggesekknya pelan.
Harusnya ia sadar ketika Seokjin mulai menggosok lengannya. Bahkan ia menggosok lengannya dengan kuat dan terburu.
Mungkin, salah satu alasan Seokjin bergegas meninggalkan ruangan ini karena dingin yang memeluknya begitu erat hingga ia tak kuat.
Dengan terburu ia memungut ponselnya kembali. Dilihatnya panggilan dari eommanya sudah terputus. Ia mencari nomor Seokjin, dan tepat sebelum ibu jarinya mendial nomor itu, kepalanya menoleh ke sisi kirinya. Dimana ia telah melempar ponsel Seokjin disana. Membuat lubang disana, hingga angin yang begitu dingin hari ini menerobos masuk dan membuat Seokjin benar-benar tak nyaman berada di ruangan ini.
KAMU SEDANG MEMBACA
Never Meet Again
RomansaMungkin dulu kalo gue setuju sama Appa buat ngga tinggal di kostan, gue ngga bakal ketemu sama dia. Kim Seokjin, mahasiswa baru yang bertemu dengan Jeon Jungkook mahasiswa seni rupa tahun ketiga yang menempati kamar disebelahnya. Jeon Jungkook yang...
