Our Happy Ending

2.3K 125 140
                                        

Seokjin duduk di ranjang king size dengan sprei lembut dan wangi dibawah pantatnya. Melihat seseorang yang sedari tadi mondar-mandir didalam kamar itu dengan senyum lebar dan beberapa kali melompat gembira. "Gue pusing lihatnya! Duduk bisa nggak? Lagian setelah jas itu nggak bakal ganti warna jadi ungu kalau lo gantung lagi deh!" cibir Seokjin akhirnya karena benar-benar jengah melihat makhluk didepannya itu.

Jimin memalingkan wajahnya dari cermin didepannya. Menatap Seokjin dengan kesal. "Lo mending bantuin cari inspirasi buat pose foto yang bagus minggu depan!"

BUGH.

Seokjin melempar tubuhnya dan merentangkan kedua tangan dan kakinya hingga memenuhi ranjang dibawahnya. Menatap langit-langit dengan senyuman tipis di bibirnya. "Gue nggak nyangka, lo pacaran bertahun-tahun sama Yoongi bakal berakhir dan ketemu Namjoon yang bentar lagi jadi suami lo minggu depan, Jim."

BUGH.

"ARGH!" Jimin melompat begitu saja dan memeluk perut Seokjin. Menenggelamkan wajahnya pada dada Seokjin.

"Is he will be fine?"

"Hah?!" Seokjin tidak mendengar dengan jelas apa yang digumamkan Jimin padanya. Bahkan rasa nyeri di perutnya mengalihkan suara Jimin dari pendengarannya.

Jimin mengangkat wajahnya dan mendongak menatap Seokjin. "Dia bakal baik-baik saja, kan?"

"Lo pikir dia bocah?" Seokjin sedikit menunduk dan menumpu kepalanya dengan kedua lengannya yang terlipat sebagai bantalan.

Jimin mempoutkan bibirnya dengan tatapan sayunya seolah berlagak memberikan aegyonya pada Seokjin yang ia yakini tak akan mempan. "Dia bilang sendiri kalau belum bisa lupain gue," lirih Jimin sambil meletakkan kepalanya diatas dada Seokjin. Menatap pantulan wajahnya didepan cermin yang berjarak beberapa meter dari ranjangnya berada.

Seokjin menghela pelan. Membayangkan kembali Yoongi yang selalu tersenyum begitu tulus ketika bersama dengan Jimin. "He will be fine. Dia salah satu manusia kuat yang gue kenal,"

Jimin terdiam dan menghela pelan. Memutar memorinya dari pertama mereka berdua mengenal hingga semua menjadi rumit dan salah. Takdir tidak berpihak pada mereka, meskipun mereka pernah saling mencintai dengan begitu sangat. Garis yang mereka berdua tulis bersama, nyatanya harus putus ditengah jalan. Mereka berdua hanya dua orang yang saling bertemu dan jatuh cinta pada tempat yang tidak tepat. Ketika sepasang nama yang dituliskan akan terikat pada akhirnya dan ternyata itu bukan mereka, tidak ada yang bisa dilakukan selain membiarkan semua berjalan pada yang seharusnya. Namun, mereka berdua bahagia karena saling dipertemukan, bisa saling mencinta dengan begitu dalam. Hingga akhirnya salah satunya harus berpindah buku sesuai yang digariskan.

Min Yoongi, I trust that happiness is coming soon to you.




~




"Tolong bagian kedua sisi ini hanya dipenuhi bunga putih saja, ya!" ucap Namjoon pada pria yang hampir sebaya dengannya sedang meletakkan bunga berwarna merah di sisi bagian kanan karpet panjang yang menjulur dari pintu masuk ballroom hingga ke ujung ruangan.

Pria itu meminta maaf dan mengatakan akan mengganti beberapa bunga yang berwarna merah yang telah ia susun rapi dengan segera.

Namjoon mengangguk sambil tersenyum hingga dua dimplenya terlihat. Ia membalik tubuhnya dan melihat ke sekelilingnya. Beberapa meja dan kursi telah tersusun pada tempatnya sesuai permintaannya. Altar yang ia inginkan belum sepenuhnya jadi, tetapi ia yakin akan menjadi sempurna jika semua sudah terselesaikan. Ia merasakan beberapa hari ini kesulitan tidur karena hari H semakin dekat dan didepan mata. Ia tak menyangka perlahan-lahan mimpinya terwujud dengan pasti dengan usahanya. Ia bahkan tidak menyangka akan memiliki mimpi baru bersama orang yang menjalin hubungan dengan seseorang yang tidak ia duga sebelumnya. Malam dimana saat dunianya runtuh dan berakhir, Tuhan mempertemukannya dengan tidak sengaja dengan seseorang yang mengalami hal serupa. Dipikirannya, hubungan itu hanya berjalan singkat karena seolah bagai pelampiasan semata karena sakit hati yang mereka berdua derita. Nyatanya, Tuhan menuliskan sesuatu yang begitu cantik setelah luka dalam yang ia rasakan. Nyatanya, Tuhan benar-benar baik kepadanya. Ia tidak tahu apa yang ia terima merupakan buah baik dari perilakunya selama ini yang dengan sabar dan tulus dalam menjaga satu-satunya saudara laki-laki yang dimilikinya. Kehilangan kedua orang tuanya memberikan lubang begitu dalam di hatinya. Membuatnya ingin menangis berhari-hari enggan berdiri, tetapi melihat Kim Taehyung yang menangis terisak dan meraung-raung membuat ia lebih tak bisa bernapas. Membuat dirinya ingin menjadi pelindung yang kuat untuk adiknya.

Never Meet AgainTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang