SERIES KE-2
Ketika takdir mempertemukan Piter dengan sang mate, namun dipisahkan dengan keadaan. Akankah mereka akan kembali bersatu?
Bagaimana Piter menghadapi matenya yang memiliki dua sisi yang berbeda?
.
Masa lalu Piter selalu mencari celah untu...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Saat bell berbunyi Hana memilih diam dibangkunya dan membereskan peralatan belajarnya, semua itu tidak luput dari pandangan Piter.
"Kau tidak kekantin?" tanya Piter melihat Hana yang fokus pada tasnya.
Hana menggeleng dan tersenyum manis. "Aku membawa bekalku sendiri. Kau sendiri kenapa tidak kekantin?" Hana bertanya lembut yang membuat jantung Piter berdetak kencang, kenapa matenya itu manis sekali melebihi gula.
"Aku hanya akan kekantin jika kau juga kekantin."
Hana mengerutkan keningnya bingung, jujur dirinya sedikit canggung dengan sifat Piter yang ditunjukkan kepadanya secara terang-terangan.
"Kalau begitu kau bisa makan bersama aku kebetulan aku membawa lebih." Piter tersenyum lebar, itu memang rencananya.
"Aku ingin disuapi!"
"Hah!?"
"Tapi disini banyak orang." tambah Hana malu.
"Abaikan mereka, anggap saja disini hanya ada kau dan aku."
Blush
Pipi Hana merona, entah kenapa disetiap ucapan yang keluar dari bibir Piter membuat jantungnya berdetak kencang dan terasa sangat menyenangkan.
Tangan Hana bergetar saat menyuapi Piter, padahal dirinya sudah biasa menyuapi Zoe saat sakit tapi ketika menyuapi Piter tangannya malah tidak bisa. Piter terkekeh kecil dan menegang jari jari Hana yang memegang sendok kemudian mengantarkan sendok berisi makanan itu kemulutnya. Sedikit modus tidak masalah bukan? Jadi Piter bisa menyentuh jari-jari lentik Hana yang tampak lucu di matanya.
"Kau sendiri yang memasak ini?" tanya Piter sedikit kagum karena rasanya yang sangat enak meskipun hanya makanan berbahan dasarkan tempe, sayur dan nasi.
Hana mengangguk. "Ya, apakah rasanya tidak enak?" tanya Hana sedikit takut.
"Tidak, ini malah sangat enak." pujian Piter berhasil membuat pipi Hana kembali merona.
"Ck ck ck. Aku cari cari ternyata kau disini." ucap pemuda yang tidak kalah tampan dari Piter dengan sedikit kemiripan.
Piter mengabaikannya dan malah fokus kembali dengan Hana yang menyuapinya. Rafael berdecak kesal melihat kelakuan adik sepupunya yang menyebalkan itu.
"Eh, bukannya kau yang tadi menanyakan ruangan kepala sekolah?" Tanya Vierra menepuk bahu Hana.
"Iya itu aku." Hana terkekeh kecil.
"Perkenalkan aku Vierra." ucap Vierra hangat menyalami Hana dengan senyum manis.
"Aku Rafael, kekasih Vierra sekaligus sepupu pemuda disampingmu." kenal Rafael yang kemudian menyalami Hana dan mengecup punggung tangan gadis itu hingga pipi Hana merona membuat Piter mendelik tajam.