Chapter 5: Belanja Bulanan

4.1K 450 3
                                        

Warning!Cerita ini monoton di awal

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Warning!
Cerita ini monoton di awal.

Sudah hampir satu bulan Hana bersekolah disini tapi selama itu pula dirinya belum pernah kekantin, ya karena Hana selalu membawa bekal. Penghematan uang yang dikeluarkan, karena kebutuhan lainnya lebih banyak daripada membeli sesuatu yang tidak terlalu berfaedah.

Sepertinya keberuntungan berpihak pada Hanna karena guru-guru sedang beradakan rapat jadi tidak akan ada pelajaran yang masuk dan kelas dibubarkan jadi jam 10 itu mereka sudah pada pulang.

Hana sudah berencana untuk pergi ke minimarket karena kebutuhan dan bahan-bahan dirumahnya sudah hampir habis bersyukur gadis itu sudah mendapatkan gajinya bulan ini jadi Hanna dapat menggunakannya untuk membeli bahan-bahan yang habis.

Senang sekali rasanya, Hana suka pergi ketempat yang penuh dengan makanan, pakaian, dan aksesoris karena dia bisa mencuci mata melihat yang mahal dan mewah itu, meskipun dia tidak bisa membelinya cukup dengan melihatnya itu sudah membuat Hana senang.

"Kau akan kemana hari ini?" tanya Vierra.

"Aku akan pergi ke minimarket untuk membeli bahan makanan dan beberapa keperluan lainnya karena stok di rumahku sudah habis."

"Kalo begitu aku ikut denganmu, aku juga ingin membeli sesuatu."

Hana mengangguk senang, dan berjalan menuju parkiran. Sepertinya gadis itu tidak sadar jika Piter mengikutinya dari tadi dibelakangnya tanpa berbicara apapun.

"Kau pergi dengan Piter dan aku pergi dengan Rafael. Kau tidak mungkin membawa barang belanjaanmu  menggunakan sepeda bukan karena itu berbahaya." ucap Vierra yang membuat Hana terdiam.

"Piter?"

Vierra mengangguk dan menunjuk seseorang yang berada dibelakang Hana dengan dagunya. Hana berbalik dan melihat Piter yang menatapnya datar, pantas saja dari tadi punggungnya terasa panas. Entah kenapa Hana tidak suka tatapan datar Pieter adanya, karena biasanya pemuda itu menatapnya lembut.

Piter menarik tangan Hana dan memasukkan gadis itu ke dalam mobil. "Sepedaku bagaimana?" Hana takut sepedanya dicuri karena bagaimanapun hanya itulah yang Hana miliki untuk berangkat maupun pulang sekolah.

"Akan ada orangku yang mengantarkan sepeda itu kerumahmu."

"Baiklah."

Piter tersenyum kecil kemudian memasangkannya sabuk pengaman Hana, yang membuat gadis itu sedikit tegang.

Cup

Hana terdiam seperti patung ketika Pieter mencium pipinya sepertinya serangan itu cukup dahsyat sehingga membuat Hana diam tak berkutik sampai ke sebuah Mall besar. Piter terkekeh geli melihat Hana yang terlihat menggemaskan.

"Kau tidak mau turun?"

Hana tersentak sadar. "Oh, maafkan aku. Aku akan turun."

Piter menggeleng heran, mungkin lain kali Piter bisa mencium Hana agar gadis itu berubah menjadi penurut dan lebih diam tanpa membantahnya. Senjata yang cukup ampuh ternyata, Piter suka.

SF 2 : Prince's Mate Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang