SERIES KE-2
Ketika takdir mempertemukan Piter dengan sang mate, namun dipisahkan dengan keadaan. Akankah mereka akan kembali bersatu?
Bagaimana Piter menghadapi matenya yang memiliki dua sisi yang berbeda?
.
Masa lalu Piter selalu mencari celah untu...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Mobil Piter sampai di depan rumah Hana pada malam hari, sepertinya Zoe sudah tidur karena Hana sudah mengirim pesan kepada adiknya jika dirinya sedang bersama Piter dan menyuruh adiknya itu untuk tidur terlebih dahulu.
"Kau mau masuk dulu?" tawar Hana setelah turun dari mobil Piter.
Piter menggeleng. "Tidak, ini sudah malam sebaiknya kau segera tidur besok sekolah!" ucap Piter perhatian membuat Hana tersenyum.
"Baiklah kalo begitu!" Hana menutup pintu mobil Piter tapi ditahan oleh pemuda itu.
"Hana?"
"Kenapa?" bingung Hana membuatnya kembali membuka pintu mobil Piter.
"Aku ingin mengatakan sesuatu!" Piter tersenyum misterius menarik tangan Hana agar sedikit condong kearahnya.
"Kenapa Piter? Apa sesuatu yang penting?" Hana jadi penasaran mengerutkan keningnya.
Piter menarik Hana lebih dekat tanpa disadari gadis itu, polos tidak mengerti situasi.
Cup
"Manis!"
Piter menutup pintu mobilnya dan menyalakan mesinnya. "Selamat malam dan selamat beristirahat Hana!" Piter terkekeh kecil melihat ekspresi Hana yang tercengang.
Saat mobil Piter sudah menghilang dari pandangan Hana barulah gadis itu memekik keras tubuhnya lemas seperti jelly.
"My first Kiss!" Hana memegang bibirnya sedih.
Oh bibirnya sudah tidak perawan lagi sekarang! Ini semua ulah Piter. Malunya sampai ke sumsum!
Rumah Hana selalu diawasi oleh orang suruhan Piter agar gadis itu baik-baik saja dan jika terjadi sesuatu dirinya bisa datang dengan cepat.
Hana mungkin tidak sadar, tapi beberapa tetangga barunya adalah orang-orang suruhan Piter. Jika Hana tahu mungkin gadis itu tidak akan merasa aneh dengan tetangganya yang lebih ramah daripada sebelumnya.
******
Hana sampai di sekolahnya setengah jam sebelum bel berbunyi gadis itu tidak dijemput Piter, pemuda itu menelponnya pagi-pagi sekali dan mengatakan jika memiliki urusan dan tidak bisa sekolah hari ini.
Entah urusan apa Hana tidak tahu, Piter hanya memberi tahunya secara gamblangan.
"Rafael tidak ikut?" tanya Han bingung.
Vierra menggelengkan kepalanya. "Tentu saja tidak, Piter memiliki urusan yang berbeda. Mungkin dia pergi bersama Arlan." Untuk pertemuan para Alpha lanjut Vierra dalam hati.
Hana menganggukan kepalanya. "Aku kira urusan keluarga!" gumam Hana.
Vierra memilih diam dirinya tidak memiliki alasan lain untuk menjawab jika hanya bertanya lebih. Yang ada gadis itu nanti malah curiga atau berpikir yang tidak-tidak.