Tokk..tokk..tokk
Suara ketukan pintu membuat seorang perempuan yang sedang meringkuk di bawah selimut abu-abu itu tersentak. Bibirnya terus mengeluarkan ringisan kecil, matanya memerah karena menangis. Pikirannya tertuju pada semalam yang menjadi pengalaman kelam di hidupnya.
"Nona?" Panggil seorang maid yang memasuki kamar membuat Sera mau tak mau membuka selimutnya.
"Saya diperintahkan tuan untuk mengawasi nona menghabiskan sarapannya." Ucap maid itu berdiri di dekat Sera.
Sera bangun dari tidurnya menyandarkan tubuhnya di sandaran ranjang, menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut karena tak mau maid itu melihat bekas luka disekujur tubuhnya.
"Tidak usah diawasi, sepuluh menit lagi kamu kembali makanannya sudah habis." Kata Sera dengan suaranya yang sedikit serak.
Maid itu tersenyum ramah lalu mengangguk, menyimpan nampan sarapan di atas nakas sebelah Sera.
Sera mengangguk saat maid itu menunduk hormat padanya sebelum pergi meninggalkan Sera sendiri di dalam kamar Stevan.
Sera menghembuskan nafasnya pelan, lalu menurunkan selimutnya membuat luka di sekujur tubuhnya terlihat, apalagi memar merah di lehernya yang terlihat sangat kontras dengan kulitnya yang putih. Sera mengambil nampan sarapan itu, lalu mulai memakan sandwich berukuran lumayan besar setelahnya ia meminum susu coklat kesukaannya.
Setelah selesai Sera kembali menaikkan selimutnya, menekuk kedua kakinya membuat Sera memeluk kakinya sendiri. Wajahnya terlihat sedih, binar di matanya meredup mengingat kejadian semalam.
Sera sempat tak menyangka jika Stevan benar-benar menderita BDSM, karena yang Sera tahu Stevan begitu friendly dan hangat pada orang-orang terdekatnya apalagi pada sahabat-sahabat Stevan. Mengingat jika sikap Stevan yang berbeda padanya membuat Sera sedih, Stevan padanya begitu dingin, arogan dan kasar tetapi jika pada orang lain Stevan ramah dan hangat.
Sera meraba bahunya yang terasa perih, walaupun sudah diobati tetapi masih terasa perih bekas gigitan Stevan semalam. Sera menatap jam dinding pukul sembilan pagi, seharusnya Sera hari ini bekerja tetapi Stevan melarangnya dan lebih memilih mengurungnya disini.
Sungguh Sera ingin kabur dari jeratan Stevan tetapi sepertinya takdir tak memihaknya, ditambah rasa yang ada dihatinya menginginkan dirinya agar terus dengan Stevan. Jika ada orang yang bertanya apakah Sera mencintai Stevan? Tentu saja Sera akan menjawab iya.
Sera mengusap air mata yang membasahi pipi nya, ternyata mencintai Stevan itu tak mudah. Perasaan Sera egois, ia ingin cintanya dibalas oleh Stevan tetapi kenyataan menamparnya dengan kejam. Bahwa ia saat ini berada dalam posisi yang sangat rendah bagi Stevan, yaitu bonekanya.
"Hikss.." Suara tangisan lolos begitu saja tanpa bisa ditahan, kenapa hidupnya selalu menderita? Kapan Sera bisa merasakan bahagia seutuhnya.
Saat ini Sera tak bisa apa-apa, ia tak bisa menolak apalagi dengan ancaman Stevan tentang anak panti benar-benar membuat Sera tak berkutik. Tuhan, apakah Sera harus menerima semua ini dengan pasrah?
**
Stevan mengepulkan asap rokoknya, tak biasanya ia merokok di kantor. Tetapi kini karena pikirannya sedang kalut, Stevan tak memperdulikan aturannya sendiri.
Pikirannya tertuju pada peristiwa semalam, membuat Stevan menemukan fakta yang bisa mengubah hidupnya cepat atau lambat. Stevan sudah menemukannya, menemukan wanita yang ia sendiri tak mau menyiksa wanita itu tetapi...
Seringai kecil menghiasi wajahnya, rencana kedepan tentang Sera membuat Stevan yakin jika ini memang jalan hidupnya dan Sera. Si perempuan berkulit pucat itu benar-benar membuat dunianya terasa berporos pada satu titik.
KAMU SEDANG MEMBACA
CRAZY STEV! [21+] END
RomanceWARNING : VULGAR, DARK ROMANCE, BDSM, DEWASA 21+ (TIDAK UNTUK ANAK DIBAWAH UMUR) Rasera Ryder hanya ingin hidup damai menikmati masa mudanya,berkencan, menikah, lalu mempunyai anak, membangun rumah tangga dengan suaminya kelak. Namun sangat disayang...
![CRAZY STEV! [21+] END](https://img.wattpad.com/cover/291305318-64-k685885.jpg)