15. Merayu

64.1K 1.6K 41
                                        

Sera menghembuskan nafasnya pelan melihat pintu kamarnya ditutup oleh Stevan. Semenjak bangun tidur, Stevan mengabaikannya bersiap-siap ke kantor tak memperdulikan Sera yang terus menatapnya.

Stevan masih marah padanya. Pikir Sera sedih.

Hari ini Sera tak ikut ke kantor karena luka di tubuhnya bertambah akibat semalam, walaupun ia memaksa ikut tetapi Sera tahu Stevan pasti akan murka padanya.

Sera melilitkan selimut di tubuhnya lalu beranjak dari ranjang, berjalan ke arah kamar mandi. Bagaimana caranya agar Stevan tak marah lagi padanya? Pikir Sera.

**

Stevan menatap layar ipad nya memperlihatkan Sera yang sedang mandi, terlihat sesekali Sera seperti kesakitan karena lukanya terkena air.

Raut wajah Stevan terlihat datar, memang sulit menebak isi pikiran pria itu.

"Tuan, jadwal dengan Mr. D'geshio dibatalkan sepihak." Ucap Ben tangan kanannya yang duduk disebelah kemudi.

Stevan tak menjawab, ia tahu kemana Samuel pasti dia mencari Syella. Samuel yang ditinggalkan Syella terlihat sekali menjadi gila, membuat Stevan berpikir bahwa hukum alam itu memang ada.

"Tuan, nona Caroline memesan tiket untuk ke negara ini, dan meminta tuan Sergio untuk memberitahunya alamat rumah tuan. Apakah perlu saya mengelabuinya?" Tanya Ben menoleh ke belakang.

Stevan terdiam sejenak matanya masih fokus menatap layar ipadnya "Tidak." Jawabnya datar.

Ben mengangguk patuh, ia tak tahu apa rencana Stevan tentang wanita itu. Apakah tuannya akan menikahi Caroline? Ben tak memikirkan itu karena ia tak mau ikut campur.

**

Sera meringis saat bibi Mety mengobati luka di bahunya.

"Maaf nona, bibi akan lebih pelan-pelan lagi." Kata bibi Mety merasa bersalah.

Sera tersenyum "Tidak apa-apa bibi, ini memang perih tapi nanti hilang." Kata Sera dengan senyum manisnya membuat bibi Mety merasa miris.

"Bibi apa yang disukai kak Stev?" Tanya Sera terdengar penasaran.

"Hmm tuan Stevan menyukai kopi dengan sedikit gula." Jawab bibi Mety sembari membereskan kotak P3K.

Sera mengerutkan dahinya, apakah ia harus membuatkan Stevan kopi? Pikirnya. Tetapi, bagaimana jika Stevan tak mau meminum kopi buatannya?

"Yang lain bibi?" Tanya Sera lagi.
Bibi Mety terlihat berpikir "Tuan Stevan menyukai lantai tiga." Jawab bibi Mety dengan suaranya yang pelan.

Sera seketika terdiam, play room Stevan? Pikir Sera ngeri.

"Bibi pikir tuan Stevan menyukai waktu saat bersama nona Sera." Kata bibi Mety membuat pipi Sera bersemu.

"Bibi jangan berbicara seperti itu." Kata Sera terlihat malu membuat bibi Mety tertawa.

"Yasudah nona bibi akan membawakan sarapan dulu ya." Kata bibi Mety pada Sera.

Sera mengangguk membuat bibi Mety pergi dari sana. Sera menekuk lututnya, memikirkan apa yang bibi Mety katakan.

Sungguh? Stevan menyukai waktu saat bersamanya? Pikir Sera senang. Tetapi, seketika senyum Sera luntur memikirkan jika waktu dirinya bersama Stevan itu sebagian besar hanya di ranjang. Berarti Stevan hanya menyukai itu? Pikir Sera sedih.

**

Rencananya gagal, sebenarnya Sera berpikir jika ia akan menyerahkan diri pada Stevan di lantai tiga. Tetapi, pelayan memberitahunya jika Stevan akan mengajaknya keluar.

Antara rasa senang dan gugup, Sera segera berganti baju dengan cepat. Sekarang sudah pukul delapan malam tetapi Stevan belum sampai.

Sera pikir kemana Stevan akan mengajaknya keluar?

Setelah Sera siap untuk pergi, tak berselang lama suara klakson mobil terdengar membuat senyum Sera terbit.

Sera berlari keluar kamar, menuruni anak tangga dengan cepat sampai membuat para pelannya menatap dirinya cemas. Sera tak tahu saja jika Sera terluka bukan akibat dari Stevan, maka mereka akan mendapat hukuman karena lalai menjaga Sera.

Sera melambaikan tangannya senang pada bibi Mety yang tersenyum padanya, lalu kembali berlari keluar mansion.

Sera menghembuskan nafasnya pelan, mencoba mengatur nafasnya agar tak memburu. Berjalan menuju mobil hitam milik Stevan.

Sera masuk ke dalam mobil, duduk disebelah Stevan yang mengemudi. Stevan terlihat tampan dengan kemeja hitamnya beserta celana berwarna krem.

Stevan mengerang dalam hati, melihat penampilan Sera yang panas. Apakah wanita itu ingin menjual payudaranya? Pikir Stevan kesal.
Sebenarnya Stevan akan membawa Sera ke club milik Thomas, tetapi melihat penampilan Sera yang terbuka membuat Stevan mengurungkan niatnya.
Ia ubah tujuannya menjadi ke tempat favoritnya yang ada di pegunungan, sepertinya menghukum Sera disana tak buruk juga.

 Ia ubah tujuannya menjadi ke tempat favoritnya yang ada di pegunungan, sepertinya menghukum Sera disana tak buruk juga

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
CRAZY STEV! [21+] ENDCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang