Sera menunduk menatap perutnya yang masih rata. Seharusnya Sera menyadari jika ia hamil, di dalam perutnya ada darah dagingnya dengan Stevan yang sedang tumbuh di dalam sana.
Sampai selimut kecil menyampir di bahunya membuat Sera menoleh, menatap bibi Mety yang tersenyum ramah padanya.
"Nona sebaiknya masuk, diluar anginnya cukup kencang." Kata bibi Mety cemas karena Sera terus duduk di area taman.
Sera menggelengkan kepalanya pelan, menatap hamparan bunga yang ada didepannya. Jika disini, Sera merasa masalahnya sedikit terangkat.
"Kak Stev hari ini ngga pulang lagi?" Tanya Sera sendu membuat bibi Mety yang duduk disebelahnya merasa iba.
"Tuan sedang ada pekerjaan di luar kota, bibi yakin tuan pasti akan segera pulang." Jawab bibi Mety mencoba menghibur Sera.
Sera terdiam, sudah dua hari Stevan meninggalkannya tanpa kabar sedikitpun. Hari ini Stevan tak pulang lagi, sebenarnya kemana pria itu?
Sebegitu kecewanya kah Stevan pada dirinya karena mengandung anak dari pria itu? Tapi ini darah daging Stevan seharusnya Stevan tak bersikap seperti itu.
Mata Sera menatap nanar hamparan bunga di depannya, hatinya berdenyut sakit memikirkan sikap Stevan padanya.
Sera kecewa pada Stevan yang meninggalkan dirinya dalam keadaan hamil.
Tanpa sadar Sera mengelus perutnya sendiri, anak ini tidak salah. Dia hadir karena izin dari Tuhan yang mempercayai mereka. Ini sebuah anugerah bukan masalah, Sera harus bersyukur.
"Nona ayo masuk, tidak baik ibu hamil berada di luar rumah saat matahari akan tenggelam." Ajak bibi Mety meraih tangan Sera agar berdiri.
Bibi Mety memang mengetahui Sera hamil karena Sera memberitahunya. Bibi Mety terlihat tak terkejut, karena ia sudah menduganya dari awal.
**
Stevan kembali meneguk botol vodka yang ada di tangannya, kepalanya sudah berat apalagi memikirkan perkataan Thomas yang mengharuskannya tanggung jawab.
Stevan bukan tidak menginginkan anak itu, ia memang menginginkan anak dari Sera tapi bukan untuk saat ini.
Stevan frustasi, ia masih ingin bermain dengan Sera. Menuntaskan semua fantasi liarnya, tetapi kini wanita itu sudah hamil karenanya.
"Sial!" Umpat Stevan kesal sembari menendang meja kaca di depannya.
Stevan tahu jika Sera butuh kepastian ditambah ada anak di antara mereka. Stevan bisa menerima anak itu, tetapi untuk pernikahan entah kenapa ia merasa ragu.
"Tuan, tuan Sergio sudah mengetahui kabar ini." Kata Ben membantu Stevan untuk duduk kembali di sofa.
Stevan mengerang dalam hati, jika ayahnya sudah turun tangan. Stevan pasti akan kalah apalagi mengingat betapa berharapnya Sergio mendapat cucu darinya.
KAMU SEDANG MEMBACA
CRAZY STEV! [21+] END
RomanceWARNING : VULGAR, DARK ROMANCE, BDSM, DEWASA 21+ (TIDAK UNTUK ANAK DIBAWAH UMUR) Rasera Ryder hanya ingin hidup damai menikmati masa mudanya,berkencan, menikah, lalu mempunyai anak, membangun rumah tangga dengan suaminya kelak. Namun sangat disayang...
![CRAZY STEV! [21+] END](https://img.wattpad.com/cover/291305318-64-k685885.jpg)