16. Cemburu

64.9K 1.9K 14
                                        

Sera tersenyum memikirkan kejadian semalam yang panas, Stevan benar-benar berfantasi liar bagaimana mungkin mengajaknya bercinta di tengah-tengah hutan yang menyeramkan?

Sera seketika menggelengkan kepalanya, merutuki dirinya sendiri yang terus mengingat kegiatan itu.
Sera beranjak dari bathup menuju shower untuk membersihkan kulitnya yang terasa licin karena sabun. Sekarang sudah menjelang malam tetapi Stevan belum pulang, membuat Sera heran karena tak biasanya Stevan pulang telat terus.

Setelah membersihkan dirinya, Sera mengambil kimono putih yang tersedia disana lalu memakainya. Berjalan keluar kamar mandi, sekarang hari semakin dingin mungkin karena perubahan cuaca menjadi musim dingin.

Sera berganti baju dengan cepat, karena ia ingin menyambut kedatangan Stevan. Sera pikir sepertinya Stevan sudah tak marah lagi padanya.

Suara deru mobil terdengar membuat Sera tersenyum lalu segera menyelesaikan kegiatannya. Sera berlari keluar kamar dengan semangat, ia tadi sudah memasak makanan spesial untuk Stevan bersama bibi Mety. Sera ingin melihat bagaimana reaksi Stevan terhadap makanan yang ia buat.

Seketika Sera menghentikan langkahnya saat berada di ujung tangga terakhir, senyum yang sedari terbit kini luntur.

Tatapannya terjatuh pada Stevan dengan wanita yang berada di sebelahnya terlihat santai merangkul lengan Stevan manja.

Sera mematung, hatinya berdenyut sakit. Kenapa Stevan membawa wanita itu kemari? Pikir Sera.

Caroline mengerutkan dahinya saat melihat Sera "Stev bukankah dia sekretarismu? Kenapa ada disini?" Tanya Caroline terdengar kesal.

Stevan tak menjawab, ia menatap Sera yang terlihat menatapnya terluka.

"Antar Caroline ke kamarnya." Perintah Stevan pada bibi Mety.

"Stev." Tegur Caroline karena Stevan mengabaikannya.

Stevan melepas rangkulan Caroline di tangannya, berjalan mendekati Sera dengan raut wajahnya yang datar.

"Naik." Perintah Stevan datar pada Sera.

Jari-jari Sera bertautan, hatinya berdenyut sakit. Menatap Stevan terluka, mengikuti langkah Stevan dari belakang.

"Stev?" Panggil Caroline kesal karena diabaikan Stevan.

"Dasar jalang kecil." Umpat Caroline kesal menatap Sera penuh benci.
Dugaannya benar jika Stevan dan Sera itu bukan hanya sekedar hubungan sekretaris dan atasan, tetapi lebih dari itu.

Caroline tak akan membiarkan Sera merebut Stevan darinya.

"Mari nona." Kata bibi Mety ramah.

Caroline menghentak-hentakkan kakinya kesal sembari mengikuti langkah pelayan itu.

Di dalam kamar, Sera menatap Stevan yang sedang membuka kemejanya. Sera ingin bertanya kenapa Stevan membawa Caroline kemari? Tetapi bibirnya terasa kelu.

"Jangan bicara sama dia." Kata Stevan terdengar memerintah.
Sera meremas tangannya sendiri, hatinya sakit ia tak tahu lagi harus apa.

"Tapi terserah kalo lo mau bilang tentang lo sebagai boneka gue." Kata Stevan membuat Sera semakin sakit hati.

Stevan kembali menamparnya dengan mengingatkan dirinya yang hanya sebagai boneka pemuas nafsu Stevan.

Stevan berjalan masuk ke dalam kamar mandi, tak memperdulikan Sera yang sakit hati oleh perkataannya.

Sera menundukkan kepalanya, matanya memanas. Stevan tak salah, ia memang hanya boneka pemuas nafsu bagi Stevan. Tetapi, apakah Stevan harus terus mengingatkan dirinya tentang posisinya itu? Pikir Sera tanpa sadar air matanya jatuh membasahi pipinya.

**

Di ruang makan mansion Stevan terlihat sekali suasananya tak baik, karena Caroline terus menatap Sera tajam dan penuh benci. Sera ia hanya makan dengan selera makannya yang sudah hilang, jika tak dipaksa Stevan untuk turun makan malam. Sera tak mau makan malam dengan mereka.

Sedangkan Stevan ia terlihat santai sembari menyantap makanannya, tak memperdulikan dua wanita itu yang terlihat tak berselera makan.

"Stev kamu belum menjelaskan kenapa dia tinggal disini?" Tanya Caroline sembari menunjuk Sera dengan dagunya angkuh.

"Tidak penting." Jawab Stevan membuat Sera yang duduk di seberang nya seketika terdiam.

Caroline menghembuskan nafasnya kasar "Tetapi aku tidak tenang jika mengetahui calon suamiku tinggal dengan wanita jalang." Kata Caroline dengan menekankan kata jalang.

Sera mencengkeram garpu dan sendoknya, tertawa miris dalam hati. Lihat, Sera sampai melupakan jika Stevan adalah calon suami orang. Lalu kenapa ia masih mengharapkan Stevan?

Stevan tak menjawab ia terus makan dengan santainya sembari menatap Sera penuh arti.

"Malam ini kamu harus tidur denganku." Kata Caroline terdengar manja.

"Hmm." Jawab Stevan membuat Sera benar-benar ingin pergi dari sini sekarang juga.

Sudah, hatinya sangat sakit. Sera tak tahan lagi, kenapa Stevan selalu menyakitinya? Pikir Sera dengan matanya yang memanas.

Sekarang hanya Sera sendiri di ruang makan, karena Caroline mengajak Stevan ke kamarnya.

"Nona?" Panggil bibi Mety karena Sera hanya terdiam.

Sera menoleh lalu tersenyum walaupun matanya berkaca-kaca.
"Tolong bereskan ya bi." Kata Sera lalu pergi dari sana.

Sera berjalan menuju kamarnya dengan langkah yang cepat, ia mengapa terlalu bodoh karena mengharapkan Stevan.

Setelah sampai kamarnya, Sera langsung menjatuhkan dirinya diatas ranjang. Menangis sejadi-jadinya karena merasa hatinya sangat sakit. Ini salahnya, ia terlalu mengharapkan Stevan. Stevan membawanya terbang tinggi tetapi seketika menjatuhkannya dengan kejam.

Malam itu terdengar suara tangisan seorang wanita yang terdengar pilu, tanpa dia sadari ada seseorang yang mendengar tangisannya.

CRAZY STEV! [21+] ENDCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang