27. Keadaan yang membaik

50.3K 1.8K 20
                                        

Sera menyandarkan tubuhnya di dada bidang Stevan. Memejamkan matanya merasakan pijatan Stevan di kepalanya yang terasa lembut.

Setelah Sera pulang dari rumah sakit, keadaannya dengan Stevan mulai membaik dari hari ke hari. Bahkan Stevan sudah tak terlihat marah lagi.
Seperti biasa pagi ini Sera kembali mengalami morning sickness. Kepalanya terasa berat dan perutnya terasa di aduk-aduk membuat Sera lemas.

Stevan memijat kepala Sera dengan sabar, bahkan tadi ia memijat tengkuk Sera yang terus muntah di closet.

Sera membalikkan tubuhnya menjadi menyamping, menenggelamkan wajahnya di dada bidang Stevan.
Menghirup aroma khas pria itu, Stevan belum mandi tetapi aroma pria itu membuatnya merasa lebih baik.

Nafas Sera mulai teratur, membuat Stevan menatapnya. Sera cepat tidur jika berada di pangkuan Stevan, Stevan menatap wanita kecil yang ada di pangkuannya dengan tatapan tak terbaca.

Tangannya dengan kaku mengelus punggung Sera agar merasa nyaman.
Setelah beberapa saat Stevan menidurkan Sera dengan pelan, lalu beranjak dari ranjang setelah memakai celana boxernya.

Stevan memasuki kamar mandi, ia harus membersihkan tubuhnya dan menidurkan adiknya yang bangun karena bersentuhan dengan kulit Sera yang lembut.

**

Stevan menuruni anak tangga rumahnya, melihat Sergio yang duduk di kepala kursi meja makan sembari meminum kopi dan membaca koran.

"Sera tidak sarapan?" Tanya Sergio menatap anaknya yang baru saja turun.

"Dia tidur." Jawab Stevan datar.
Stevan mengkode bibi Mety untuk membuatkannya kopi. Lalu duduk di kursi meja makan dekat Sergio.

"Ayah cepat pulang." Kata Stevan dengan tak berdosanya membuat Sergio menatapnya garang.

"Kau mengusir ayah?" Kesal Sergio.

"Hmm." Jawab Stevan membuat Sergio memukulnya dengan koran yang ia pegang.

"Ayah berencana tinggal disini." Kata Sergio membuat Stevan menatapnya tak suka.

Sepertinya Stevan bisa disebut anak durhaka, karena mengusir ayahnya sendiri.

"Kenapa? Ayah disini ingin menjaga Sera dari dirimu." Kata Sergio membuat Stevan mendengus.

"Ayah tak mau kau menyakiti cucu pertama ayah." Kata Sergio penuh penekanan tetapi Stevan terlihat acuh.

Stevan meminum kopi pahitnya, memikirkan hubungannya dengan Sera yang tak bergerak maju.

"Kapan kau menikahinya?" Tanya Sergio yang tak dijawab Stevan.
Stevan hanya terdiam sembari meminum kopi membuat Sergio mendengus.

Tanpa sadar ada Sera yang mendengar percakapan mereka. Sera terdiam di anak tangga terakhir, ia seketika kembali menaiki tangga menuju lantai dua.

Kenapa Stevan tak menjawab pertanyaan ayahnya tentang kapan menikahi dirinya? Pikir Sera.
Sera kembali masuk ke dalam kamar, ia tadi memang tertidur tetapi saat merasa tak ada Stevan disebelahnya membuat Sera terbangun.

Sera lapar ingin makan, tetapi seketika tak nafsu makan karena memikirkan kenapa Stevan tak menjawab pertanyaan ayahnya?
Sera masuk ke dalam kamar mandi, ia membersihkan dirinya terlebih dahulu. Menahan lapar yang melanda dirinya.

Sera berdiri dibawah guyuran shower air hangat, mengelus perutnya yang mulai membuncit. Kandungannya baru dua bulan tetapi perutnya sudah mulai membuncit.

Sera mematikan showernya, mengambil kimono putih yang menggantung disana. Memakainya lalu keluar dari kamar mandi.

Sera memasuki walk in closet, memilih dress santai berwarna putih. Memakainya dengan cepat, lalu keluar dari sana.

Sera terkejut saat melihat Stevan yang sudah duduk di kursi sofa kamar, lalu berbagai macam makanan tersedia di atas meja.

"Makan." Kata Stevan membuat Sera tersenyum.

Sera berjalan mendekati Stevan lalu duduk disebelah Stevan. Sera memakan omelet yang penuh topping, hanya ini yang menggugah selera dirinya.

Tanpa disangka Stevan mencoba mengeringkan rambut Sera yang basah dengan handuk kecil.
Sera terdiam sesaat lalu kembali melanjutkan makannya. Entah kenapa Stevan berubah menjadi manis seperti ini.

"Kenyang." Kata Sera setelah menghabiskan sepiring omelet dan roti isi karena masih lapar.

Stevan menyerahkan segelas susu kehamilan untuk Sera. Sera meminumnya sampai tandas, nafsu makan Sera meningkat setelah keluar dari rumah sakit. Tetapi, Sera masih memilih-milih makanan yang tak membuatnya merasa mual.

"Kak Stev ngga kerja?" Tanya Sera menatap Stevan yang masih mengeringkan rambutnya.

"Ngga." Jawab Stevan tak terduga. Biasanya Stevan enggan menjawab pertanyaan Sera yang tak penting.

Sera memeluk tubuh Stevan dari samping. Kini Sera mempunyai kebiasaan, yaitu sangat menyukai memeluk Stevan dan menghirup aroma pria itu.

Stevan menyimpan handuk kecilnya, membawa Sera agar ke atas pangkuannya.

Stevan beranjak dari duduknya membuat Sera seketika mengeratkan pelukannya di leher Stevan.
Stevan membawa Sera ke balkon kamar, Sera harus berjemur dibawah matahari pagi yang bagus untuk tubuh.

Sera masih memeluk leher Stevan, hidungnya mendusel di leher Stevan dengan gemas. Punggungnya terasa hangat karena matahari pagi yang menyorot dirinya.
Sera harap Stevan akan selalu manis seperti ini, dan segera menikahinya.

CRAZY STEV! [21+] ENDTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang