14. Sisi lain Stevan

66K 1.9K 5
                                        

Tiga hari berlalu, tubuh Sera sudah sehat lagi seperti biasa. Tetapi, selama beberapa hari ini Sera tak bertemu Stevan.

Sera ingin berangkat ke kantor mungkin Stevan ada disana, tetapi dilarang oleh bibi Mety yang berkata jika Stevan tidak ada di kantor tetapi dinas ke luar kota.

Sera sedih, selama ia sakit Stevan tak menjenguknya walaupun sebentar dan kini ia menghilang begitu saja.

Apakah Stevan sungguh marah padanya? Hatinya berdenyut sakit memikirkan bagaimana jika sekarang Stevan sedang bersama wanita lain?

"Nona dimakan makan malamnya." Kata bibi Mety menatap Sera cemas yang terlihat sedang melamun.

Sera membuyarkan lamunannya, tersenyum pada bibi Mety yang setia menemaninya makan malam di ruang makan yang terlihat sepi karena pelayan yang lain diperintahkan untuk pergi oleh bibi Mety.

"Bibi sudah makan malam?" Tanya Sera sembari memakan sup ayam kesukaannya.

"Sudah nona." Jawab bibi Mety ramah.

Sera memakai gaun tidur dengan potongan tali tipis dibahu, ia tak malu jika ada luka di tubuhnya yang terlihat karena Sera tahu pasti semua orang disini tahu jika dirinya sudah disiksa Stevan.

Tato dibawah bahu depannya tepatnya di atas payudara miliknya sudah terlihat jelas karena sudah mengering. Stevan, nama yang terukir ditato itu walaupun hurufnya terlihat sambung tetapi Sera bisa membacanya saat bercermin.

"Bibi, kak Stev kapan pulang?" Tanya Sera lesu membuat bibi Mety tersenyum miris.

"Tuan pasti akan pulang jika pekerjaannya selesai." Jawab bibi Mety.

Sera menghela nafas pelan, rasa rindu sudah menumpuk dihatinya. Sera merindukan aroma pria itu yang khas.

"Bibi?" Panggil Sera pelan, memikirkan apa yang akan ia tanyakan pada bibi Mety.

"Ya nona?" Tanya bibi Mety menatap Sera yang terlihat sungkan.

"Hmm, kenapa para pelayan terlihat takut pada kak Stev?" Tanya Sera menatap bibi Mety yang terlihat menegang.

Bibi Mety terdiam cukup lama, matanya terlihat sekali memancarkan ketakutan membuat Sera semakin penasaran.

"Ka-kami selalu menyaksikan wanita berlumuran darah keluar dari lantai tiga yang digendong oleh para penjaga disini." Kata bibi Mety pelan membuat Sera menatapnya terkejut.

Sera seketika membeku, pikirannya melayang pada ruangan merah di lantai tiga. Playroom Stevan? Apakah Stevan menyiksa lawannya disana juga?

Nafas Sera memburu, memikirkan sudah berapa banyak korban Stevan. Apakah Stevan masih bermain dengan wanita lain? Walaupun ada dirinya disini? Pikiran itu membuat hatinya berdenyut sakit.

Sera membuang pandangannya, matanya memanas memikirkan bagaimana jika Stevan tidak puas hanya bermain dengannya? Lalu bermain dengan wanita lain.

"No-nona bibi mohon jangan memberitahu tuan Stevan tentang ini." Kata bibi Mety menatap Sera cemas.

Sera menoleh lalu menganggukkan kepalanya pelan dengan senyuman yang terlihat miris.

"Saat melihat nona yang terluka oleh tuan Stevan, membuat bibi tahu jika nona berbeda dengan wanita lain yang dibawa tuan Stevan kesini." Kata bibi Mety membuat Sera menatapnya bingung.

"Maksud bibi?" Tanya Sera.

Bibi Mety tersenyum "Mungkin nona tidak menyadarinya tetapi tuan Stevan terlihat bisa mengontrol diri dan tak menyiksa nona lebih parah seperti pada wanita lain." Jawab bibi Mety pelan.

Sera terdiam, benarkah seperti itu? Tetapi, dengan luka seperti ini saja membuat Sera jatuh sakit. Bagaimana dengan luka yang lebih parah, memikirkan itu membuat Sera merinding.

Perkataan bibi Mety jika dirinya berbeda dengan wanita lain yang dibawa Stevan, entah kenapa membuat hati Sera menghangat. Ia harap Stevan benar-benar memperlakukannya dengan berbeda.

"Tuan Stevan datang." Kata pelayan yang dengan cemas menyampaikan berita itu pada bibi Mety dan Sera.

Jantung Sera berdebar cepat, ia segera menyelesaikan makan malamnya lalu beranjak dari sana.

"Nona minum obatnya." Ucap bibi Mety melihat punggung Sera yang sudah menjauh.

Tatapan Sera terjatuh pada Stevan yang sedang berjalan menaiki tangga menuju lantai dua, Stevan mengabaikannya? Sungguh? Pikir Sera sedih.

Sera berjalan menaiki anak tangga menyusul Stevan yang sudah memasuki kamar, walaupun jantungnya berdebar cepat entah karena takut atau terlalu senang Stevan datang.

Sera memasuki kamar Stevan dengan gugup, menatap Stevan yang terlihat sedang membuka kemejanya membuat pipi Sera memerah.

"Kak Stev?" Panggil Sera pelan dengan rasa gugup yang menyerangnya.
Stevan tak menjawab, setelah selesai membuka kemejanya ia berjalan ke arah kamar mandi. Mengabaikan Sera yang menatapnya sendu.

Ada apa dengan Stevan? Pikir Sera sedih.

Di dalam kamar mandi, air shower membasahi tubuh atletis nya. Stevan memejamkan matanya rasa amarah, menyesal, rindu, dan hasrat bercampur menjadi satu.

Sera sungguh gila, dia mampu membuat pikirannya terusik. Wanita kecil itu membuat Stevan menderita selama tiga hari ini tanpa menyentuh wanita.

Sialan. Pikir Stevan kesal.

Setelah selesai mandi, Stevan berjalan keluar kamar dengan handuk yang melilit di pinggangnya. Matanya menatap Sera yang duduk di sisi ranjang.

"Kak Stev.." Belum sempat Sera menyelesaikan perkataannya, tetapi Stevan sudah menyerangnya.

Stevan mendorong Sera kasar ke tengah ranjang lalu menindihnya, mencium bibir Sera dengan penuh nafsu.

Tidak, Stevan tidak bisa menahan lagi hasratnya setelah melihat Sera yang terlihat begitu sexy.

Sera mengerang di sela-sela ciumannya, tangannya meremas punggung atletis Stevan yang dingin karena habis mandi.

Dengan sekali sentakan, Stevan merobek gaun tidur Sera yang tipis. Menghisap dan menggigit kecil leher Sera membuat Sera meringis kesakitan. Tangannya meremas payudara Sera yang besar mungkin karena ulahnya membuat aset Sera menjadi lebih besar.

Setelah melepas celana dalam milik Sera, Stevan membalikkan tubuhnya membuat Sera telungkup. Melepas handuk yang melilit di pinggangnya, lalu memposisikan dirinya untuk memasuki Sera.

"Aaahhhhh..." Sera mengerang tertahan, tangannya mencengkeram sprei dengan erat sampai terlihat koyak dan berantakan. Nafasnya memburu merasa milik Stevan memasuki pusat intinya dengan kuat dan cepat.

Stevan menggenjot Sera dari belakang dengan brutal, tangannya tak tinggal diam ia meremas payudara Sera yang lembut dan besar. Mencium leher, telinga, dan pipi Sera dari belakang dengan penuh nafsu. Tak memikirkan bobot tubuhnya yang membuat tubuh Sera terlihat tenggelam diranjang.

"Kakkk Aahhhhh...." Sera mendongak membuat Stevan lebih leluasa menguasai lehernya.

Sera memejamkan matanya frustasi, diserang dari berbagai arah membuat Sera kewalahan.

Desahan Sera terdengar merdu di telinga Stevan yang semakin terlihat bersemangat menyetubuhinya. Gila, Stevan benar-benar menikmati kegiatan panasnya dengan Sera.
Suara penyatuan mereka terdengar jelas mengiringi suara deru nafas mereka yang beradu.

Malam yang panas bagi mereka, melupakan luka ditubuh Sera yang belum sepenuhnya pulih. Rasa rindu mereka menguap begitu saja dibayarkan oleh kegiatan panas mereka yang menggila menyalurkan rasa rindu satu sama lain.

CRAZY STEV! [21+] ENDCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang