Tak terasa kandungan Sera tumbuh dengan cepat, kini usia kandungannya sudah enam bulan. Tetapi, perutnya terlihat lebih besar mungkin karena kembar.
Tatapan Sera tertuju pada Stevan yang sedang memakan fire chicken cheese, setiap hari ada saja keinginan Stevan untuk makan ini itu.
Tidak dengan Sera, ia hanya memakan apapun yang ada dan enak di lidahnya.
Sera heran, biasanya Stevan tak menyukai pedas. Tetapi, semenjak kehamilannya pria itu sangat menyukai pedas.
Sera memakan dua burger yang dibuat khusus bibi Mety, Sera dilarang Stevan membeli makanan di restoran cepat saji. Tetapi, pria itu sekarang memakan makanan dari restoran cepat saji.
"Kak Stev, Sera mau liburan." Kata Sera tiba-tiba setelah memakan habis dua burger berukuran jumbo.
Stevan seketika menatapnya, seolah bertanya.
"Ke Italia." Kata Sera dengan senyumnya.
Sergio sudah pulang karena bisnisnya di Italia tak ada yang memantau, sebenarnya bisa saja meminta orang kepercayaan Stevan untuk mengurusnya. Tetapi, Sergio tidak mudah percaya pada orang lain.
"No." Kata Stevan sembari berjalan ke arah wastafel untuk mencuci tangannya.
Sera cemberut, ia ingin sekali ke Italia. Jalan-jalan ditempat dimana mereka dulu menghabiskan waktu bersama.
Setelah selesai mencuci tangan, Stevan duduk disebelah Sera meminum jus stroberi milik Sera.
"Tapi.."
Stevan menatapnya datar seolah tak ingin dibantah. Tetapi, Sera tak akan menyerah. Sera ingin keinginannya terwujud.
Sera mendengus pelan, baru saja ia akan pergi tetapi Stevan mencekal tangannya.
"Lepas." Ketus Sera dengan raut wajah yang terlihat kesal.
Stevan seketika melepaskan cekalannya, ia takut Sera mengamuk dan berakhir stres.
Sera pergi dari sana menuju kamarnya yang ada di lantai satu, semenjak kehamilannya yang semakin tua. Stevan memindahkan kamar utama menjadi di lantai satu. Merenovasi kamarnya sesuai keinginan Sera.
Stevan pergi menyusul Sera, jangan sampai wanita itu menangis karena dilarang liburan olehnya. Saat sampai di kamar Stevan mendengar suara Sera yang sedang menelepon.
"Ayah, Sera mau ke Italia. Si kembar mau ketemu ayah." Kata Sera terdengar mengadu, membuat suara tawa di seberang sana terdengar.
"Jemput Sera ya ayah, kak Stev ngga ma.."
Belum sempat Sera melanjutkan perkataannya, tetapi ponselnya tiba-tiba ada yang merebut membuat Sera terkejut.
Sera menatap Stevan kesal karena merebut ponselnya. Sedangkan Stevan ia sudah mematikan panggilannya, lalu menatap Sera dengan tatapan yang ingin marah tetapi ia tahan.
"Apa?" Tanya Sera sewot karena Stevan terlihat ingin marah.
Stevan menghela nafasnya, ia tidak bisa marah karena Sera bisa saja menangis histeris jika dibentak oleh dirinya.
"Kita berangkat besok." Kata Stevan membuat Sera tersenyum senang.
Sera tak tahu saja, jika Stevan tak akan pernah menerima jika Sera ke Italia dengan lelaki lain. Walaupun itu ayahnya sendiri, si gengsi tetapi ada rasa itu membuat Sera merasa gemas.
**
Sera duduk dengan nyaman di kursi pesawat yang sangat empuk, kakinya sedang di pijat oleh bibi Mety yang diboyong Stevan untuk ikut ke Italia.
"Sudah bibi, terima kasih." Kata Sera yang diangguki bibi Mety.
Kaki Sera itu cepat pegal, bahkan pernah kakinya terlihat bengkak sekali. Posisi tidurnya serba salah, sakit pinggang dan segala hal lain yang ia rasakan semenjak kehamilannya.
Resiko hamil anak kembar itu sangat besar, apalagi bisa melahirkan kapan saja dengan tiba-tiba.
Sebelum berangkat liburan, Stevan memanggil dokter ke rumah untuk memeriksa Sera dan menanyakan apakah bisa bepergian ke luar negeri. Dokter berkata boleh asalkan Sera merasa nyaman dan tidak boleh kelelahan.
Disepanjang perjalanan Sera tak terus duduk karena tak baik bagi kandungannya, ia berjalan-jalan sesaat di pesawat pribadi Stevan.
Memakan makanan yang sangat lezat dengan lahap.
Sedangkan Stevan ia tertidur pulas karena semalaman begadang akibat Sera yang terus mengeluh sakit punggung.
Sebenarnya kasihan melihat Stevan yang kelelahan, si pria kasar itu kini berubah menjadi pria yang penuh perhatian dan menjaga sikap di hadapan Sera.
Butuh waktu belasan jam menuju Milan, tetapi mereka transit dulu di beberapa negara karena Sera tidak boleh stress dan kelelahan.
KAMU SEDANG MEMBACA
CRAZY STEV! [21+] END
RomansaWARNING : VULGAR, DARK ROMANCE, BDSM, DEWASA 21+ (TIDAK UNTUK ANAK DIBAWAH UMUR) Rasera Ryder hanya ingin hidup damai menikmati masa mudanya,berkencan, menikah, lalu mempunyai anak, membangun rumah tangga dengan suaminya kelak. Namun sangat disayang...
![CRAZY STEV! [21+] END](https://img.wattpad.com/cover/291305318-64-k685885.jpg)