Sinar matahari pagi menembus jendela kaca besar di sebuah kamar, menyorot seorang perempuan yang masih bergelung dibawah selimut, perempuan bersurai coklat itu menggeliat kecil. Dahinya mengernyit merasakan pegal diseluruh tubuhnya.
Sera mengerjapkan matanya pelan lalu bangun dari tidurnya, bersandar di sandaran ranjang menatap kamar yang besar ini terlihat sangat berantakan di area ranjang. Sera meringis saat merasakan perih di selangkangannya karena semalam Stevan terus menggempurnya sampai Sera tertidur lelah, beberapa bagian tubuhnya terasa perih karena Stevan bermain kasar.
Pintu kamarnya terbuka membuat Sera seketika menaikkan selimutnya menutupi dadanya yang terekspos, seorang wanita muda memasuki kamar tersenyum ramah pada Sera.
"Selamat pagi nona, saya diperintahkan tuan Stevan untuk membantu nona membersihkan diri karena hari ini nona ada wawancara kerja." Ucap wanita muda itu seketika membuat Sera ingat jika ia hari ini ada wawancara kerja sekali lagi dengan atasannya yang menentukan ia diterima atau tidak.
Sera seketika menoleh ke atas nakas, melihat jam kecil di sana yang menunjukkan pukul delapan pagi membuat Sera menghela nafas lega, karena wawancaranya dimulai pukul sepuluh jadi ia tidak terlambat.
Sesaat kemudian Sera mengerutkan dahinya, Stevan mengetahui jika dirinya akan ada wawancara dari mana? Sera terdiam sejenak, ia lupa jika Stevan bukan orang biasa mungkin dengan sekali perintah Stevan sudah bisa tahu segala tentang dirinya.
"Mari nona." Ucap maid itu menyadarkan Sera yang melamun.
"Eh a-aku bisa mandi sendiri." Balas Sera, ia tak mau maid itu melihat tubuhnya yang hampir penuh bekas gigitan kemerahan dan lebam karena Sera merasa malu.
Maid itu mengangguk "Baik jika begitu, saya akan mengambilkan pakaian untuk nona yang sudah disiapkan tuan Stevan." Kata maid itu lalu pamit dan keluar dari kamar.
Setelah melihat pintu kamar tertutup, Sera turun dari ranjang dengan selimut yang melilit tubuhnya, Sera meringis karena saat berjalan ia merasa selangkangannya terasa perih.
Sera membersihkan tubuhnya dengan susah payah, sesekali meringis saat lukanya terkena sabun dan air, apalagi selangkangannya yang terasa perih membuat Sera berjalan terlihat aneh.
Sera berjalan keluar kamar mandi, melihat pakaian untuknya tergeletak rapi di atas ranjang lengkap dengan dalamannya membuat wajah Sera memerah.
Sera segera memakai pakaiannya yang berwarna hitam putih, Sera rasa rok nya terlalu pendek membuat Sera tak nyaman. Bagaimana jika ia dimarahi oleh atasannya nanti?
Setelah memakai flat shoes Sera berjalan keluar kamar, rambutnya ia sengaja digerai untuk menutupi bekas kemerahan diarea lehernya yang tertutupi rambut.
"Mari nona." Ajak maid wanita yang tadi, membawa Sera ke meja makan.
Sera duduk sendiri disana ditemani para maid yang berdiri setia didekatnya, Sera heran kenapa Stevan sebaik ini padanya mempersiapkannya baju lalu menyiapkan makanan enak untuknya, apakah semua doll seperti ini? Pikir Sera heran.
Sera hanya memakan sandwich yang sangat lezat, Sera kagum ia baru pertama kalinya memakan sandwich yang sangat lezat seperti ini, biasanya ia hanya memakan sandwich yang biasa-biasa saja.
"Mobilnya di depan sudah siap nona." Ucap salah satu maid.
Sera mengangguk lalu meminum segelas air mineral dan beranjak dari sana, cara jalannya membuat maid disana merasa heran tetapi tak berani bertanya. Sebenarnya Sera ingin berkata ia naik angkutan umum saja, tetapi Sera tahu jika mansion ini jauh dari jalan raya. Sera masuk ke dalam mobil dengan canggung yang pintunya dibukakan oleh pria berpakaian serba hitam disana.
KAMU SEDANG MEMBACA
CRAZY STEV! [21+] END
RomanceWARNING : VULGAR, DARK ROMANCE, BDSM, DEWASA 21+ (TIDAK UNTUK ANAK DIBAWAH UMUR) Rasera Ryder hanya ingin hidup damai menikmati masa mudanya,berkencan, menikah, lalu mempunyai anak, membangun rumah tangga dengan suaminya kelak. Namun sangat disayang...
![CRAZY STEV! [21+] END](https://img.wattpad.com/cover/291305318-64-k685885.jpg)