26. Sergio yang berkuasa

52.5K 2K 4
                                        

Bibi Mety membantu perawat lainnya mendorong brankar Sera. Tadi saat ia mengantar sarapan untuk Sera, Sera sudah dalam keadaan tak sadarkan diri diatas karpet dekat tempat tidur.

Tentu saja bibi Mety panik karena Sera sedang dalam keadaan hamil. Bibi Mety takut jika Sera terluka dan diamuk oleh tuan Stevan.

"Mohon tunggu disini." Kata perawat menahan bibi Mety yang akan masuk ke dalam IGD.

Bibi Mety menghela nafas pelan, ia sungguh cemas dengan keadaan Sera.

"Kamu sudah menghubungi tangan kanan tuan Stevan?" Tanya bibi Mety pada Karen yang juga terlihat panik.

"Aku hubungi sekarang bibi." Jawab Karen lalu pergi dari sana.

Bibi Mety duduk di ruang tunggu IGD, raut wajahnya benar-benar cemas. Sera sudah ia anggap seperti anaknya sendiri membuat ia sungguh cemas.

"Dimana Sera?" Tanya seseorang dengan suara beratnya membuat bibi Mety menoleh.

Bibi Mety menatap terkejut melihat tuan besarnya yang sudah lama tak terlihat, kini datang dengan raut wajah yang cemas.

"Tuan besar, nona Sera ada di dalam." Jawab bibi Mety terbata karena takut pada Sergio.

Setelah melakukan penerbangan kemarin kesini, lalu ia mendengar jika Sera masuk rumah sakit. Tentu saja Sergio cemas karena Sera sedang mengandung cucu pertamanya.

Kenapa Sergio tahu? Membobol koneksi anaknya sangat mudah membuat Sergio mengetahui semua yang dilakukan Stevan pada Sera.

Pintu ruangan IGD terbuka menampilkan seorang dokter yang keluar dari sana.

"Keluarga pasien?" Tanya dokter itu bingung.

"Ya bagaimana keadaannya?" Tanya Sergio tak sabaran.

"Pasien mengalami stress, tetapi bayinya kuat jadi kita harus bersyukur pada Tuhan. Pasien akan segera dipindahkan ke ruang rawat." Jawab dokter itu membuat Sergio lega.

Dokter itu pergi dari sana dengan senyum ramahnya yang hanya dibalas bibi Mety.

"Bajingan itu." Gumam Sergio murka karena Stevan yang sudah membuat Sera stress.

Pintu IGD terbuka menampilkan Sera yang berada di atas brankar dengan keadaan tak sadarkan diri.
Sergio meminta perawat untuk membawa Sera ke ruangan VVIP, lalu meminta bibi Mety mengurus semua administrasi Sera.

**

Sera mengerjapkan matanya pelan, matanya menyipit karena sinar lampu yang terasa menyorotnya begitu tajam.

"Kau baik-baik saja?" Tanya Sergio menatap Sera yang sudah sadar.

Sera menoleh, mencoba memfokuskan pandangannya. Menatap Sergio terkejut karena Sera heran kenapa ayah Stevan ada disini?

Sera menganggukkan kepalanya kecil, suasananya sungguh canggung membuat Sera tak nyaman. Sera takut jika ayah Stevan juga marah padanya karena mengandung anak Stevan.

"Terima kasih sudah mengandung cucu pertama ku." Kata Sergio diluar dugaan membuat Sera menatapnya.
Sera tersenyum kecil, tak menyangka jika Sergio akan berkata seperti itu padanya.

Charlos tangan kanan Sergio berbisik pada Sergio membuat Sergio mengangguk paham.

"Diam saja dan ikuti rencanaku." Kata Sergio menatap Sera.
Sera menatap Sergio bertanya, apa maksudnya?

Baru saja Sera akan bertanya tetapi Sergio sudah berjalan keluar dari ruangan.

Diluar sana terlihat Stevan berlari menyusuri koridor rumah sakit dengan Ben tangan kanannya.
Raut wajah Stevan terlihat panik karena tiba-tiba mendapat kabar jika Sera masuk ke rumah sakit.

Langkah Stevan terhenti tepat di depan ruangan Sera yang terdapat Sergio sedang menatapnya datar.

"Mau apa kau kemari?" Tanya Sergio menatap Stevan sinis.

Stevan mendengus "Minggir." Kata Stevan membuat Sergio melotot tajam.

Lihat, betapa durhakanya Stevan padanya membuat Sergio ingin mengadu pada Tuhan, kenapa harus mempunyai anak seperti Stevan.

"Kau yang menyebabkan Sera masuk ke rumah sakit." Kata Sergio membuat Stevan mendengus.

"Ayah akan menjodohkan Sera dengan anak temanku, karena kau lalai dari tanggung jawab." Final Sergio menatap Stevan tajam.

"Tidak!" Balas Stevan menatap Sergio tak terima.

Sergio tersenyum sinis "Jika begitu, ayah akan membawa Sera ke Italia dan merawatnya. Lalu kau dilarang bertemu dengan Sera." Ancam Sergio membuat Stevan murka.

"Ayah." Geram Stevan karena tahu jika Sergio sudah bertindak ia tidak akan main-main dengan perkataannya.

"Pergi kau!" Bentak Sergio menatap Stevan tajam.

Stevan mengusap wajahnya kasar, menatap Sergio dengan tatapan memohon seorang anak pada ayahnya.

"Aku akan bertanggung jawab." Kata Stevan membuat Sergio menatapnya curiga.

Sedangkan di dalam ruangan, Sera tertawa kecil sendiri mendengarkan percakapan anak dan ayah itu.
Sera yakin semua perkataan Sergio itu hanya gertakan untuk Stevan. Setelah mendengar Stevan akan bertanggung jawab membuat Sera lega.

Ia tahu Stevan tak akan lari dari tanggung jawab, pria itu hanya belum siap menjadi ayah secepat ini.

CRAZY STEV! [21+] ENDCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang