17. Kehilangan

61K 1.8K 12
                                        

Setelah selesai mandi, Sera keluar dari kamar mandi. Seketika ia terkejut saat mendapati Stevan yang berada di kamarnya pagi ini.

Stevan sudah terlihat rapi dengan pakaiannya yang serba hitam, Stevan akan kemana? Pikir Sera.

"Pakai." Perintah Stevan sembari menunjuk pakaian untuk Sera yang tergeletak diatas ranjang.

Baru saja Sera akan bertanya tetapi Stevan sudah terlebih dahulu keluar kamar, meninggalkan Sera sendiri yang dilanda kebingungan.

Sera menatap pakaian yang tergeletak di atas ranjang. Kenapa Stevan menyiapkan pakaian untuk dirinya?
Sera segera berganti baju, walaupun ia dilanda kebingungan. Sera pikir apakah ada orang yang meninggal?

Setelah selesai, Sera membubuhkan sedikit make up di wajahnya agar tak terlihat pucat, serta menutupi matanya yang sembab karena menangis semalaman.

Sera berjalan keluar kamar, mengedarkan pandangannya mencari Stevan.

"Nona sudah ditunggu tuan Stevan diluar." Kata bibi Mety yang berdiri ujung tangga terakhir.

Sera mengangguk lalu tersenyum, menatap bibi Mety yang menatapnya iba.

"Pakai ini nona." Kata bibi Mety sembari menyampirkan selendang hitam di tubuh Sera.

"Tuan Stevan yang memintanya." Kata bibi Mety seolah tahu apa yang dipikirkan Sera.

"Sera pergi ya bi." Pamit Sera yang diangguki bibi Mety.

Sera berjalan keluar mansion, melihat mobil yang sudah siap untuk pergi. Sera masuk ke dalam mobil yang sudah ada Stevan disana.

Dalam perjalanan terasa sangat hening karena Stevan tak mengeluarkan kata sedikitpun.
Sera menatap keluar jendela, entah kenapa perasaannya tak enak sejak semalam. Ia merindukan ayahnya.
Saat mobil memasuki kawasan rumah duka, Sera menatap Stevan bertanya.

"Kak siapa yang meninggal?" Tanya Sera entah kenapa firasatnya buruk.

"Keluar." Kata Stevan pada Sera lalu ia keluar dari mobil.

Jantung Sera seketika berdebar cepat, kedua tangannya bertautan karena cemas. Siapa yang meninggal? Pikir Sera gusar.

Sera keluar dari mobil, seketika dibawa Stevan masuk ke dalam rumah duka. Sungguh firasat Sera sangat buruk.

Saat mereka memasuki rumah duka, tatapan Sera terjatuh pada sebuah foto diatas peti mati.

Ayahnya?

Nafas Sera memburu, matanya menatap syok ke arah foto itu. Berjalan mendekati peti mati yang terdapat pendeta tak jauh dari sana.

Tangan Sera bergetar mencoba melihat seseorang yang ada di dalam peti mati itu. Seketika Sera menjerit histeris saat melihat ayahnya sudah terbujur kaku di dalam peti mati itu.

"Ayahhhh.." Hatinya berdenyut sakit, air matanya meluruh tak mampu dibendung lagi.

Tubuh Sera lemas tetapi untung saja Stevan sigap menahan dirinya.
Sera menangis histeris, ia sudah lama tak bertemu dengan ayahnya. Tetapi, kini ayahnya sudah tiada.

"A-ayahhh kenapa meninggal?" Tangisan Sera terdengar pilu, membuat siapapun yang mendengarnya merasa iba.

Kepala Sera memberat, nafasnya memburu. Ia syok dan akhirnya Sera merasa semuanya menggelap. Sera harap ini hanya mimpi.

**

"Tekanan darahnya rendah dan dia juga syok berat." Kata seorang dokter wanita yang baru saja memeriksa Sera.

Dokter wanita itu segera pergi dari sana setelah mendapat kode dari tangan kanan Stevan.

"Tuan, para anak buah sudah turun membantu polisi." Kata Ben lalu pergi dari sana.

Stevan menatap datar Sera yang masih tak sadarkan diri. Tangannya mengepal kuat, berani sekali orang itu membuat Sera menangis. Pikir Stevan murka.

Sera mengerjapkan matanya, kepalanya terasa berat. Seketika ia bangun dari tidurnya, jantungnya berdebar cepat Sera harap itu hanya mimpi. Tetapi saat melihat Stevan yang berada di sebelahnya memakai pakaian yang sama, harapan Sera pupus itu kenyataan bukan mimpi.
Sera menatap Stevan nanar yang menatap dirinya datar.

"Aku mau ke rumah ayah.." Gumam Sera dengan suara seraknya.

"Dijaga polisi." Kata Stevan datar.
Sera menundukkan kepalanya, hatinya berdenyut sakit. Air matanya kembali meluruh, bahunya bergetar karena menangis.

"Kenapa ayah meninggal?" Tanya Sera tanpa menatap Stevan.

"Dibunuh orang." Jawab Stevan membuat Sera menatapnya terkejut.

Ayahnya memang mempunyai banyak masalah, hutang dimana-mana, serta banyak orang yang membencinya. Siapa orang yang membunuh ayahnya?

"Sore ini upacara pemakaman." Kata Stevan lalu beranjak dari sana.
Sera menatap Stevan nanar yang berjalan keluar kamar, air matanya meluruh. Sera tak menyangka jika ia sudah ditinggalkan ayahnya selamanya.

Tidak mungkin kan Stevan yang membunuh ayahnya?

CRAZY STEV! [21+] ENDCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang