34. Berpisah?

50.8K 2.3K 148
                                        

Sera mengelus perutnya yang membuncit, matanya memanas menatap kolam renang berwarna biru laut itu yang sangat luas. Memikirkan perkataan ayah Sergio padanya semalam, membuat Sera semakin merasa stres.

"Ayah hanya tahu Stevan membawa wanita hampir setiap malam ke hotel miliknya."

Kepala Sera menunduk dengan bahu yang bergetar karena menangis. Sera pikir semenjak kehamilannya, Stevan akan berubah menjadi lebih baik.

Tetapi kenyataannya? Stevan mengkhianati dirinya saat Sera sedang hamil anak pria itu.

"Nona, sebaiknya masuk ke dalam. Udara hari ini semakin dingin." Kata bibi Mety mencoba menenangkan Sera yang terus gelisah.

"Ayo nona kita ke dalam, kasihan baby twins jika nona terus menangis." Kata bibi Mety menatap Sera sendu, sembari menghapus air mata di pipi Sera.

Sera menatap bibi Mety dengan matanya yang memerah karena terus menangis "Sera salah apa sama kak Stev?" Tanya Sera dengan suaranya yang bergetar.

Bibi Mety segera memeluk Sera dari samping. Hatinya ikut berdenyut sakit melihat Sera yang benar-benar menderita.

"Nona tidak salah, nona harus kuat demi baby twins yang tidak mau ibunya terus menangis." Kata bibi Mety sendu.

Sera menganggukkan kepalanya kecil. Tersenyum sembari mengusap air matanya yang membasahi pipinya.

"Sera ngga akan nangis lagi." Kata Sera dengan senyum mirisnya.

Bibi Mety menganggukkan kepalanya pelan "Mari nona sekarang sudah jam makan siang." Kata bibi Mety sembari membantu Sera untuk berdiri dari duduknya.

Kandungan Sera yang baru menginjak enam bulan, sudah terlihat besar dari umumnya. Mungkin karena anak kembar, membuat perut Sera lebih besar dari usia kandungannya.

Sera dibawa Sergio masih di kawasan Milan karena Sera tidak bisa bepergian jauh. Jika bisa memilih, Sera ingin pulang ke tanah kelahirannya. Sera tak mau disini, Sera sudah lelah dan ingin menyerah pada Stevan.

"Bibi, ayah Sergio udah pulang?" Tanya Sera yang sedang duduk di sofa kamarnya sembari memakan makan siangnya.

"Belum non." Jawab bibi Mety membuat Sera menghela nafas pelan.

"Bibi ke bawah aja, Sera mau sendiri di kamar." Kata Sera pelan membuat bibi Mety mengangguk paham.

"Baik, jika ada sesuatu segera panggil bibi ya non." Kata bibi Mety yang diangguki Sera.

Sera menatap punggung bibi Mety yang mulai menjauh. Saat pintu kamarnya sudah kembali tertutup, Sera memejamkan matanya lelah. Merasa batin nya benar-benar tersiksa membuat Sera stres.

Sera seketika membuka matanya karena terkejut, merasakan tendangan kecil di dalam perutnya.

Sera tersenyum kecil lalu mengelus perutnya yang besar "Lapar ya? Ini mommy mau makan lagi kok." Kata Sera pelan, lalu melanjutkan makan siangnya.

Lidahnya hambar dan ia benar-benar kehilangan nafsu makannya. Tetapi, Sera sadar jika ada dua nyawa yang butuh asupan di dalam perutnya.

Setelah selesai makan, Sera meminum susu kehamilannya dengan rasa enggan karena baunya membuat Sera mual.

"Sera?"

Panggil seseorang membuat Sera menoleh ke arah pintu kamarnya. Lalu tersenyum melihat ayah Sergio yang sudah datang.

"Kau sudah makan siang?" Tanya Sergio sembari berjalan memasuki kamar Sera.

"Sudah ayah." Jawab Sera dengan senyum manisnya.

Sergio tersenyum, menatap mata Sera yang sembab membuat ia tahu jika Sera habis menangis.

"Ada apa ayah?" Tanya Sera menatap Sergio yang terlihat ingin mengatakan sesuatu.

"Tentang Stevan.."

"Sera menyerah ayah." Kata Sera dengan suaranya yang bergetar, memotong perkataan Sergio.

Sergio menatap Sera terkejut "Apa maksudnya?" Tanya Sergio terlihat gusar.

Sera menautkan kedua tangannya dengan gugup "Sera tahu kak Stev ngga bahagia sama Sera. Jadi, lebih baik Sera menyerah sama kak Stev." Kata Sera dengan matanya yang berkaca-kaca.

"Sera.."

"Kak Stev pasti bahagia dengan perempuan lain diluar sana." Kata Sera tanpa sadar air matanya kembali meluruh.

"Sera, ayah ngga setuju.."

"Ayah tenang aja, mereka masih tetap cucu ayah." Kata Sera dengan senyumnya sembari mengelus perutnya.

Sergio menghela nafasnya pelan "Maafkan Stevan." Kata Sergio terdengar tulus membuat Sera tersenyum miris.

**

Suara bantingan pecahan botol kaca terdengar nyaring di kamar Stevan yang kini tercium bau alkohol.
Nafas Stevan memburu dengan sorot mata yang begitu tajam. Amarahnya tak terkendali membuat siapapun tak berani mendekat pada iblis yang sedang mengamuk itu.

"Tuan, pelakunya sudah ditemukan dan kini berada di ruang bawah tanah." Kata Ben memasuki kamar Stevan dengan rasa takut.

Stevan menatap tangan kanannya dengan tajam. Lalu berjalan keluar kamar dengan langkah lebarnya, aura gelap dan dingin mengitari Stevan yang benar-benar terlihat murka.
Pelaku yang sudah mengirim pesan itu sudah tertangkap, yaitu jalang suruhan dari rekan kerjanya yang sangat membenci Stevan.

Pintu ruangan bawah tanah terbuka otomatis saat Stevan sudah datang. Berjalan menghampiri seorang wanita jalang yang tangan dan kakinya terikat kuat.

Tatapannya menghunus tajam seolah siap membunuh siapapun di hadapannya. Jalang itu terus memberontak melepaskan diri, menatap Stevan dengan sorot mata yang ketakutan.

Ia sudah membangunkan iblis yang telah lama tidak membunuh mangsa.
Tanpa aba-aba Stevan menyeret jalang itu lalu seketika membantingnya membuat suara teriakan kesakitan terdengar nyaring.

Para anak buahnya memundurkan langkahnya pelan, merasakan degup jantung mereka berdebar cepat melihat tuan mereka yang menggila.
Stevan meludah tepat di wajah jalang itu yang sudah berdarah karena bantingan dirinya begitu keras.
Berani-beraninya jalang ini mengirim pesan padanya membuat Sera salah paham, dan berakhir kabur dengan ayahnya.

Stevan mengambil pisau kecil yang ada di saku celananya. Membuat wanita jalang itu melotot ketakutan.
Dengan sekali tusukan, Stevan menancapkan pisau itu di tengah-tengah dada jalang itu yang seketika penuh darah.

Stevan menyeringai saat melihat jalang itu seketika membeku dengan dada yang terus mengeluarkan darah.

"Tuan, nona Sera sudah ditemukan." Kata Ben dengan ragu membuat Stevan seketika beranjak dari sana.
Berjalan keluar ruangan bawah tanah dengan tangan yang berlumuran darah. Tak peduli jika tangannya bau amis atau darah jalang itu mengucur di tangannya.

Pikiran Stevan kini tertuju pada Sera. Wanita kecil itu tak akan pernah ia lepaskan sampai kapanpun.

CRAZY STEV! [21+] ENDTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang