24. Positif

59.6K 1.8K 21
                                        

Sera terus memuntahkan isi perutnya, perutnya seperti di aduk-aduk pagi ini membuat Sera merasa mual dan terus muntah.

Sedari tadi Sera terus muntah, tetapi Stevan terlihat tak peduli membuat hati Sera berdenyut sakit.

Sera membasuh mulutnya, menatap pantulan dirinya di cermin. Sera begitu pucat, rasa mual masih menyerangnya membuat mata Sera memanas.

Sera berjalan keluar kamar mandi dengan pelan, merasa pusing di kepalanya.

Menatap Stevan terkejut yang berdiri di dekat pintu kamar mandi, melemparkan sebuah benda panjang pada Sera.

Sera menatap benda itu yang ada di tangannya, sebuah alat tes kehamilan?

Sera seketika menatap Stevan yang menatap dirinya datar, nafas Sera memburu setelah mengingat ia telat datang mens bulan ini.

Tidak mungkin dirinya hamil kan? Sera ingat Stevan tak pernah memakai pengaman jika bercinta dengan dirinya.

Sera juga tak pernah meminum obat kontrasepsi, karena Sera ingat saat ia memeriksa kesuburan dulu ia kurang subur.

"Pakai." Perintah Stevan terdengar datar.

Sera takut, ia sungguh takut jika dirinya benar-benar hamil.

Stevan menatapnya begitu datar, semakin membuat Sera takut bagaimana jika Stevan murka padanya saat mengetahui Sera hamil.
Sera kembali masuk ke dalam kamar mandi dengan ragu, berharap dalam hati ini ia tak hamil.

Stevan memejamkan matanya menahan amarah, ia tak mau jika Sera hamil untuk saat ini karena Stevan masih ingin bermain dengan Sera, dan tak ingin ada anak dulu diantara mereka.

Didalam kamar mandi, Sera menangis melihat garis dua di alat tes kehamilan itu. Ia positif hamil dan Sera semakin ketakutan jika Stevan murka padanya.

Sera berjalan keluar kamar mandi, penampilannya begitu berantakan dan pucat membuat siapapun yang melihatnya akan iba.

Stevan menatap Sera datar yang keluar dari kamar mandi, Sera terlihat habis menangis membuat Stevan semakin gusar.

Stevan tak mau jika harus menjadi ayah di usianya saat ini. Stevan masih ingin bermain-main dan menikmati kebebasan.

Sera memberikan hasilnya kepada Stevan dengan tangan yang bergetar takut.

Stevan menatap dingin testpack ditangannya yang menunjukkan garis dua.

Rahang Stevan mengeras, menatap Sera begitu tajam. Rasa amarah menggebu di dadanya.

"K-kak Stevv.." Cicit Sera takut, baru saja ia akan memegang tangan Stevan tetapi Stevan menyentakkan tangannya begitu kasar.

Sera tak mampu membendung air matanya lagi, Sera menangis dengan kepala menunduk takut pada Stevan.
Stevan begitu mengerikan jika marah, apalagi perlakuan Stevan bisa sangat kasar saat sedang marah.

"K-kakk Stevv maaf hiksss.." Cicit Sera dengan tangisannya.

Nafas Stevan memburu, melemparkan testpack ditangannya dengan kasar sampai membuat Sera terkejut.

Stevan berjalan keluar kamar dengan rasa amarah yang besar, meninggalkan Sera yang menangis.

Tubuh Sera melemas, terduduk diatas dinginnya lantai yang dingin. Menangis menatap pintu kamarnya yang tertutup dengan kasar.
Stevan marah padanya, membuat hati Sera berdenyut sakit.

Sera memegangi perutnya, darah dagingnya dengan Stevan sedang tumbuh di dalam perutnya.
Sera tak menyalahkan anak ini karena ia tak salah, ini salah dirinya yang teledor karena tak berhati-hati.
Bagaimana ini? Sera belum sepenuhnya berhasil meluluhkan Stevan, tetapi kini Stevan kembali murka padanya.

Sorot mata Stevan tadi benar-benar kecewa dan marah, tak ada sorot bahagia saat mengetahui Sera hamil.
Hatinya berdenyut sakit, Sera merasa dunianya hancur apalagi melihat Stevan yang terlihat tak menginginkan anak di dalam perutnya.

CRAZY STEV! [21+] ENDCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang