29. Ada apa dengan Stevan?

46.6K 1.7K 13
                                        

Sera terlihat cantik dengan dress santainya, hari ini ia akan periksa kandungan bersama Stevan.

Sera mengelus perutnya yang sudah terbentuk, menatap keluar jendela melihat jalanan yang lumayan padat

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.


Sera mengelus perutnya yang sudah terbentuk, menatap keluar jendela melihat jalanan yang lumayan padat.

Mungkin karena ini akhir bulan membuat orang-orang pergi liburan.
Sera menatap Stevan yang masih bergelut dengan ipadnya, Stevan memang tak bekerja hari ini tetapi ia masih memantau bisnisnya dari rumah.

Sera merebahkan kepalanya di bahu lebar Stevan, membuat Stevan seketika menyimpan ipadnya. Merangkul pinggang Sera agar semakin rapat padanya.

Aroma Stevan yang khas selalu diingat olehnya, Stevan memang belum sepenuhnya luluh tetapi Sera yakin jika Stevan akan berubah demi dirinya dan anak mereka.

"Pusing?" Tanya Stevan kaku.
Sera menggelengkan kepalanya, ia mengantuk tetapi sebentar lagi mereka sampai di rumah sakit.

Beberapa saat kemudian, akhirnya mereka sampai di D'geshio Hospital. Stevan sudah membuat janji dengan dokter yang ada disini, karena Stevan sangat malas untuk mengantri.

Sera keluar dari mobil bersama Stevan, berjalan memasuki gedung rumah sakit yang sangat besar. Ini memang rumah sakit terbesar di kota ini, yang Sera tahu ini adalah rumah sakit milik keluarga Samuel.

Faye dan Syella entah kenapa Sera seketika merindukan mereka, namun sayang Sera kehilangan kontak dengan mereka.

"Tuan Stevan sudah ditunggu oleh dokter Tyas." Kata seorang perawat disana saat melihat Stevan datang.

Stevan tak menjawab, ia membawa Sera memasuki ruangan dokter yang sudah ada janji dengannya.

Sera tersenyum menatap perawat itu yang terlihat terpesona pada Stevan. Kenapa dia tidak menghargai keberadaan Sera yang ada di sisi Stevan? Pikir Sera kesal.

"Hai Stevan." Sapa seorang dokter perempuan yang terlihat ramah.

Dokter Tyas adalah teman seangkatan Stevan dulu saat kuliah, walaupun Tyas lebih lama kuliahnya tetapi mereka masuk di tahun yang sama.

"Dia sangat muda." Kata dokter Tyas tertawa pelan menatap Sera ramah.
Sera hanya tersenyum canggung, dirinya tidak semuda itu. Pikir Sera.

"Mari." Kata dokter Tyas meminta Sera untuk naik ke atas brankar.
Sera naik ke atas brankar, merebahkan dirinya disana. Ia gugup karena baru pertama kali melakukan ini.

Dokter Tyas mulai melakukan pemeriksaan, menyingkap dress Sera membuat Sera merasa tak nyaman.
"Lihat ini anak kalian." Kata dokter Tyas terlihat antusias.

Sera tersenyum menatap layar monitor yang menampilkan janinnya. Tetapi, ia merasa ada yang aneh dengan gambar itu.

"Stev anak kalian kembar." Kata dokter Tyas membuat Sera menatapnya terkejut.

Kembar? Sera memang bermimpi ingin mempunyai anak kembar. Sungguh? Harapan dirinya terkabul? Sera tersenyum haru.

Sedangkan Stevan, raut wajahnya seketika menjadi datar. Sorot mata senang saat melihat monitor seketika menghilang.

Stevan terdiam, jantungnya berdegup cepat. Kenapa harus kembar?
Dokter Tyas menyudahi pemeriksaannya, membuat Sera segera bangun dari tidurnya.

Turun dari brankar tanpa bantuan Stevan, Sera menatap Stevan yang terdiam.

"Saya sudah meresepkan vitamin untuk kamu, jaga pola makan dan jangan terlalu lelah." Kata dokter Tyas pada Sera.

Sera mengangguk, ia menatap Stevan yang hanya berdiri kaku. Kenapa Stevan? Bukankah tadi dia baik-baik saja?

"Oh ya hamil anak kembar sebenarnya mempunyai resiko yang besar, karena bisa melahirkan sewaktu-waktu. Jadi jangan pernah sendirian ya, kemana-mana harus ditemani." Kata dokter Tyas membuat

Sera mengangguk paham. "Terima kasih." Kata Sera membuat Tyas tersenyum ramah.

Sera beranjak dari duduknya, baru saja ia akan memegang tangan Stevan. Tetapi, Stevan sudah terlebih dahulu keluar ruangan.

Sera mengikuti langkah Stevan dari belakang, kenapa Stevan terlihat marah? Pikir Sera bingung.

Sera menatap punggung Stevan nanar, kenapa Stevan tiba-tiba seperti ini? Pikir Sera dengan matanya yang mulai memanas.

Mereka memasuki mobil, biasanya Stevan akan membantu Sera tetapi sekarang tidak.

Sera menatap Stevan yang membuang pandangannya keluar kaca mobil, rahang Stevan terlihat mengeras menandakan ia sedang marah.

Apa yang membuat Stevan marah? Pikir Sera bingung, ia rasa dirinya tidak melakukan kesalahan.

"Ke kantor." Perintah Stevan membuat Sera seketika menatapnya.
Baru saja Sera akan bertanya tetapi Stevan sudah terlebih dahulu menelepon seseorang.

Sera menautkan kedua tangannya, hatinya berdenyut sakit karena perubahan Stevan yang tiba-tiba.
Mobil berhenti tepat di depan lobby gedung kantor Stevan. Stevan segera keluar dari mobil dengan tangan kanannya, meninggalkan Sera bersama seorang sopir.

Mobil yang Sera tumpangi kembali melaju, Sera menatap Stevan yang memasuki gedung perusahaan. Stevan tak berkata apapun padanya, kenapa Stevan berubah seperti dulu?

Tanpa sadar air matanya jatuh membasahi pipinya, Sera membuang pandangannya keluar kaca mobil.
Apa yang membuat Stevan menjadi seperti itu?

**

Malam harinya, Sera makan malam hanya dengan ayah Sergio karena Stevan belum pulang.

Entah kenapa Stevan belum pulang, tak biasanya. Karena semenjak Sera hamil, Stevan tak pernah pulang terlambat.

"Kemana Stevan?" Tanya Sergio pada Sera.

"Tadi kak Stev ke kantor." Jawab Sera pelan.

Sergio mengerutkan dahinya heran, lalu kenapa Stevan belum pulang? Pikirnya.

"Sera duluan ayah." Kata Sera canggung membuat Sergio tersenyum.

Sergio memang meminta Sera memanggilnya ayah, tetapi Sera belum terbiasa membuat Sera terlihat kaku.

Sera pergi dari sana, berjalan menuju lantai dua. Pikirannya tertuju pada Stevan, entah ada apa dengan Stevan membuat Sera heran.

CRAZY STEV! [21+] ENDTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang