4. Playroom Stev!

152K 2.6K 31
                                        

Sera memijat bahunya pelan, merasakan otot-otot tubuhnya terasa kaku karena di gempur oleh Stevan tadi siang. Besok adalah hari pertamanya kerja, karena hari ini ia sibuk melayani Stevan. Ingin sekali Sera mengundurkan diri tetapi ia butuh uang itu untuk mencicil hutang ayahnya. Mengingat ayahnya membuat Sera sedih, ia tak menyangka ayahnya akan sekejam itu padanya.

Sera menyandarkan tubuhnya di pinggiran bathup memejamkan matanya lelah, ia baru pulang dua jam yang lalu itupun tidak dengan Stevan karena Stevan mempunyai janji makan malam dengan relasi bisnisnya.

Sepuluh menit kemudian Sera beranjak dari bathup, lalu berjalan menuju shower membasuh tubuhnya yang licin karena sabun. Matanya menatap nanar pada cermin disana, tubuhnya penuh luka membuat Sera merasa selalu perih dan ingin menangis tetapi ia mencoba untuk kuat. Sera mematikan showernya lalu meraih kimono putih yang menggantung disana, berjalan keluar kamar mandi menuju walk in closet.

Sera menghembuskan nafasnya pelan melihat jejeran gaun tidur yang semuanya sangat terbuka membuat Sera kesal tetapi tak berani protes. Sera akhirnya memilih gaun tidur berwarna merah yang tak terlalu gelap, lagi-lagi ia menghela nafasnya pelan saat payudaranya menyembul di balik gaun tidur itu.

 Sera akhirnya memilih gaun tidur berwarna merah yang tak terlalu gelap, lagi-lagi ia menghela nafasnya pelan saat payudaranya menyembul di balik gaun tidur itu

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.


Tepat saat Sera membuka pintu kamar, ia terkejut karena seorang maid berdiri di pintunya.

"Maaf nyonya, saya mengejutkan nyonya." Ucap maid itu menunduk karena merasa bersalah.

Sera tersenyum ia sebenarnya canggung dipanggil nyonya, apakah maid itu tidak mengetahui jika Sera hanyalah boneka majikannya.

"Mari nyonya, makan malam sudah siap." Ucap maid itu membuat Sera berjalan mengikuti langkah maid itu dari belakang.

Sera mengeratkan cardigan gaun tidurnya karena merasa malu payudaranya terlihat, tetapi percuma saja karena cardigannya tak menutupi payudaranya yang menyembul.

Sera segera menyantap makanannya, mansion ini terlihat sangat sepi membuat Sera heran kenapa Stevan tidak tinggal dengan orang tuanya saja? Pikirannya tertuju pada masa mereka sekolah menengah atas, Sera yang selalu diam-diam memperhatikan Stevan.

Saat melihat Stevan didekati para perempuan selalu membuat Sera kesal sendiri, tetapi ia tak menunjukkannya karena Sera tahu posisinya sangat rendah saat itu. Bahkan sekarang pun Sera merasa lebih rendah karena dia hanya boneka Stevan yang bisa dibuang kapan saja.

Setelah menyantap makan malamnya Sera kembali naik ke lantai dua, langkahnya melewati pintu kamarnya karena Sera penasaran ada apa di lantai tiga mansion ini, karena para maid tidak ada yang berani masuk ke sana membuat Sera bingung. Sera menaiki tangga yang melintang, tangga itu terlihat transparan dan terdapat cahaya lampu di setiap anak tangga.

Sera mengedarkan pandangannya lantai tiga ini benar-benar luas karena tak banyak sekat, di ujung ruangan terlihat ada ruang khusus gym karena dindingnya terbuat dari kaca membuat Sera bisa melihat isinya.

CRAZY STEV! [21+] ENDTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang