37. Welcome to the world baby twins

73.9K 2.9K 185
                                        

Halo 🖐️

Happy satnight 🌙

Bentar, kenapa banyak yang nanya cerita ini dilanjut atau ngga sih karena udah terbit Ebook?

Di part 36 kan Lyn udah jelasin dibagian bawah, kalo cerita Stev akan dilanjut di Wp sampai TAMAT.

Sampai ada yang marah-marah karena nyangkanya ngga akan lanjut. Makanya lain kali baca baik-baik ya sebelum komentar:'

Jadi yang nanya gitu ngga Lyn jawab karena capek kebanyakan. Padahal udah dari awal dijelasin, tetap aja ada yang tanya lagi:)

Kalo ada yang tanya lagi lanjut atau ngga, Lyn geplak ya pake duit segepok! 🤾

Oke cukup, selamat yang udah jadi aunty online lagi :)

Happy reading


Pagi ini Sera pergi ke gereja bersama ayah Sergio dan bibi Mety. Rencananya setelah dari gereja, mereka akan langsung ke rumah sakit karena Sera dari semalam terus merasa mulas. Sera menundukkan kepalanya, tangannya mengepal di dada berdoa dengan khusyuk. ‘Tuhan, Sera mohon ampuni dosa Sera, lancarkan persalinan ini dan buat kak Stev menjadi lebih baik’ Batin Sera.

Sera tak menyadari ada Stevan yang duduk paling belakang, menatap Sera yang terus berdoa. Malaikat Tuhan yang telah ia sakiti begitu dalam. Stevan harap Sera melahirkan dengan selamat. Stevan merasa cemas karena mendapat kabar jika Sera terus kesakitan sepanjang malam.

Saat melihat Sera yang akan pergi membuat Stevan bergegas pergi terlebih dahulu. Stevan akan mengikuti mobil Sergio dari belakang, Stevan ingin menemani Sera melahirkan anak mereka.

Sera masuk ke dalam mobil di bantu ayah Sergio. Menoleh ke belakang karena merasa ia melihat Stevan. Sera menggelengkan kepalanya pelan, tidak mungkin Stevan mengikutinya kemari. Pikir Sera.

“Ada apa?” Tanya Sergio.

“Tidak ada apa-apa ayah.” Jawab Sera dengan senyumnya.

Mobil yang ditumpangi mereka melaju dengan cepat, karena Sera terus meringis kesakitan. Mengandung bayi kembar memang memiliki resiko yang tinggi, sebenarnya Sera takut akan terjadi sesuatu karena merasa firasatnya buruk.

Sesampainya di rumah sakit, Sera langsung dibawa ke ruang operasi menggunakan brankar yang di dorong oleh beberapa perawat. Tak lupa ayah Sergio dan bibi Mety yang berlari mengikutinya.

Sera terlihat pucat, keringat mengalir di pelipisnya. Dokter memutuskan untuk mengoperasi Sera sesegera mungkin karena melihat keadaan Sera yang lemah. Mata Sera terpejam, merasa mulutnya dan hidungnya di pasang oksigen. Ia takut jika anaknya tak selamat. Sendiri di ruang operasi tanpa ditemani siapapun membuat Sera takut sekaligus cemas.

Sampai ia merasa tangannya digenggam seseorang membuat Sera membuka matanya pelan. Menatap Stevan yang memakai baju steril, dan sedang menatapnya begitu sendu.
Sera bisa merasakan rasa cemas Stevan, tatapan pria itu begitu ketakutan. Apakah Stevan takut Sera meninggal seperti mendiang ibu Stevan dulu?

“You are mine.” Gumam Stevan sembari mencium dahi Sera tulus.

Sera meneteskan air matanya, ia ingin berkata jika Sera mencintai Stevan. Sera takut ini terakhir kalinya ia diberi kesempatan oleh Tuhan untuk bertatapan dengan Stevan di dunia.

Operasi dimulai, Stevan terus mengusap peluh yang ada di pelipis Sera, Mencium tangan Sera yang ada digenggamannya, Stevan kembali berdoa dalam hati, ia ingin Sera dan anaknya selamat. Suara tangisan bayi terdengar membuat Sera tersenyum lemah, lalu suara tangisan bayi yang lain terdengar setelah berselang beberapa saat.

“Bayinya tampan dan cantik.” Puji dokter yang membantu persalinan Sera.

Stevan mencium dahi Sera tulus seolah mengucapkan rasa terima kasih pada Sera yang telah melahirkan anak mereka dengan selamat.

Sampai Stevan merasa tangan Sera melemah, membuat Stevan membuka matanya menatap mata Sera yang mulai meredup lemah. Suara monitor jantung Sera terdengar nyaring, tubuh Stevan di dorong oleh perawat agar menjauh. Telinga Stevan berdengung, kepalanya berat. Matanya memancar ketakutan melihat Sera yang tengah diselamatkan oleh para dokter disana. Sera terlihat pucat dan lemah, Stevan merasa jiwanya ditarik paksa. Tidak Tuhan, jangan menghukum Stevan dengan cara seperti ini.

“Stevan.”

“Stevan.”

“Stevan.”



Kan si Sera sama Stev kenapa:'

Jangan lupa VOTE ya, terimakaci:)

See ya 🖐️

CRAZY STEV! [21+] ENDCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang