32. Bukan cinta

43.2K 1.7K 5
                                        

Sera duduk di kursi taman, raut wajahnya terlihat murung. Matanya menatap hamparan bunga Lily putih yang sangat cantik.

Tadi pagi sebelum Stevan berangkat kerja, entah kenapa Sera tiba-tiba bertanya 'Kak Stev cinta Sera?' seharusnya Sera tak bertanya seperti itu, karena Stevan hanya terdiam lalu pergi dari kamar meninggalkan Sera.

Stevan tidak mencintainya? Berarti hanya Sera saja yang mencintai Stevan? Jadi, perhatian Stevan pada dirinya itu dalam bentuk apa?
Hanya sebatas kasihan? Atau hanya rasa tanggung jawab?

Tanpa sadar Sera meneteskan air matanya, apakah salah mengharapkan cinta dari Stevan?

"Sera?"

Suara panggilan Sergio padanya terdengar membuat Sera segera menghapus air mata yang membasahi pipinya.

"Ada apa ayah?" Tanya Sera dengan senyum manisnya.

"Apakah ada yang berbeda dengan Stevan?" Tanya Sergio yang sudah duduk disebelah Sera.

Sera terdiam sesaat "Hmm kak Stev akhir-akhir ini sering pulang malam." Jawab Sera.

Sergio hanya mengangguk, matanya menatap hamparan bunga Lily di hadapannya. Terlihat sekali jika Sergio ingin menyampaikan sesuatu tetapi ia urungkan.

"Kenapa ayah?" Tanya Sera karena ia merasakan ada yang disembunyikan oleh Sergio.

"Tidak, ayah ingin mengajakmu jalan-jalan." Jawab Sergio membuat Sera berbinar.

"Sungguh? Jalan-jalan kemana?" Tanya Sera antusias.

"Kau ingin kemana? Ayah akan menjadi guide tour pribadi untukmu." Kata Sergio membuat Sera semakin tersenyum senang.

"Sana siap-siap, ayah tunggu di depan." Kata Sergio yang diangguki Sera.

Sera segera beranjak dari duduknya, berjalan masuk ke dalam rumah. Meninggalkan Sergio yang seketika raut wajahnya datar.

"Bajingan itu." Gumam Sergio sembari mengepalkan tangannya.

**

Sera ingin pergi ke taman hiburan di Milan, tentu saja Sergio turuti. Tetapi ia membatasi gerakan Sera agar tak terlalu lelah.

"Istirahat dulu Sera, duduk disitu ayah akan membeli ice cream untukmu." Kata Sergio yang diangguki Sera.

Sera menatap Sergio yang mulai menjauh, berjalan mendekati kedai ice cream.

Rasanya senang jalan-jalan dengan ayah Stevan, karena Sera menganggap ayah Stevan adalah ayahnya sendiri. Sergio terlihat sekali menyayangi Sera calon menantunya, perhatian pada Sera seperti pada anaknya sendiri.

Mungkin karena Sergio telah kehilangan anak perempuannya, membuat ia menyayangi Sera seperti anak kandungnya sendiri.

Senyum Sera melebar melihat Sergio yang sudah datang dengan dua cup ice cream di kedua tangannya.

"Ini untuk anak ayah." Kata Sergio membuat Sera terharu.

"Makasih ayah." Kata Sera terdengar tulus.

Walaupun Sergio terlihat sangar dengan raut wajahnya yang menyeramkan seperti bapak-bapak pada umumnya, tetapi ia terlihat perhatian pada Sera.

Sera memakan ice cream nya dengan lahap, sembari menatap sekitar taman hiburan yang ramai pengunjung.

Sebenarnya Sera ingin kesini itu bersama Stevan, tetapi Stevan sepertinya tak punya waktu untuk dirinya.

Sera terlihat cantik dengan dress selututnya, walaupun perutnya sudah membuncit tetapi itu tak membuat kecantikannya pudar.

"Mau ayah fotokan?" Tanya Sergio membuat Sera menatapnya.

"Ayah mau memfotokan Sera?" Tanya Sera tak percaya.

Sergio mengangguk "Jangan menganggap remeh hasil jepretan ayah, karena ayah dulu belajar ilmu fotografi." Jawab Sergio membuat Sera tertawa.

Sergio mengeluarkan ponselnya, memposisikan dirinya untuk memfoto Sera.

Sera berpose sembari memegangi balon yang dibelikan oleh Sergio, angin menerpa rambutnya membuat Sera menyipitkan matanya.

"Lihat, anak ayah cantik kan

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

"Lihat, anak ayah cantik kan." Kata Sergio memperlihatkan hasil jepretannya pada Sera sembari mengelus puncak kepala Sera. Seperti ayah pada anaknya sendiri.

Sera tersenyum senang "Bagus ayah." Gumam Sera sembari menatap layar ponsel Sergio.

"Sudah sore, ayo kita pulang." Ajak Sergio yang diangguki Sera.

Sera beranjak dari duduknya sembari memeluk boneka yang tadi dapat hadiah dari permainan tembak.
Menyerahkan balonnya pada anak kecil yang sedari tadi menatapnya.

Sergio tersenyum, Sera begitu baik hati namun sayang harus terjebak dengan anaknya.

**

"Kak Stev?" Sera terlihat terkejut saat memasuki kamar, sudah ada Stevan yang duduk di sofa single hitam sembari meneguk segelas wine.

Sera kira Stevan belum pulang, tatapan Stevan yang tajam membuat Sera terlihat ketakutan.

Ada apa dengan Stevan? Kenapa Stevan terlihat berbeda. Kemana tatapan lembut Stevan padanya?
Saat Stevan melempar gelas wine nya dengan kasar, sontak saja membuat Sera terkejut.

Menatap Stevan tak percaya yang sedang menatap dirinya marah. Berjalan mendekati Sera yang terlihat ketakutan.

Stevan mencengkram rahang Sera kuat "Lo pikir, gue ngizinin lo keluar?" Geram Stevan dengan penuh penekanan.

Hati Sera berdenyut sakit, dan matanya sudah memanas menatap Stevan tak percaya. Kenapa Stevan kembali kasar padanya?

Setelah tiba di Italia, Stevan menjadi berbeda padanya. Apalagi akhir-akhir ini Stevan sering pulang malam, membuat Sera selalu berpikiran buruk.

Air mata Sera menetes membasahi tangan Stevan yang sedang mencengkram rahangnya.
Stevan seketika melepas cengkeramannya, lalu keluar dari kamar meninggalkan Sera yang menangis.

Untung saja kamar ini kedap suara, jadi Sergio tak mendengar bentakan Stevan padanya.

Sera menangis tergugu, tubuhnya seketika melemah dan terduduk di sisi ranjang. Merasakan hatinya berdenyut sakit, kebahagiaan Stevan perhatian padanya itu musnah.

Stevan berubah, dan menjadi kasar seperti dulu. Apakah Stevan sudah tak peduli lagi padanya? Serta anak mereka?

Ada apa dengan Stevan? Apa yang membuat pria itu berubah padanya?

CRAZY STEV! [21+] ENDTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang