Sera duduk dikursi taman, matanya menatap hamparan bunga Lily yang terlihat indah. Tatapan matanya begitu kosong, Sera masih dalam keadaan berduka tetapi Sera mencoba kuat karena ia tak mau membuat mendiang ibunya sedih.
Sudah dua hari sejak kematian ayahnya, tetapi pelakunya belum tertangkap. Sera tak tahu apakah harus percaya atau tidak pada Stevan.
"Kapan kau pergi dari sini?"
Suara seseorang dibelakangnya membuat Sera tersentak dan seketika lamunannya buyar. Sera menoleh, menatap Caroline yang sedang menatapnya penuh benci.
Caroline memang masih berada disini, dan semenjak Caroline ada disini Stevan tak tidur dengannya. Mungkin mereka tidur bersama, pikir Sera.
Sera terdiam ia tak tahu harus menjawab apa. Jujur, jika Stevan mengusirnya Sera akan pergi jauh meninggalkan Stevan dengan calon istrinya.
"Aku diam, bukannya tidak tahu ada hubungan apa kau dengan Stev" Kata Caroline terdengar menggeram marah.
Nafas Caroline memburu, menatap Sera penuh benci "Kau tahu? Bulan ini kita akan menikah. Jadi berhenti menggoda Stev, jalang kecil sepertimu tidak pantas dengan Stev." Kata Caroline.
Sera menunduk, hatinya berdenyut sakit. Ia melupakan jika Stevan akan menikah bulan ini dengan Caroline. Sera hanya boneka, ia tidak berhak meminta haknya.
Caroline mencengkeram lengan Sera kuat, sampai kuku tajamnya menusuk kulit Sera.
"Aku rasa, Stevan sudah benar-benar akan membuangmu karena ia sangat menyukai tidur denganku." Kata Caroline sinis membuat Sera menatapnya.
Caroline melepaskan cengkeramannya kasar, menatap Sera rendah.
"Jalang rendahan sepertimu seharusnya sadar diri!" Kata Caroline dengan kejamnya lalu pergi dari sana meninggalkan Sera.
Tangan Sera bergetar, matanya memanas, hatinya berdenyut sakit. Perkataan Caroline sungguh menamparnya, Sera seharusnya sadar diri.
Sera membuang pandangannya, memikirkan Stevan yang mungkin sebentar lagi akan membuangnya.
Kenapa tidak sekarang saja Stevan membuangnya? Kenapa harus nanti? Pikir Sera dengan senyuman mirisnya.
Sera menyerah, ibarat ia harus menaklukkan seorang raja untuk seorang budak rendahan.
Sera harap Stevan benar-benar mengusirnya, Sera tak mau menjadi parasit bagi hubungan Stevan dan Caroline yang akan segera menikah.
**
Stevan keluar dari mobilnya, berjalan memasuki mansion dengan setelan kerjanya, tetapi jas dan dasinya sudah raib entah kemana.
Berjalan menuju ruang makan, menatap seorang wanita cantik yang memakai lingerie sangat sexy.
"STEV?" Panggil Caroline senang melihat kedatangan Stevan.
Baru saja Caroline akan memeluk Stevan, tetapi pertanyaan Stevan membuat Caroline kesal.
"Dimana Sera?" Tanya Stevan pada bibi Mety yang berada disana.
"Nona Sera sedang makan malam di kamarnya tuan." Jawab bibi Mety sembari menundukkan kepalanya, tak berani menatap Stevan.
Tak biasanya Sera makan malam dikamar. Baru saja Stevan akan pergi dari sana tetapi Caroline menahan lengannya.
"Stev ayo makan malam." Ajak Caroline merengek manja menatap Stevan.
Stevan menatap Caroline datar
"Lepas." Katanya terdengar tak mau dibantah.
Caroline seketika melepaskan cekalannya, tatapan mata Stevan begitu tajam membuat Caroline ketakutan. Caroline menatap Stevan yang berjalan menuju lantai dua, Stevan terasa seperti seorang psychopath apalagi tatapannya yang begitu menyeramkan.
KAMU SEDANG MEMBACA
CRAZY STEV! [21+] END
RomansaWARNING : VULGAR, DARK ROMANCE, BDSM, DEWASA 21+ (TIDAK UNTUK ANAK DIBAWAH UMUR) Rasera Ryder hanya ingin hidup damai menikmati masa mudanya,berkencan, menikah, lalu mempunyai anak, membangun rumah tangga dengan suaminya kelak. Namun sangat disayang...
![CRAZY STEV! [21+] END](https://img.wattpad.com/cover/291305318-64-k685885.jpg)