Sera yang sedang duduk di sofa seketika menatap Stevan saat tiba-tiba Stevan memberinya sepiring salad buah yang terlihat segar. Menyimpannya di atas meja dengan suara yang keras membuat Sera terkejut yang sedang membaca novel.
Sera menatap Stevan bingung, kenapa Stevan tiba-tiba memberinya salad buah?
Stevan duduk dibelakang Sera, membawa Sera agar bersandar padanya. Hari ini weekend membuat Stevan tak berangkat ke kantor.
"Makan." Perintah Stevan membuat Sera mengambil piring salad itu ke pangkuannya, lalu mulai menyantapnya.
Stevan pikir Sera terlalu kurus seperti kekurangan gizi. Jadi ia meminta kepala pelayannya membuatkan salad buah untuk Sera.
Entah kenapa hati Sera menghangat, memikirkan jika ini mungkin sebagian perhatian kecil Stevan padanya.
Suara dering ponsel Stevan, membuat Sera penasaran. Siapa yang menelepon Stevan?
Stevan menatap layar ponselnya, Sergio meneleponnya membuat Stevan mendengus. Pasti ayahnya menanyakan dimana keberadaan Caroline? Atau mendesaknya untuk menikahi jalang itu.
Stevan menjawab panggilannya, malaudspeakernya dengan sengaja agar Sera mendengar percakapannya dengan ayahnya. Stevan hanya ingin mengetahui bagaimana reaksi Sera.
"Ya?" Jawab Stevan menyimpan ponselnya di pangkuan Sera dan merebut piring salad itu kembali menyimpannya diatas meja.
Sera terkejut dengan perlakuan Stevan tetapi ia mencoba tak bersuara.
"Dimana Caroline?"
Suara Sergio terdengar membuat Sera mengetahui jika yang menelpon Stevan adalah ayah pria itu.
Stevan tak menjawab, ia lebih memilih mengecupi leher dan bahu Sera membuat tubuh Sera meremang.
Sera juga penasaran dimana Caroline? Apakah perempuan itu sudah pergi ke negaranya? Pikir Sera.
"STEVAN!"
Sera terkejut karena bentakan Sergio, ia mencoba menahan tangan Stevan yang meremas payudaranya. Stevan sungguh gila kenapa harus melakukan ini saat sedang ditelpon ayahnya.
"Pernikahanmu sudah didepan mata. Jangan main-main Stevan!"
Sera seketika terdiam tak memberontak lagi, Sera ingat jika Stevan akan segera menikah dalam waktu dekat.
Stevan tersenyum smirk saat melihat Sera yang seketika terdiam saat mendengar perkataan ayahnya. Stevan membalikkan posisi Sera menjadi diatas pangkuannya, Sera tak memberontak karena masih dalam lamunannya.
Saat Stevan menurunkan gaun bagian atasnya seketika Sera tersadar dari lamunannya. Menahan Stevan yang akan melepas bra nya, tetapi sulit Stevan benar-benar tak mau dibantah.
"K-kakk.." Cicit Sera meremas rambut belakang Stevan saat Stevan melumat kedua payudaranya penuh nafsu. Sera merasakan tonjolan di bawah tubuhnya membuat Sera tak nyaman.
"Aku akan membunuhmu jika kau menyakiti Caroline!"
Stevan tak mendengarkan perkataan Sergio, ia lebih memilih memainkan kedua payudara Sera yang besar.
Sera menggigit bibir bawahnya, menahan desahannya yang akan keluar. Sera tak tahan, Stevan sungguh mempermainkannya.
"JANGAN BERMAIN-MAIN STEVAN!"
Bentak Sergio lalu seketika suara panggilan terputus terdengar membuat Sera menghela nafas lega.
"Kakk.." Sera memekik saat Stevan menyingkap dress nya.
"Kak aku lagi mens." Kata Sera saat Stevan akan membuka celananya.
Stevan seketika menghentikan kegiatannya, menatap Sera kesal. Ia sudah benar-benar berhasrat tetapi Sera sedang datang bulan. Sial. Pikir Stevan.
"A-aku serius." Kata Sera terbata karena Stevan menatapnya seolah tak percaya.
Stevan mendengus kesal, pantas saja ia merasa ada yang mengganjal di pusat inti Sera.
Stevan menurunkan Sera dari pangkuannya, membuat Sera setengah berdiri dilantai tetapi menghadap Stevan. Stevan menurunkan celananya membuat bukti gairahnya terlihat.
Sera menggigit bibir bawahnya pelan, memalingkan pandangannya. Ia tak mau melakukan itu lagi, karena terakhir kali melakukan itu Sera sampai merasa sesak di dadanya.
"Do it." Perintah Stevan mencengkeram rambut belakang Sera menghadapkannya tepat didepan miliknya yang menegang.
Sera menghembuskan nafasnya pelan, lalu mencoba memegang milik Stevan dengan tangan bergetar. Sera harap Stevan tak akan terlalu kasar seperti waktu itu.
Stevan menggeram, membantu Sera menaik turunkan kepalanya. Mencengkeram rambut Sera begitu kuat, tak memperdulikan Sera yang terlihat kesulitan bernafas.
Sera memejamkan matanya, ia sungguh takut mengenai giginya sendiri dan membuat Stevan marah. Sampai merasa milik Stevan mengembang, Sera membuka matanya mencoba melepaskan kulumannya karena tak mau menelan cairan itu.
Tetapi tanpa disangka Stevan sudah menarik kepalanya dan mengeluarkannya tak didalam mulut Sera.
Baru saja Sera bernafas lega tetapi seketika terkejut saat Stevan menyemburkan miliknya tanpa sengaja mengenai wajah Sera.
Stevan tersenyum miring melihat wajah Sera terkena cairan miliknya. Sera terlihat tertekan tetapi ia tak marah mungkin takut pada dirinya.
"Kak Stevv.." Rengek Sera terdengar menahan kesal tanpa sadar membuat Stevan tertawa.
Gila, karena hal seperti ini Sera berhasil membuat Stevan tertawa dihadapannya.
KAMU SEDANG MEMBACA
CRAZY STEV! [21+] END
RomanceWARNING : VULGAR, DARK ROMANCE, BDSM, DEWASA 21+ (TIDAK UNTUK ANAK DIBAWAH UMUR) Rasera Ryder hanya ingin hidup damai menikmati masa mudanya,berkencan, menikah, lalu mempunyai anak, membangun rumah tangga dengan suaminya kelak. Namun sangat disayang...
![CRAZY STEV! [21+] END](https://img.wattpad.com/cover/291305318-64-k685885.jpg)